{"id":892,"date":"2021-03-24T01:44:16","date_gmt":"2021-03-24T01:44:16","guid":{"rendered":"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/?p=892"},"modified":"2023-07-03T06:24:01","modified_gmt":"2023-07-03T06:24:01","slug":"purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/","title":{"rendered":"Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi"},"content":{"rendered":"<p>Sampai\u00a0 saat ini stigma negatif tentang epilepsi atau ayan masih melekat di masyarakat. Sebagian\u00a0 besar\u00a0 masyarakat\u00a0 masih menganggap epilepsi adalah penyakit menular dan tak bisa disembuhkan.<\/p>\n<p>\u201cDengan stigma itu, masyarakat cenderung menjauhi penderita\u00a0 epilepsi, dengan alasan takut tertular. Stigma masyarakat bahwa epilepsi\u00a0 bisa menular lewat air liur. Sehingga pada\u00a0 kasus\u00a0 penderita\u00a0 epilepsi saat terjadi\u00a0 serangan atau kejang orang\u00a0 takut mendekat atau memberi pertolongan\u00a0 dengan alasan takut tertular.\u00a0\u00a0 Stigma tersebut berdampak pada keluarga dari penderita epilepsi\u00a0 yang menutup-nutupi keadaan, sehingga penderita \u00a0epilepsi tidak bisa \u00a0tertangani secara optimal . Banyak penderita \u00a0epilepsi yang dikucilkan oleh lingkungan, terhambat karir dan kehidupan berumah tangganya.<\/p>\n<p><strong>Apa itu Epilepsi ?<\/strong><\/p>\n<p>Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf tertua, ditemukan pada semua umur dan dapat menyebabkan hendaya serta mortalitas. Penyakit Epilepsi atau\u00a0 ayan\u00a0 adalah suatu gangguan fungsi listrik otak yang ditandai oleh cetusan listrik secara berlebihan pada sekelompok atau sebagian besar sel-sel otak, sehingga \u00a0bisa timbul kejang, perubahan perilaku sesaat dan berulang. Pada umumnya serangan atau bangkitan epilepsi ditandai dengan pingsan dan\/ atau kejang secara berulang kali. Bangkitan lain selain kejang bisa tiba-tiba penderita bengong atau hilang kesadaran sesaat, mulut yang bergumam atau komat-kamit, sampai penderita \u00a0berteriak sendiri. \u00a0Gangguan pada pola aktivitas listrik otak saraf dapat terjadi karena beberapa hal. Baik karena kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, ataupun kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut.<\/p>\n<p><strong>Menurut data\u00a0 yang dikeluarkan International\u00a0 League Against Epilepsy (ILAE) tahun 2016 \u00a0jumlah penderita epilepsi di dunia mencapai 60 juta orang.<\/strong><\/p>\n<p>Di Negara berkembang, jumlahnya diperkirakan lebih tinggi dibandingkan di negara maju . Insiden epilepsi umumnya tinggi pada kelompok usia anak \u2013anak \u00a0dan lanjut usia, cenderung lebih tinggi pada pria daripada wanita. Data epidemiologi epilepsi di Indonesia masih terbatas. Estimasi penderita epilepsi di Indonesia adalah 1,5 juta dengan prevalesi 0,5-0,6% dari penduduk Indonesia. Frekuensi terjadinya epilepsi menurut usia di Indonesia juga sangat terbatas. Namun pada umumnya di negara berkembang sebaran penderita epilepsi banyak pada anak dan dewasa muda dibandingkan kelompok umur lainnya.<\/p>\n<p><strong>Kapan Seseorang didiagnosis Epilepsi ?<\/strong><\/p>\n<p>Seseorang\u00a0 dikatakan atau \u00a0\u00a0diagnosis epilepsi\u00a0 berdasarkan riwayat gejala klinis yang dialami oleh penderita. Hal ini diperoleh dari keterangan yang disampaikan oleh penderita sendiri, keluarga, atau orang terdekat yang menyaksikan saat penderita \u00a0epilepsi \u00a0mengalami bangkitan atau\u00a0 kejang. Epilepsi didiagnosis setelah seseorang mengalami sedikitnya dua kali bangkitan atau kejang-kejang yang tidak terkait dengan kondisi medis apa pun sebelumnya .Walaupun demikian tidak semua kejang dapat dikatakan sebagai <a href=\"https:\/\/www.klikdokter.com\/penyakit\/epilepsi\">epilepsi<\/a>. Diagnosis epilepsi baru dapat ditegakkan setelah dilakukan wawancara medis lengkap, pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti ct scan kepala atau MRI kepala . Pemeriksaan\u00a0 EEG atau rekam otak dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan pada impuls atau aktivitas listrik \/ elektrik di dalam otak yang menjadi penyebab terjadinya kejang. Pemeriksaan CT scan atau MRI kepala bertujuan untuk mengetahui adanya kelainan\u00a0 pada struktur otak sebagai penyebab epilepsi, ataupun penyebab sekundernya misalnya pada kasus\u00a0 tumor otak, stroke, infeksi otak, paska cedera kepala.