{"id":185,"date":"2020-11-03T07:45:51","date_gmt":"2020-11-03T07:45:51","guid":{"rendered":"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/?page_id=185"},"modified":"2026-03-11T07:23:32","modified_gmt":"2026-03-11T07:23:32","slug":"tentang-kami","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/","title":{"rendered":"Tentang Kami"},"content":{"rendered":"<div id=\"pl-185\"  class=\"panel-layout\" ><div id=\"pg-185-0\"  class=\"panel-grid panel-has-style\" ><div class=\"siteorigin-panels-stretch panel-row-style-full-width panel-row-style panel-row-style-for-185-0\" data-stretch-type=\"full-width-stretch\" ><div id=\"pgc-185-0-0\"  class=\"panel-grid-cell\" ><div id=\"panel-185-0-0-0\" class=\"so-panel widget widget_sow-editor panel-first-child panel-last-child\" data-index=\"0\" ><div class=\"panel-widget-style panel-widget-style-for-185-0-0-0\" ><div\n\t\t\t\n\t\t\tclass=\"so-widget-sow-editor so-widget-sow-editor-base\"\n\t\t\t\n\t\t>\n<div class=\"siteorigin-widget-tinymce textwidget\">\n\t<h1 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #ffffff;\">TENTANG KAMI<\/span><\/h1>\n<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><div id=\"pg-185-1\"  class=\"panel-grid panel-no-style\" ><div id=\"pgc-185-1-0\"  class=\"panel-grid-cell\" ><div id=\"panel-185-1-0-0\" class=\"so-panel widget widget_sow-editor panel-first-child panel-last-child\" data-index=\"1\" ><div\n\t\t\t\n\t\t\tclass=\"so-widget-sow-editor so-widget-sow-editor-base\"\n\t\t\t\n\t\t><h3 class=\"widget-title\">Sejarah Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta<\/h3>\n<div class=\"siteorigin-widget-tinymce textwidget\">\n\t<p>Pada awal <strong>abad ke-18<\/strong>, Yogyakarta merupakan daerah misi yang baru berkembang, di mana ajaran Katolik mulai menyebar di kalangan masyarakat setempat. Romo Frans van Lith, SJ (1863-1926), adalah salah satu tokoh utama dalam penyebaran ajaran ini. Melalui Xaverius College di Muntilan, beliau berhasil membina jaringan \"rasul awam,\" yaitu murid-murid yang memiliki semangat tinggi untuk menyebarkan warta gembira tentang Kerajaan Allah kepada masyarakat di sekitar tempat asal mereka. Berkat usaha keras para rasul awam tersebut, lambat laun masyarakat Yogyakarta mulai menerima dan menginginkan ajaran agama Katolik.<\/p>\n<p><strong>Pada akhir tahun 1914<\/strong>, seorang murid Muntilan yang berasal dari Yogyakarta mengajak seorang romo untuk memberikan pelajaran agama di rumah orang tuanya. Peristiwa ini menjadi cikal bakal terbentuknya kegiatan pengajaran agama Katolik di Yogyakarta, yang secara bertahap berkembang lebih teratur.<\/p>\n<p><strong>Pada tahun 1917<\/strong>, didirikan sebuah sekolah dasar Katolik di Kumendaman, Yogyakarta, yang kemudian berkembang pesat. <strong>Pada 1 Agustus 1918<\/strong>, dibuka dua HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Yogyakarta, yang menunjukkan minat besar masyarakat untuk menerima pendidikan Katolik. Dalam waktu singkat, HIS ini menarik perhatian banyak orang, meskipun fasilitasnya masih sederhana.\u00a0Melihat perkembangan ini, para misionaris Katolik mulai mempertimbangkan untuk mendirikan sebuah rumah sakit sebagai bagian dari misi mereka. Keinginan ini semakin kuat setelah Romo Frans Strater, SJ, berusaha meluaskan Kerajaan Allah hingga ke desa-desa sekitar Yogyakarta. Pendirian rumah sakit dipandang sebagai sarana penting untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, serta sebagai cara untuk mewujudkan kasih Allah di tengah-tengah umat-Nya.<\/p>\n<p>Namun, upaya mendirikan rumah sakit tidak berjalan mulus. <strong>Pada tahun 1921<\/strong>, para pengurus Gereja Yogyakarta akhirnya meminta bantuan kepada Kongregasi Suster-suster Carolus Borromeus (CB) dari Maastricht, Belanda, untuk mengelola rumah sakit tersebut. Keluarga Schmutzer, yang memiliki hubungan erat dengan Kongregasi CB, turut membantu dalam proses ini. Keluarga ini tidak hanya menyediakan dana, tetapi juga memberikan pengaruh besar dalam pembangunan rumah sakit, yang diberi nama \"Onder de Bogen,\" yang artinya \"di bawah lengkungan.\" Nama ini sebetulnya merupakan nama gedung biara pusat kongregasi di Maastricht.<\/p>\n<p>Proses pendirian rumah sakit ini mencapai puncaknya pada <strong>17 September 1928<\/strong>, ketika dilakukan upacara peletakan batu pertama oleh Nyonya C.T.M. Schmutzer. Kehormatan yang diberikan kepada keluarga Schmutzer itu tidak dapat dilepaskan dari peran besarnya selama dilakukan usaha untuk merealisasi berdirinya rumah sakit \"Onder de Bogen\". Bahkan, sebagai penghargaan kepada administratur pabrik gula Gondang Lipoera itu, bentuk bangunan rumah sakit pun dibuat berdasarkan gagasannya (Ir. J.R.A.M. Schmutzer) yang ingin menyamakan bentuknya dengan bangunan biara induk CB di Maastricht. Selain itu, penyamaan bentuk bangunan juga dimaksudkan sebagai tanda kegembiraan dan terimakasih umat Katholik di Yogyakarta atas kesediannya berkarya meningkatkan masyarakat Yogyakarta.