Kanker Kolorektal: Deteksi Dini, Yuk! 5/5 (1)

Kanker kolorektal atau yang lebih sering disebut kanker usus besar merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar hingga ujung anus. Kanker kolorektal saat ini menjadi kanker terbanyak keempat di Indonesia, dan kanker terbanyak ketiga di dunia. Tingginya kejadian kanker kolorektal ini perlu menjadi perhatian. Kanker kolorektal dapat berasal dari polip di usus besar yang berkembang menjadi kanker. Apabila semakin berlanjut, kanker kolorektal dapat meluas ke bagian tubuh lain, terutama liver dan paru sehingga akan semakin sulit dalam terapinya.

Angka harapan hidup pasien tinggi bila kanker kolorektal terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pasien  kanker kolorektal baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup menjadi sangat jauh berkurang. Maka dari itu deteksi dini serta tatalaksana yang tepat oleh ahli di bidang digestive dilakukan sedini mungkin dan hal ini merupakan kunci dari tatalaksana kanker kolorektal.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Peran genetik masih berperan penting dari terjadinya kanker kolorektal. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker kolorektal, maka anggota keluarga lain berisiko terkena kanker kolorektal. Usia diatas 50 tahun menjadi salah satu faktor risiko dari kanker kolorektal. Namun, tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga terkena kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang dianut seperti merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebih, konsumsi alkohol, serta konsumsi rendah serat yang juga meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Riwayat penyakit saluran cerna seperti polip dan inflamasi usus juga menjadi faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Tanda dan gejala awal dari kanker kolorektal memanglah tidak spesifik. Biasanya, pasien awalnya hanya merasa nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit di perut dan rasa terbakar di ulu hati, yang sering kali dianggap sebagai gejala maag. Mual muntah, lemas, serta adanya penurunan berat badan yang relatif cepat (sekitar 5-10 kg) dalam 3 bulan terakhir juga dapat terjadi pada pasien kanker kolorektal. Gejala diare dan anemia lebih sering terjadi apabila kanker terjadi pada usus besar sisi kanan, sedangkan gejala sulit BAB dan BAB mringkil (bulat dan berukuran kecil-kecil) lebih sering terjadi pada kanker yang berlokasi di usus besar sisi kiri. Keluhan BAB bercampur darah menjadi spesifik mengarah ke kanker kolorektal.

Bila memiliki faktor risiko seperti: riwayat keluarga maupun gejala di atas, ada baiknya untuk lebih waspada dan sangat disarankan untuk dilakukan konsultasi ke dokter. Apabila belum memiliki tanda dan gejala yang khas, anda dapat melakukan skrining yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tinja di laboratorium secara berkala untuk mendeteksi adanya darah atau tidak pada tinja. Skrining lebih lanjut seperti kolonoskopi (melihat usus besar dengan alat) dan CT Scan (untuk mengetahui stadium dan penyebaran ke liver) dapat dilakukan pada pasien yang sudah memiliki gejala. Jika pada kolonoskopi ditemukan polip, maka polip tersebut dilakukan pengangkatan dan diperiksa ganas atau tidak. Jika ternyata ditemukan sel-sel ganas, maka tindakan operasi menjadi pilihan utama sebagai terapi definitif.

Dalam operasi kanker kolorektal, dilakukan pemotongan tumor pada usus yang juga meliputi kelenjar dan pembuluh darah yang terlibat, kemudian dilakukan penyambungan kembali yang biasanya dilakukan pada stadium awal. Teknik operasi lainnya juga dapat dilakukan pembuatan lubang pembuangan tinja (stoma) pada perut yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Stoma sementara (temporary) dibuat apabila saat operasi tidak dapat langsung dilakukan penyambungan usus karena kondisi pasien yang dapat menyebabkan kebocoran, sedangkan stoma permanen dibuat pada kondisi pasien yang sudah berada di stadium lanjut dimana sulit untuk dilakukan penyambungan. Setelah dilakukan operasi, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi dilakukan untuk melengkapi tindakan operatif yang telah dilakukan sehingga terapi terhadap pasien lebih paripurna. Kemoterapi biasanya diberikan pada pasien yang berada pada stadium awal.

Pemahaman terhadap deteksi dini, penemuan penyakit pada stadium awal, serta terapi yang tepat dan paripurna (yang meliputi operatif dan kemoterapi) akan memberikan hasil yang maksimal dan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada anda yang memiliki tanda/gejala atau memiliki faktor-faktor risiko seperti yang telah disebutkan untuk melakukan deteksi dini.

 

Ditulis oleh:
Dr. dr. Adeodatus Yuda H, Sp.B – KBD
(Dokter  Bedah Konsultan Bedah Digestif  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Bedah Digestif
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Hipertiroidisme dan Manifetasi Klinisnya 5/5 (3)

Suatu ketika datang kepada saya seorang wanita muda usia 24 tahun dengan keluhan berat badan yang menurun hampir 4 kg dalam 1 bulan dan cepat capai disertai frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari tanpa diare. Pasien merasa bahwa dirinya terkena penyakit kencing manis, tetapi pada saat dilakukan pemeriksaan gula darah sesaat, ternyata hanya 95 mg/dL. Dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium akhirnya didapatkan diagnose pasien tersebut adalah penderita Hipertiroid dan dengan penanganan yang tepat, gejala yang dirasakannya membaik dan berat badan kembali normal.