<\/p>\n<p><strong>Apa Penyebab Epilepsi?<\/strong><\/p>\n<p>Epilepsi bisa terjadi pada semua usia, baik wanita atau pria. Berdasarkan penyebabnya, epilepsi dapat digolongkan menjadi:<\/p>\n<ul>\n<li>Epilepsi idiopatik, yaitu epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui.<\/li>\n<li>Epilepsi simptomatik, yaitu epilepsi yang terjadi akibat suatu penyakit yang menyebabkan kerusakan pada otak.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pada sebagian besar kasus epilepsi, tidak diketahui penyebab pastinya. Epilepsi jenis ini dikenal sebagai epilepsi idiopatik atau epilepsi primer. Pada epilepsi\u00a0 jenis ini tidak ditemukan kelainan di otak yang dapat menyebabkan epilepsi.<\/p>\n<p>Berbeda dengan epilepsi idiopatik, epilepsi simptomatik atau epilepsi sekunder merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan epilepsi simptomatik, di antaranya adalah cedera kepala,\u00a0<em>stroke<\/em>, tumor otak, infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis.<\/p>\n<p><strong>Apa saja Faktor Pencetus Kejang ?<\/strong><\/p>\n<p>Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kejang pada penderita epilepsi. Di antaranya adalah tidak mengonsumsi obat anti epilepsi (OAE) secara teratur, kurang tidur, kelelahan, terlambat makan, stress mengonsumsi obat yang mengganggu kinerja obat anti-epilepsi, demam tinggi, mengonsumsi minuman beralkohol atau NAPZA, saat menstruasi pada wanita, maupun kilatan cahaya.<\/p>\n<p><strong>Pengobatan\u00a0 Epilepsi <\/strong><\/p>\n<p>Tujuan utama pengobatan pada epilepsi adalah mengupayakan penderita epilepsi dapat hidup normal dan tercapai kualitas hidup optimal. Harapannya adalah penderita epilepsi bisa bebas kejang. Dengan pemberian obat anti anti epilepsi (OAE) dapat mencegah terjadinya kejang sehingga penderita\u00a0 dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dengan mudah dan aman. Banyak penderita Penyakit yang mengalami penurunan frekuensi kejang atau bahkan tidak mengalami kejang sama sekali selama bertahun-tahun setelah menjalani pengobatan dengan obat anti epilepsi (OAE). Setiap penderita epilepsi perlu selalu diingatkan tentang pentingnya pengobatan yang disiplin dan teratur .<\/p>\n<p>Masih banyak presepsi\u00a0 di masyarakat\u00a0 bahwa penyakit epilepsi tidak bisa disembuhkan. Padahal, penyakit epilepsi bisa diobati atau bisa terkontrol\u00a0\u00a0 dengan obat anti epilepsi (OAE). Keluarga penderita\u00a0 epilepsi atau penderita epilepsi masih sering menanyakan apakah anak saya atau saya bisa sembuh? Dengan pengobatan tepat\u00a0 dan sesuai, penyakit epilepsi dapat terkontrol dengan obat anti epilepsi \u00a0(OAE) dan bahkan sebagian bisa sembuh sempurna tanpa harus minum obat lagi. Penderita \u00a0epilepsi akan mendapatkan obat rutin berupa obat anti epilepsi (OAE) yang harus diminum setiap hari. Sehingga\u00a0 sering timbul banyak \u00a0pertanyaan\u00a0 sampai kapan obat harus diminum? Obat anti epilepsi (OAE) harus diminum rutin dan \u00a0bisa dihentikan dengan syarat tertentu. Penghentian obat anti epilepsi (OAE) dilakukan\u00a0 secara bertahap dapat dipertimbangkan setelah 3-5 tahun bebas kejang dan hasil rekam otak atau EEG normal.<\/p>\n<p><strong>Pembedahan Otak\/ Bedah epilepsi<\/strong><\/p>\n<p>Penelitian di pelbagai negara menunjukkan bahwa 60-80% epilepsi dapat diatasi dengan pemberian obat anti epilepsy (OAE).