Nyeri Pinggang 3/5 (2)

Nyeri pinggang adalah gejala yang sering dirasakan namun sering pula diremehkan. Padahal nyeri pinggang dapat menjadi pertanda awal adanya suatu penyakit yang serius. Nyeri pinggang seringkali berhubungan dengan penyakit pada saluran kemih, diantaranya adalah batu saluran kemih, sumbatan pada saluran kemih bagian atas, dan infeksi ginjal (Pielonefritis). Selain itu, penyakit saluran cerna (gangguan usus, kandung empedu, pankreas), penyakit kandungan (kehamilan ektopik, kista ovarium yang terpuntir) dan penyakit saraf juga dapat memberikan gejala nyeri pinggang. Risiko seseorang mengalami BSK sepanjang hidupnya adalah sekitar 5-10%, dimana kejadian pada laki-laki lebih tinggi dari wanita (3:1). Beberapa faktor yang diketahui meningkatkan kejadian terbentuknya BSK antara lain riwayat keluarga dengan BSK, riwayat hipertensi, penyakit hiperparatiroid, penyakit asam urat, adanya kelainan anatomi yang menyebabkan gangguan aliran urin, bekerja di tempat yang panas, minum yang kurang dan konsumsi obat-obatan tertentu.

Deskripsi Kolik Ureter
Keluhan tersering dari BSK adalah nyeri kolik. Nyeri kolik adalah nyeri mendadak yang bersifat tajam, terasa melilit, hilang timbul, tidak berkurang dengan perubahan posisi, serta kadang disertai mual dan muntah. Nyeri kolik seringkali dirasakan sebagai rasa sakit yang berat, sehingga mengganggu aktivitas dan kualitas hidup dari penderitanya. Nyeri kolik yang diakibatkan sumbatan pada ureter cenderung bersifat hilang timbul, sedangkan nyeri yang diakibatkan pelebaran dari kapsul ginjal dapat bersifat terus-menerus. Lokasi nyeri tergantung dari organ yang terlibat. Nyeri kolik ginjal umumnya terlokalisasi di pinggang. Nyeri kolik ureter dapat menjalar dari pinggang hingga ke perut bawah. Jika lokasi batu terletak pada ureter bagian bawah, nyeri dapat menjalar sampai ke lipat paha. Selain keluhan nyeri pinggang, gejala BSK dapat berupa nyeri saat buang air kecil (BAK), sulit BAK, dan BAK berdarah. Jika terjadi komplikasi seperti infeksi, dapat timbul demam.

Pemeriksaan/Evaluasi
Nyeri pinggang/kolik ureter merupakan salah satu manifestasi klinis yang penting batu ginjal atau batu ureter. Pemeriksaan yang umumnya dilakukan pada pasien dengan kecurigaan BSK adalah pemeriksaan darah (darah lengkap dan fungsi ginjal), urin (urinalisis), dan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi memegang peranan penting untuk mengkonfirmasi adanya BSK, ukuran batu, jumlah batu dan lokasinya. Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan adalah foto polos abdomen (BNO) + ultrasonografi (USG), intravenous pyelography (IVP), atau CT-Scan.
Pemeriksaan IVP biasanya menunjukkan dimana batu berada, dan apakah batu kemungkinan tersangkut dan menyebabkan obstruksi. Hal ini dikecualikan untuk batu yang terbuat dari asam urat dan cystine. Batu yang terbuat dari asam urat bersifat radiolusen, dan tidak terlihat pada foto rontgen polos, tetapi dapat menunjukkan acoustic shadow pada ultrasonografi dan terlihat pada CT scan.