<\/p>\n<p>Pada bulan<strong> Januari 1929<\/strong>, lima orang suster CB tiba di Yogyakarta untuk mengelola rumah sakit ini. Kelima suster itu adalah Moeder Gaudentia, Brand, Sr. Yudith de Laat, Sr. Ignatia Lemmens, Sr. Simonia dan Sr. Ludolpha de Groot. Pembangunan fisik rumah sakit selesai pada bulan Agustus 1929, dengan fasilitas yang terdiri dari unit kamar bedah, dapur, kapel, dan rumah biara kecil untuk para suster. Dengan selesainya proses pembangunan fisik rumah sakit, maka pada tanggal <strong>24 Agustus 1929<\/strong> diadakan upacara pemberkatan yang dipimpin oleh Mgr. A.P.F. van Velsen, SJ. Meskipun rumah sakit masih terus dikembangkan, keberadaannya sejak awal telah menjadi simbol nyata dari misi kemanusiaan dan kasih Allah di Yogyakarta.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\" wp-image-218 alignleft\" src=\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/sejarah1.gif\" alt=\"\" width=\"313\" height=\"586\" \/><\/p>\n<p>Akhirnya, pada <strong>14 September 1929<\/strong>, Rumah Sakit \"Onder de Bogen\" diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menandai dimulainya pelayanan kesehatan yang inklusif di Yogyakarta. Awalnya, rumah sakit ini melayani kalangan tertentu, tetapi dorongan dari pimpinan Kongregasi Suster CB di Maastricht untuk membuka akses bagi semua lapisan masyarakat, terutama kaum miskin, menjadi tonggak penting dalam sejarah rumah sakit ini.<\/p>\n<p>Pada <strong>tahun 1939<\/strong>, dibangun bangsal baru yang diberi nama Bangsal Anna, dan bersamaan dengan itu didirikan juga sekolah untuk melatih tenaga perawat kesehatan, dikenal sebagai Mantri Jururawat. Namun, situasi politik dunia yang semakin memanas membawa perubahan besar. Pada <strong>tahun 1942<\/strong>, Jepang menduduki Indonesia dan mengambil alih banyak lembaga termasuk rumah sakit ini.\u00a0Selama masa pendudukan Jepang, pada<strong> 15 Desember 1943<\/strong>, Rumah Sakit Panti Rapih (nama baru yang diberikan oleh Mgr. Soegijapranata, SJ untuk menggantikan nama Belanda) diambil alih oleh pemerintah Jepang. Rumah sakit ini kemudian diubah menjadi rumah sakit militer, dan para suster yang mengelolanya dipaksa untuk pindah, meskipun mereka akhirnya diperbolehkan tetap tinggal di kompleks rumah sakit setelah bernegosiasi dengan tentara Jepang.<\/p>\n<p>Setelah masa pendudukan Jepang berakhir, Rumah Sakit Panti Rapih kembali ke tangan pengelola aslinya dan terus melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang. Hingga saat ini rumah sakit yang dulu dikenal dengan nama \"Onder de Bogen\" terus berkembang dan menjadi salah satu rumah sakit terkemuka di Yogyakarta, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan pelayanan tanpa diskriminasi.<\/p>\n<blockquote>\n<p><strong>Sejarah ini menunjukkan dedikasi yang kuat dari para misionaris dan suster dalam memberikan pelayanan kesehatan dan mewujudkan kasih sayang kepada sesama.<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Sumber:<br \/>\nDari Onder de Bogen ke Panti Rapih<br \/>\n14 September 1999<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter\" src=\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/Gedung-Rawat-Jalan-Borromeus-RS-Panti-Rapih.jpg\" alt=\"Gedung Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta\" width=\"637\" height=\"416\" \/><\/p>\n\n<table id=\"tablepress-2\" class=\"tablepress tablepress-id-2\">\n<thead>\n<tr class=\"row-1 odd\">\n\t<th class=\"column-1\">Tanggal berdiri<\/th><th class=\"column-2\">14 September 1929<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody class=\"row-hover\">\n<tr class=\"row-2 even\">\n\t<td class=\"column-1\">Luas Area Rumah Sakit<\/td><td class=\"column-2\">42.093 m2<\/td>\n<\/tr>\n<tr class=\"row-3 odd\">\n\t<td class=\"column-1\">Luas Bangunan<\/td><td class=\"column-2\">62.875,5 m2<\/td>\n<\/tr>\n<tr class=\"row-4 even\">\n\t<td class=\"column-1\">Alamat<\/td><td class=\"column-2\">Jalan Cik Di Tiro 30, Kel. Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Prop. Daerah Istimewa Yogyakarta<\/td>\n<\/tr>\n<tr class=\"row-5 odd\">\n\t<td class=\"column-1\">Tipe Rumah Sakit<\/td><td class=\"column-2\">Tipe B<\/td>\n<\/tr>\n<tr class=\"row-6 even\">\n\t<td class=\"column-1\">Akreditasi KARS<\/td><td class=\"column-2\">Tingkat Paripurna<\/td>\n<\/tr>\n<tr class=\"row-7 odd\">\n\t<td class=\"column-1\">Kapasitas Bed<\/td><td class=\"column-2\">300 dengan rincian 228 Rawat Inap Biasa, 47 Rawat Inap Intensif, 25 Ruang Isolasi<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<!