\u00a0 Sehingga masih \u00a0ada sekitar 20-40% pennderita\u00a0 epilepsi yang sulit dikendalikan dengan\u00a0 obat anti epilepsi (OAE) . Penderita epilepsi yang sulit\u00a0 dikendalikan dengan obat anti epilepsi\u00a0 disebut sebagai epilepsi\u00a0 intractable atau refrakter atau kebal terhadap obat anti epilepsi (OAE). Penderita sudah diberikan beberapa kombinasi\u00a0 obat anti epilepsi lebih dari 2 macam dan dosis sudah maksimal, \u00a0tetapi kejangnya masih belum bisa terkontrol, maka terapi bedah epilepsi \u00a0dapat dijadikan pilihan \u00a0pengobatan. Tindakan pembedahan otak atau bedah epilepsi dikerjakan oleh seorang dokter spesialis bedah saraf. Sebelum pelaksanaan\u00a0 tindakan pembedahan, seorang penderita epilepsi akan \u00a0\u00a0dilakukan serangkaian tes untuk menilai layak atau tidaknya penderita dilakukan tindakan pembedahan. Tidak \u00a0semua penderita epilepsi\u00a0 bisa dilakukan pembedahan otak atau bedah epilepsi.<\/p>\n<p>Bedah Epilepsi terbukti memberi manfaat berupa bebas kejang pada 70% orang dengan epilepsi\u00a0 refrakter, dan hanya 20% lainnya mengalami perbaikan dan berubahnya bentuk serangan menjadi lebih ringan. Selain itu\u00a0 setelah dilakukan bedah epilepsi obat yang diminum bisa dikurangi\u00a0 atau lebih minimal.<\/p>\n<p><strong>Bahaya Dari Penyakit Epilepsi<\/strong><\/p>\n<p>Epilepsi perlu penanganan \u00a0dengan tepat untuk menghindari terjadinya situasi yang dapat membahayakan jiwa. \u00a0Serangan atau kejang pada penderita \u00a0epilepsi dapat terjadi kapanpun dan di \u00a0manapun, di tempat-tempat yang tidak terduga sehingga \u00a0dapat membuat penderita berisiko mengalami \u00a0cedera kepala\u00a0 atau patah tulang akibat terjatuh saat kejang atau tenggelam. Selain bahaya cedera, penderita epilepsi dapat mengalami komplikasi seperti kejang\u00a0 yang lama \u00a0atau status epileptikus dan kematian mendadak.<\/p>\n<p><strong>Pertolongan Pertama Pada Kejang<\/strong><\/p>\n<p>Apa yang dapat\u00a0 kita lakukan\u00a0 apabila kebetulan kita berada dekat penderita \u00a0epilepsi yang sedang mengalami kejang :<\/p>\n<ul>\n<li>Posisikan pasien\u00a0 yang kejang di tempat aman \u00a0dan datar, jauhkan benda-benda keras yang dapat \u00a0melukai pasien<\/li>\n<li>Minta pertolongan orang sekitar untuk menghubungi tenaga kesehatan terdekat<\/li>\n<li>Pakaian atau\u00a0 baju dilonggarkan agar memudahkan pernafasan<\/li>\n<li>Badan\u00a0 pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairan dari mulut<\/li>\n<li>Jangan menahan \u00a0gerakan pasien saat kejang<\/li>\n<li>Hindari posisi tubuh telungkup karena akan menghambat pasien bernapas<\/li>\n<li>Dampingi penderita sampai kejang berhenti<\/li>\n<li>Hindari memberikan \u00a0makan atau minum<\/li>\n<li>Hindari menaruh sendok atau benda lain ke dalam mulut pasien<\/li>\n<\/ul>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-893 aligncenter\" src=\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/world-epilepsy-day-purple-ribbon-epilepsy-symbol_177761-61-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/world-epilepsy-day-purple-ribbon-epilepsy-symbol_177761-61-300x300.jpg 300w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/world-epilepsy-day-purple-ribbon-epilepsy-symbol_177761-61-150x150.jpg 150w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/world-epilepsy-day-purple-ribbon-epilepsy-symbol_177761-61.jpg 626w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><strong>Hari Epilepsi\u00a0 Sedunia <\/strong><\/p>\n<p><em>Purple Day for Epilepsy\u00a0Awareness Day<\/em> atau Hari Epilepsi Sedunia\u00a0merupakan suatu gerakan internasional yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran mengenai penyakit epilepsi ke seluruh dunia, yang dirayakan setiap tanggal 26 Maret setiap tahunnya dengan memakai atribut berwarna ungu. Kenapa\u00a0<em>purple<\/em>? Karena warna ungu adalah refleksi dari bunga lavender yang menjadi lambang internasional untuk epilepsi. Bunga lavender juga memiliki simbol kesendirian, yang mewakili para penyandang epilepsi yang seringkali merasa terisolasi karena kondisi mereka.