Penanganan Kolik Ureter
1. Penanganan Simptomatik
Tujuan pengobatan simptomatik adalah:
a. Menghilangkan rasa nyeri
b. Menghilangkan spasme otot polos
Pada pengobatan simptomatik dapat diberikan
a. Analgetik yang kuat, bilamana perlu morfin atau petidin. Bahaya morfin: adiksi; bahaya petidin: adiksi dan ileus paralitik
b. NSAIDs/spasmolitik. Bahaya spasmolitik: ileus paralitik

2. Penanganan kausal/penyebab
Dalam tulisan ini kausal dibatasi untuk batu saluran kemih. Terapi BSK secara umum terbagi menjadi dua, konservatif dan intervensi aktif. Pilihan cara penanganan BSK tergantung dari beberapa faktor, antara lain lokasi batu, ukuran batu, dan adanya komplikasi seperti gagal ginjal atau infeksi

a. Terapi Konservatif
Ukuran dan lokasi batu merupakan faktor penting untuk menentukan besarnya kemungkinan batu keluar secara spontan. Sebagian besar batu dengan ukuran kurang dari 5 mm memiliki kemungkinan untuk keluar dari saluran kemih secara spontan. Pada pasien yang diharapkan batu dapat keluar secara spontan, terapi konservatif dapat dicoba sebelum melakukan intervensi aktif. Prinsip terapi konservatif adalah mengusahakan batu keluar secara spontan.
Terapi konservatif yang dianjurkan untuk pasien dengan BSK meliputi :
(1) anjuran minum yang cukup hingga produksi urin 2 liter/hari,
(2) pemberian obat anti nyeri (untuk mengatasi nyeri kolik), dan
(3) pemberian obat golongan alfa blocker (untuk memperlebar diameter ureter). Batas maksimal dilakukannya terapi konservatif adalah selama 6 minggu. Jika setelah 6 minggu batu tidak keluar secara spontan, pasien harus dirujuk untuk dilakukan intervensi aktif.

b. Intervensi Aktif
Pilihan terapi pada intervensi aktif ada beberapa macam yaitu, ESWL, URS, PCNL, dan bedah terbuka, tergantung lokasi dan ukuran batu

ESWL
Gelombang kejut dihantarkan melalui air. Berbagai tipe litotriptor menghasilkan gelombang kejut, dan gelombang ini difokuskan dengan sinar X atau skaner ultrasonografi. Gelombang kejut memecahkan batu menjadi fragmen-fragmen yang cukup kecil untuk lewat melalui ureter. Karena gelombang kejut dihantarkan
melalui air/urine, maka efisiensi ESWL juga ditentukan oleh interface yang melingkupi batu, selain densitas dan ukuran batu. Bagaimanapun batu dipecahkan, fragmen-fragmen kecil harus berjalan turun melalui ureter. Di ureter fragmen-fragmen ini dapat menyebabkan obstruksi temporer – steinstrasse – NSAIDs perlu diberikan untuk kolik ureter. Tetapi dengan asupan cairan yang banyak steinstrasse biasanya bersih dalam waktu beberapa hari. Kadang- kadang ESWL perlu diulang beberapa kali, sesuai dengan densitas batu.

PCNL
PCNL dapat dilakukan pada batu ginjal. PCNL dilakukan dengan menusuk jarum, lalu luka tusukan jarum dilebarkan hingga luka 1 cm untuk memasukkan
nefroskop dan alat pemecah batu serta fragmen batu dikeluarkan. Termasuk operasi invasif minimal dan membutuhkan waktu istirahat di rumah sakit yang lebih singkat. Komplikasi-komplikasi yang dapat timbul selama tindakan: perdarahan, perforasi, urinoma, hematom, hematuria (kencing darah), infeksi, demam, reaksi kontras media, sisa batu, batu tidak berhasil ditemukan atau tidak dapat dikeluarkan, gangguan keseimbangan elektrolit, cedera insidental organ sekitarnya dst.

Ureteroskopi
Ureteroskopi dapat dimasukkan ke dalam ureter untuk melihat interior ureter, serta memecahkan dan mengeluarkan batu kecil yang tersangkut dalam ureter. Pada tindakan ureteroskopi kadang- kadang dilakukan pemasangan DJ stent.

Operasi Terbuka
Operasi terbuka dewasa ini dicadangkan pada batu yang berukuran besar dan jumlah banyak. Jenis operasi tergantung pada ukuran, lokasi dan jumlah batu.

Baca juga link terkait:
https://pantirapih.or.id/rspr/operasi-pengangkatan-batu-ginjal-minim-sayatan-dengan-metode-pcnl-percutaneous-nephrolithotomy-di-rs-panti-rapih/
https://pantirapih.or.id/rspr/extracorporeal-shock-wave-lithotripsy-eswl/
https://pantirapih.or.id/rspr/apakah-extracorporeal-shock-wave-lithotripsy-eswl-itu/

 

Klinik Bedah Urologi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Apakah Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) Itu? 5/5 (1)

ESWL merupakan teknologi canggih penatalaksanaan batu saluran kemih. ESWL merupakan prosedur yang non-invasif, sehingga banyak digunakan dan bersifat relatif lebih aman. Efek pemecahan batu memberikan hasil yang efektif pada 80-86% kasus batu simple. ESWL bekerja melalui transmisi energi ke batu melalui jaringan hingga batu dihancurleburkan sehingga fragmen-fragmen batu dapat keluar spontan bersamaan dengan kencing.

Kriteria Batu yang dapat dilakukan dengan ESWL

  • Batu ginjal simple dengan stone burden <2 cm. Batu yang berukuran lebih dari 2 cm kurang ideal untuk ESWL karena klirens turun dari 90% untuk batu 1 cm menjadi 63%, sehingga ESWL perlu diulangi. Angka risiko mengalami kolik juga lebih besar pad ESWL batu ginjal yang berukuran lebih dari 2 cm.
  • Batu ureter dengan diameter <1 cm. Pada batu ureter 1/3 bagian atas, dapat dilakukan manipulasi pendorongan batu ke ginjal dan selanjutnya di lakukan ESWL. Bilamana manipulasi ini gagal, dilakukan ESWL in situ. ESWL in situ dapat dipertimbangkan jika penderita menginginkan anestesi yang minimal dan mau menerima tindakan ESWL ulang bila mana masih ada sisa batu.

Faktor-Faktor Penyebab Batu Ginjal
– Obesitas. Obesitas akan mengurangi daya transmisi energi ke batu, sehingga mengurangi daya fragmentasi batu
– Kelainan pembekuan darah (bila belum dikoreksi)
– Obstruksi saluran kemih di sebelah distal (bawah) batu
– Infeksi saluran kemih yang aktif atau sepsis
– Kehamilan
– Aneurisma aorta atau arteri renalis
– Batu cystine atau brushite (kontraindikasi relatif)

Persiapan Pasien Sebelum dilakukan Tindakan ESWL
Pasien ESWL dengan batu relatif kecil tidak perlu rawat inap.

Apakah dengan “ditembak” dengan ESWL akan Terasa Sakit?
Sebelum tindakan akan diberikan obat pengurang rasa sakit. Umumnya selama tindakan akan merasa sedikit sakit. Tindakan penembakan batu kurang lebih sekitar 30 menit.

Apakah Gejala Batu Ginjal?
Batu ginjal tidak selalu menimbulkan rasa sakit kecuali batu yang masuk ke saluran ureter bisa menimbulkan sakit pinggang yang sangat hebat dan sering disertai mual, muntah, dan perut terasa kembung. Kadang-kadang  dalam air seni terdapat darah dan kencing terasa sakit. Ada juga penderita batu ginjal yang tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Link terkait :
https://pantirapih.or.id/rspr/extracorporeal-shock-wave-lithotripsy-eswl/

https://pantirapih.or.id/rspr/operasi-pengangkatan-batu-ginjal-minim-sayatan-dengan-metode-pcnl-percutaneous-nephrolithotomy-di-rs-panti-rapih/

Informasi Pelayanan :
Klinik Bedah Urologi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) No ratings yet.

Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) merupakan tindakan non-invasif untuk menangani batu ginjal dengan memanfaatkan gelombang kejut dari luar tubuh. Gelombang kejut yang digunakan berupa gelombang ultrasonik atau elektrohidrolik yang akan memecah batu menjadi ukuran lebih kecil sehingga dapat keluar bersama air kemih.
Tindakan ini sama sekali tak memerlukan sayatan ke kulit sehingga tidak membutuhkan penanganan observasi yang lama seperti pasca operasi. Proses ESWL pun tergolong singkat, hanya dengan membutuhkan waktu 1-2 jam saja, dan setelah itu pasien yang telah diterapi dapat melanjutkan aktivitasnya kembali.
Unit ESWL yang digunakan di RS Panti Rapih menggunakan teknologi yang canggih sehingga membuat waktu tindakan lebih cepat, mengurangi rasa sakit yang Anda rasakan, dan suara yang lebih halus untuk meningkatkan kenyamanan Anda ketika tindakan.
Bila anda mengalami gejala batu ginjal, silahkan kunjungi RS Panti Rapih.

RS Panti Rapih, Sahabat Untuk Hidup Sehat.

Informasi Pelayanan :
Klinik Bedah Urologi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Nephrolithiasis (Batu Ginjal) 4.33/5 (3)

Merupakan suatu kondisi terbentuknya batu di ginjal. Batu tersebut terbentuk oleh karena tingginya kandungan mineral dan garam di urin. Batu ginjal bermula dari batu kecil dan dapat membesar seiring berjalannya waktu dengan faktor resiko yang ada. Batu ginjal dapat menetap di ginjal, tetapi dapat turun melalui ureter hingga ke kandung kemih dan dapat ikut keluar bersama urin melalui uretra. Tetapi beberapa kondisi yang menyebabkan gejala pada pasien adalah pada batu yang menyumbat saluran urin dan menghambat aliran urin. Batu yang paling banyak ditemui adalah batu kalsium (80%).

Penyebab Batu Ginjal

Volume urin sedikit –> penanda kurangnya air dalam tubuh adalah urin sedikit serta berwarna keruh dan pekat.

Pola makan –> konsumsi makanan dengan kadar garam tinggi dapat meningkatkan resiko pembentukan batu. Konsumsi tinggi protein hewani juga dapat meningkatkan pembentukan kalsium oksalat dan asam urat sehingga mempermudah pembentukan batu.

Obesitas –> meningkatkan keasaman darah sehingga meningkatkan resiko pembentukan batu.

Gejala

  • Kondisi medis tertentu –> kelainan pada kelenjar paratiroid dapat menyebabkan peningkatan kalsium darah dan urin
  • Nyeri tajam pada daerah punggung belakang dan pinggang samping.
  • Nyeri hilang timbul
  • Perasaan ingin berkemih meningkat
  • Sensasi perih atau tidak nyaman saat berkemih
  • Warna urin menjadi pekat, kadang merah karena adanya kandungan darah

Medikasi

Terapi pada batu ginjal bervariasi tergantung dari jenis batu dan tingkat keparahan dari gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Terapi dapat berupa obat-obatan, dan juga terapi pembedahan. Terapi obat-obat ditujukan untuk meredakan nyeri dan merelaksasi otot-otot saluran kemih.

Terapi bedah diindikasikan bila batu gagal dibuang oleh tubuh, batu terlalu besar untuk melewati saluran kencing, batu mempengaruhi kinerja ginjal.

Pencegahan

  • Minum cukup air agar air dalam tubuh tercukupi sehingga meminimalkan terjadinya pembentukan batu
  • Kurangi garam dalam masakan. Mengurangi garam dapat mengurangi kadar dalam kalsium di urin sehingga dapat mengurangi terjadinya pembentukan batu
  • Kurangi mengkonsumsi daging, dengan mengurangi konsumsi daging maka akan mengurangi pembentukan asam oksalat dan cystine sehingga risiko pembentuk batu menurun
  • Mengkonsumsi sejumlah kalsium yang disarankan dokter/ahli gizi

 

Info Pelayanan :
Klinik Bedah Urologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating