Plantar Faciitis

Apakah anda pernah mengeluh nyeri di tumit setiap pagi saat bangun tidur? Jika pernah, mungkin banyak informasi yang sudah coba anda cari tahu ke dokter atau mungkin mencari tahu sendiri lewat berbagai sumber. Seringkali pendapat awam ataupun dari medis langsung mengarah ke arah penyakit asam urat, padahal masih banyak kemungkinan lain yang menimbulkan nyeri pada tumit, salah satunya kasus Plantar Fasciitis.

Insidensi penyakit Plantar Fasciitis tertinggi ditemukan pada wanita, usia 40 – 60 tahun, meski beragam varian usia juga masih dapat ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, hal ini dapat sebagai gambaran awal bahwa penyakit ini kemungkinan dapat dipengaruhi oleh faktor aktivitas yang lebih tinggi.

Definisi dan Penyebab

Plantar fasciitis sendiri merupakan penyakit yang timbul akibat proses peradangan/inflamasi yang timbul pada plantar fascia di bagian telapak kaki, dengan area yang menimbulkan nyeri berasal dari titik pelekatan dengan calcaneus (tulang tumit). Penyebab proses radangnya sendiri dapat dipengaruhi oleh banyak hal; ketegangan otot daerah betis yang mengurangi kemampuan gerak flexi sendi ankle, obesitas juga menjadi salah satu faktor resiko seringnya kasus ini timbul, kondisi kelainan anatomi Flat Foot serta aktivitas berdiri, berjalan atau berlari yang lama juga dipandang berkontribusi menimbulkan kondisi penyakit ini.

Gejala Klinis

Plantar Fasciitis memiliki gejala utama berupa rasa nyeri di area kalkaneus (tumit) penderitanya, dengan beberapa kondisi khas seperti nyeri yang dirasakan di telapak kaki saat baru bangun tidur / setelah istirahat, yang agak lama yang dapat dirasakan pada beberapa langkah pertama yang dilakukan, selain itu, sifat nyeri juga dapat semakin dirasakan setelah (bukan saat) aktivitas fisik.

Pemeriksaan Medis

  • Harus mengkaji dari aktivitas fisik yang dilakukan penderita lewat anamnesa yang lengkap, serta menangkap semua gejala yang dikeluhkan penderita terutama yang muncul di area sendi ankle (khususnya telapak kaki)
  • Profil fisik, menilai adakah faktor resiko obesitas yang dapat menjadi pemicu timbulnya plantar fasciitis
  • Profil anatomi kaki pasien, apakah ada kelainan anatomi seperti Flat Foot atau High Arch foot
  • Sifat nyeri yang ditemukan umumnya dapat memberat saat kaki didorsofleksikan dan akan mereda saat ujung kaki di arahkan ke depan (seperti gerakan menjinjit).
  • Pemeriksaan radiodiagnostik penunjang seperti rontgen dan MRI dapat digunakan, dimana pada rontgen polos, dapat digunakan untuk menilai kondisi tulang dan sendi ankle, apakah ada tanda fraktur atau tanda-tanda inflamasi, serta dapat ditemukannya heel bone. Pada MRI, kita dapat megkaji jaringan-jaringan lunak disekitar sendi ankle yang mungkin terdapat kelainan, seperti adakah tanda timbulnya arthritis pada sendi ankle yang terkena plantar fasciiis.

Pengobatan

Terapi Non Bedah

Mayoritas kasus Plantar Fasciitis yang membaik dengan beberapa jenis terapi non bedah, baik fisioterapi (latihan fisik, alat-alat orthotik) maupun terapi medikamentosa.

Beberapa pilihan terapi non bedah yang disarankan adalah :