<\/p>\n<p>Perayaan Purple Day untuk memperingati Hari Epilepsi Sedunia, sebagai tanda menumbuhkan rasa kepedulian kita terhadap penderita epilepsi. \u00a0Perayaan Purple Day diharapkan\u00a0 bisa menyadarkan masyarakat untuk tidak mengucilkan penderita epilepsi dan menghapus stigma negatif tentang epilepsi, yang selama ini beredar di masyarakat. \u00a0Selain itu kegiatan ini untuk mendorong para penyandang epilepsi dan keluarga untuk berani tampil dan mengembangkan potensi terbaik mereka.<\/p>\n<p><strong>Selamat Hari Epilepsi Sedunia!<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Artikel ini ditulis oleh:<br \/>\n<strong>dr. Michael Agus, SpS<br \/>\n<\/strong>(Dokter Spesialis Saraf <a href=\"http:\/\/www.pantirapih.or.id\/\">Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta<\/a>)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Informasi Pelayanan :\u00a0<\/strong><br \/>\n<strong>Klinik Saraf<\/strong><br \/>\nLantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus <a href=\"http:\/\/www.pantirapih.or.id\/\">RS Panti Rapih<\/a>\u00a0Yogyakarta<\/p>\n<p><strong>Pendaftaran :<\/strong><br \/>\nPendaftaran 24 Jam (0274) 514004 \/ 514006<br \/>\nAplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)<\/p>\n<table style=\"width: 400px;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td><a href=\"https:\/\/play.google.com\/store\/apps\/details?id=com.rspr.rspr_online\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-4902\" src=\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/1-300x113.png\" alt=\"\" width=\"162\" height=\"61\" srcset=\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/1-300x113.png 300w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/1-1024x384.png 1024w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/1-768x288.png 768w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/1-1536x576.png 1536w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/1-2048x768.png 2048w\" sizes=\"(max-width: 162px) 100vw, 162px\" \/><\/a><\/td>\n<td><a href=\"https:\/\/apps.apple.com\/id\/app\/pantirapihku\/id1670092715\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-4903\" src=\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-300x113.png\" alt=\"\" width=\"162\" height=\"61\" srcset=\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-300x113.png 300w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-1024x384.png 1024w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-768x288.png 768w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-1536x576.png 1536w, https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-2048x768.png 2048w\" sizes=\"(max-width: 162px) 100vw, 162px\" \/><\/a><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sampai\u00a0 saat ini stigma negatif tentang epilepsi atau ayan masih melekat di masyarakat. Sebagian\u00a0 besar\u00a0 masyarakat\u00a0 masih menganggap epilepsi adalah penyakit menular dan tak bisa disembuhkan. \u201cDengan stigma itu, masyarakat cenderung menjauhi penderita\u00a0 epilepsi, dengan alasan takut tertular. Stigma masyarakat bahwa epilepsi\u00a0 bisa menular lewat air liur. Sehingga pada\u00a0 kasus\u00a0 penderita\u00a0 epilepsi saat terjadi\u00a0 serangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":894,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rating_form_position":"","rating_results_position":"","mr_structured_data_type":""},"categories":[2],"tags":[202,203,204,206,205],"multi-rating":{"mr_rating_results":[{"adjusted_star_result":5,"star_result":5,"total_max_option_value":5,"adjusted_score_result":5,"score_result":5,"percentage_result":100,"adjusted_percentage_result":100,"count":3,"post_id":892}]},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v15.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi - Rumah Sakit Panti Rapih<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Rumah Sakit Panti Rapih Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi Artikel Kesehatan\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi - Rumah Sakit Panti Rapih\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Rumah Sakit Panti Rapih Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi Artikel Kesehatan\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Rumah Sakit Panti Rapih\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/pantirapihhospital\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-03-24T01:44:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-07-03T06:24:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/world_epilepsy_awareness_day.