-- #tablepress-2 from cache -->\n<p style=\"text-align: center;\">Rating untuk artikel\/halaman ini : <span class=\"rating-result  mr-shortcode rating-result-185\">\t<span class=\"mr-star-rating\">\t\t\t    <i class=\"fas fa-star mr-star-full\"><\/i>\t    \t    <i class=\"fas fa-star mr-star-full\"><\/i>\t    \t    <i class=\"fas fa-star mr-star-full\"><\/i>\t    \t    <i class=\"fas fa-star mr-star-full\"><\/i>\t    \t    <i class=\"fas fa-star mr-star-full\"><\/i>\t    <\/span><span class=\"star-result\">\t4.91\/5<\/span>\t\t\t<span class=\"count\">\t\t\t\t(140)\t\t\t<\/span>\t\t\t<\/span><\/p>\n<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TENTANG KAMI Pada awal abad ke-18, Yogyakarta merupakan daerah misi yang baru berkembang, di mana ajaran Katolik mulai menyebar di kalangan masyarakat setempat. Romo Frans van Lith, SJ (1863-1926), adalah salah satu tokoh utama dalam penyebaran ajaran ini. Melalui Xaverius College di Muntilan, beliau berhasil membina jaringan &#8220;rasul awam,&#8221; yaitu murid-murid yang memiliki semangat tinggi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":396,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"templates\/template-full-notitle.php","meta":{"rating_form_position":"","rating_results_position":"","mr_structured_data_type":""},"multi-rating":{"mr_rating_results":[{"adjusted_star_result":4.910000000000000142108547152020037174224853515625,"star_result":4.910000000000000142108547152020037174224853515625,"total_max_option_value":5,"adjusted_score_result":4.910000000000000142108547152020037174224853515625,"score_result":4.910000000000000142108547152020037174224853515625,"percentage_result":98.2900000000000062527760746888816356658935546875,"adjusted_percentage_result":98.2900000000000062527760746888816356658935546875,"count":140,"post_id":185}]},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v15.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Tentang Kami - Rumah Sakit Panti Rapih<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta melayani kesehatan masyarakat Jogja. Berlokasi di Jl Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223. Telepon 0274 563333, 514014, 514845\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tentang Kami - Rumah Sakit Panti Rapih\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta melayani kesehatan masyarakat Jogja. Berlokasi di Jl Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223. Telepon 0274 563333, 514014, 514845\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Rumah Sakit Panti Rapih\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/pantirapihhospital\/\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-03-11T07:23:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/Gedung-Rawat-Jalan-Borromeus-RS-Panti-Rapih.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"960\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"627\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Est. reading time\">\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 minutes\">\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#organization\",\"name\":\"Rumah Sakit Panti Rapih\",\"url\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/pantirapihhospital\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/rspantirapihyogyakarta\/\",\"https:\/\/www.youtube.com\/c\/RSPantiRapih\",\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rumah_Sakit_Umum_Panti_Rapih\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#logo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/RS-Panti-Rapih-Thumbnail.jpg\",\"width\":400,\"height\":400,\"caption\":\"Rumah Sakit Panti Rapih\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#website\",\"url\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/\",\"name\":\"Rumah Sakit Panti Rapih\",\"description\":\"Sahabat Untuk Hidup Sehat\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/Gedung-Rawat-Jalan-Borromeus-RS-Panti-Rapih.jpg\",\"width\":960,\"height\":627},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/#webpage\",\"url\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/\",\"name\":\"Tentang Kami - Rumah Sakit Panti Rapih\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2020-11-03T07:45:51+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-11T07:23:32+00:00\",\"description\":\"Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta melayani kesehatan masyarakat Jogja. Berlokasi di Jl Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223. Telepon 0274 563333, 514014, 514845\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/\",\"url\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/\",\"url\":\"http:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/tentang-kami\/\",\"name\":\"Tentang Kami\"}}]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/185"}],"collection":[{"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=185"}],"version-history":[{"count":26,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/185\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9230,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/185\/revisions\/9230"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/media\/396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pantirapih.or.id\/rspr\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}