Kondisi seperti pasien tersebut banyak didapatkan dalam praktek sehari-hari. Hipertiroid adalah istilah yang menggambarkan adanya produksi hormone tiroid yang berlebihan sehingga menimbulkan gejala klinis. Kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar hormone yang terletak di leher, berbentuk seperti kupu-kupu. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang dikenal sebagai Free T4 dan Free T3 atas stimulasi dari Tiroid Stimulating Hormone (TSH) dari kelenjar hipofise. Hormon tiroid bertanggung jawab atas berbagai metabolisme dalam tubuh. Apabila tubuh mengalami kelebihan hormone ini disebut hipertiroid dan bila kekurangan disebut hipotiroid.

Penderita dengan hipertiroid akan menunjukkan gejala-gejala penurunan berat badan, tidak tahan terhadap cuaca panas, rambut rontok, jantung berdebar-debar, sering buang air besar, dan tangan gemetar. Mata yang tampak menonjol (exopthalmus) juga sering ditemukan pada penyakit Graves’ . Kondisi seperti ini disebabkan tertimbunnya jaringan lemak di belakang bola mata yang akan mendorong mata keluar sehingga batas atas kornea tidak tertutup kelopak mata. Sekilas terlihat seperti orang yang sedang marah.  Untuk menegakkan diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kadar Free T4 dan TSHs.  Apabila didapatkan kadar Free T4 yang meningkat dan kadar TSHs yang rendah, maka disebut Hipertiroidisme. Peningkatan kadar free T4 tidak selalu berkorelasi dengan besar-kecilnya kelenjar tiroid. Penyebab hipertiroidisme ini antara lain karena penyakit Graves’ atau autoimun dan  peradangan pada kelenjar tiroid (tiroiditis). Pembesaran kelenjar tiroid pada penyakit Graves’ umumnya bersifat difus atau merata dan teraba lunak. Pada tumor tiroid benjolan teraba keras, bahkan tidak disertai kelainan fungsi tiroid.

Kegawatan yang terjadi pada kondisi hipertiroid disebab Krisis tiroid atau badai tiroid. Kasus ini jarang dijumpai, bahkan pengalaman penulis selama menjalani tugas sebagai dokter penyakit dalam baru dua kasus yang dijumpai. Krisi tiroid terjadi akibat pengeluaran hormone tiroid yang berlebihan, biasanya dipicu oleh infeksi berat, tindakan operasi atau manipulasi kelenjar tiroid yang berlebihan. Kondisi ini memerlukan perawatan di ruang perawatan intensif dan pasien selalu disertai demam.

Penanganan hipertiroid dapat dilakukan dengan obat-obatan, iodium radioaktif atau pembedahan. Obat yang sering digunakan adalah Propil Thyouracil atau Metimazole yang bisa diberikan sampai jangka waktu yang lama. Monitoring kadar free T4 secara periodik diperlukan untuk mengevaluasi dosis obat yang diberikan. Apabila dengan dosis terkecil, kadar Free T4 berada pada kisaran normal, obat bisa diberhentikan dulu tetapi monitoring kadar Free T4 tetap dilakukan karena ada kalanya kondisi tersebut relaps (kambuh). Pengobatan dengan Iodium radioaktif masih sering dikhawatirkan oleh sebagian pasien. Pengobatan ini tidak perlu dikhawatirkan karena pada prinsipnya hanya memberikan Iodium radioaktif dengan dosis kecil di mana radioaktif tersebut akan mematikan sel-sel kelenjar tiroid yang memproduksi hormon secara berlebihan. Efek samping yang mungkin timbul apabila semua sel-sel kelenjar tiroid tidak berfungsi, maka akan timbul kondisi Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid dan harus minum Levothyroxin seumur hidup. Pengobatan ini menjadi kompetensi dokter spesialis kedokteran nuklir. Operasi atau pembedahan pada dasarnya hanya untuk mengurangi volume atau besarnya kelenjar tiroid, jadi lebih bersifat kosmetik. Berbeda pada tumor ganas tiroid, pembedahan sifatnya harus dilakukan dan secara radikal atau total dan semua jaringan tiroid akan diambil beserta kelenjar getah bening di sekitarnya,  selanjutnya juga dilakukan pengobatan dengan iodium radioaktif untuk mematikan sel-sel ganas yang masih tersisa.

Hal yang terpenting bagi pasien hipertiroid apapun sebabnya, minum obat secara teratur dan monitoring kadar hormone tiroid secara berkala sangat diperlukan. Konsultasi dengan dokter yang menangani akan membantu keberhasilan terapi.

Ditulis oleh:
dr. FX. Suharnadi, SpPD-KEMD
(Dokter Spesialis Penyakit Dalam-Endokrinologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Penyakit Dalam
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Rating untuk artikel/halaman ini : 5/5 (3)

Mohon dapat memberikan rating