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"755\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"425\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Est. reading time\">\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"7 minutes\">\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#organization\",\"name\":\"Rumah Sakit Panti Rapih\",\"url\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/pantirapihhospital\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/rspantirapihyogyakarta\/\",\"https:\/\/www.youtube.com\/c\/RSPantiRapih\",\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rumah_Sakit_Umum_Panti_Rapih\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#logo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/RS-Panti-Rapih-Thumbnail.jpg\",\"width\":400,\"height\":400,\"caption\":\"Rumah Sakit Panti Rapih\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#website\",\"url\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/\",\"name\":\"Rumah Sakit Panti Rapih\",\"description\":\"Sahabat Untuk Hidup Sehat\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/world_epilepsy_awareness_day.jpg\",\"width\":755,\"height\":425,\"caption\":\"International or world Epilepsy Day concept. The text and a purple ribbon with female hands on a white wooden table background. The health, breast, awareness, campaign, disease, help, care, support, hope, illness, survivor, healthcare concept\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#webpage\",\"url\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/\",\"name\":\"Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi - Rumah Sakit Panti Rapih\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2021-03-24T01:44:16+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-03T06:24:01+00:00\",\"description\":\"Rumah Sakit Panti Rapih Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi Artikel Kesehatan\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/\",\"url\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/\",\"url\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/\",\"name\":\"Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#\/schema\/person\/11b91a9705a3fa42038bdb3adf2ad9db\"},\"headline\":\"Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi\",\"datePublished\":\"2021-03-24T01:44:16+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-03T06:24:01+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#webpage\"},\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#primaryimage\"},\"keywords\":\"epilepsi,epilepsi idiopatik,epilepsi simptomatik,Hari Epilepsi Sedunia,purple day\",\"articleSection\":\"Artikel Kesehatan\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/purple-day-hapus-stigma-negatif-tentang-epilepsi\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#\/schema\/person\/11b91a9705a3fa42038bdb3adf2ad9db\",\"name\":\"admin pantirapih\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2550f0e0274cea6119ffb0dbeae56f7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin pantirapih\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/892"}],"collection":[{"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=892"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/892\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5228,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/892\/revisions\/5228"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/media\/894"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=892"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=892"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=892"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}