  1. Mengistirahatkan kaki yang sedang sakit, dalam hal ini, yang dimaksud adalah mengurangi/menghentikan aktivitas yang dapat memperberat kondisi nyeri yang timbul, seperti aktivitas olahraga (lari, lompat, aerobik, dll)
  2. Kompress dingin pada kaki yang sakit selama 20 menit 3 sampai dengan 4 kali dalam sehari.
  3. Obat-obatan Anti Inflamasi Non Steroid dapat membantu mengatasi nyeri yang timbul dari Plantar Fasciitis. Tetapi perlu diperhatikan untuk kasus penggunaan jangka panjang dari jenis obat-obatan ini
  4. Obat injeksi steroid juga dapat menjadi pilihan untuk mengatasi reaksi radang yang timbul, suntikan diberikan langsung ke area nyeri (fascia plantaris), sebagai catatan, penggunaan obat injeksi steorid juga harus dikontrol  karena dalam jangka panjang dapat membuat fascia mudah robek yang mana dapat menimbulkan kondisi Flat Foot atau nyeri kronis.
  5. Latihan peregangan / stretching dari otot betis dan kaki akan membantu meringankan dan bahkan mengatasi nyeri yang timbul dari Plantar Fasciitis, hanya perlu dilakukan dengan rutin dengan gerakan sebagai berikut :

a. Otot betis : dilakukan dengan posisi berdiri dan menghadap ke dinding, bertumpu pada kedua tangan, dengan meluruskan salah satu lutut ke belakang dengan lutut lainnya dalam posisi sedikit fleksi (lakukan bergantian), untuk mendapatkan efek peregangan yang maksimal, gerakan panggul ke arah depan, sehingga efek regangan di betis dan juga di plantar fascia dirasakan.

b. Plantar Fascia : dilakukan pada posisi duduk, silangkan salah satu kaki yang akan dilakukan peregangan sampai bertumpu pada lutut kaki sebelahnya, lalu dilakukan gerakan memijat pada permukaan telapak kaki di area jari jempol kaki dengan tangan, dimana plantar fascia akan dirasakan seperti selaput yang tegang, beri penekanan 10 detik, ulangi masing-masing kaki 20 menit. Disarankan dilakukan pada pagi hari sebelum mulai berjalan.

  1. Sepatu khusus / insole Orthotik juga menjadi pilihan terapi, dimana kontur alas sepatu yang dibuat menyangga dengan baik telapak kaki, akan mengurangi tekanan pada plantar fascia.
  2. Splints / external fixasi pada kaki juga dapat digunakan mengurangi keluhan terutama dipakai saat beristirahat / tidur, dimana kaki cenderung akan berada pada posisi relaks, sedikit ekstensi, yang mana akan menimbulkan nyeri tumit pada pagi hari, dengan adanya splint akan memfixasi pada posisi plantar fascia yang meregang, dan digunakan sampai nyeri sudah tidak dirasakan.
  3. Extraxorporeal Shockwave Therapy (ESWT) adalah metode menggunakan gelombang akustik energi tinggi dengan alat khusus yang dapat menstimulasi penyembuhan jaringan plantar fascia yang sedang meradang. Metode ini belum menjadi pilihan utama karena durasi terapi dan efek yang ditimbulkan masih sangat bervariasi, meski demikian , ESWT dapat menjadi pilihan sebelum pilihan terapi bedah dilakukan.

Terapi Surgical / Pembedahan

Pembedahan menjadi pilihan jika kasus Plantar Fasciitis tidak dapat dikontrol dengan baik melalui terapi jenis non surgical.

Beberapa prosedur pembedahan yang menjadi pilihan terapi untuk kasus Plantar Fasciitis adalah :

a. Release Partial Plantar Fascia

Teknik pembedahan dengan target mengurangi / membebaskan tekanan di area nyeri dari plantar fascia dengan memotong partial dari ligamentum plantar fascia sehingga nyeri peradangan baik karena penekanan pada plantar fascia maupun oleh Bone Spur dapat dihilangkan (Bone Spur dapat ikut diangkat pada prosedur ini).

b. Rescession Gastrocnemius /pemanjangan otot gastrocnemius

Seperti kita ketahui di atas, bahwa otot betis/Gastrocnemius yang tegang juga akan berdampak pada ketegangan Plantar Fascia, maka  prosedur ini menjadi pilihan untuk kasus-kasus dimana pasien sulit melakukan prosedur peregangan otot betis (terbentuk dari gastrocnemius dan soleus). Teknik pembedahan dilakukan dengan pemanjangan satu dari dua otot yang membentuk otot betis (i.e gastrocnemius) melalui prosedur insisi terbuka ataupun insisi yang lebih kecil secara endoskopis. Tendon otot yang di potong akan sembuh dengan posisi yang telah diatur lebih panjang dari sebelumnya.

 

Artikel ini ditulis oleh: dr. John Hartono
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Posted in Artikel Kesehatan and tagged , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *