Cegah Diare

Diare adalah penyebab utama kematian pada anak balita secara global yang mencapai sekitar 525.000 anak setiap tahunnya. Di Indonesia diare merupakan penyakit endemis dan juga merupakan penyakit potensial KLB (Kejadian Luar Biasa) yang sering disertai dengan kematian. Apa yang dapat kita lakukan?

Pada tahun 2015 terjadi 18 kali KLB diare yang tersebar di 11 provinsi, 18 kabupaten/kota, dengan jumlah penderita 1. 213 orang dan kematian 30 orang. KLB diare sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2015, terlihat bahwa ‘Case Fatality Rate’ (CFR) masih cukup tinggi (>1%), bahkan tahun 2015 CFR diare mencapai 2,47%. Diare dapat berlangsung beberapa hari, dan dapat menyebabkan tubuh anak kehilangan air dan mineral atau garam yang diperlukan untuk bertahan hidup dan disebut dehidrasi. Di masa lalu, dehidrasi berat karena kehilangan cairan tubuh adalah penyebab utama kematian pada diare. Sekarang, penyebab lain seperti infeksi bakteri hebat atau septikemia akan menyebabkan peningkatan proporsi kematian terkait diare.

Diare didefinisikan sebagai buang air besar tiga kali atau lebih dalam sehari dengan tinja cair. Di negara berpenghasilan rendah, anak di bawah tiga tahun mengalami rata-rata tiga episode diare setiap tahunnya. Penyebab diare pada anak yang tersering adalah infeksi oleh bakteri, virus dan parasit, yang sebagian besar disebarkan oleh air yang terkontaminasi tinja. Infeksi lebih sering terjadi, bila sanitasi dan kebersihan lingkungan tidak memadai. Rotavirus dan bakteri Escherichia coli, adalah dua penyebab paling umum diare di negara berpenghasilan rendah. Selain infeksi, malnutrisi juga sering menyebabkan diare. Setiap episode diare berdampak menghilangkan nutrisi yang diperlukan anak untuk pertumbuhan. Akibatnya, diare merupakan penyebab utama malnutrisi, dan anak kurang gizi lebih cenderung jatuh sakit karena diare. Setiap episode diare pada gilirannya membuat malnutrisi mereka semakin parah dan diare adalah penyebab utama malnutrisi pada anak balita. Di Indonesia ditemukan sebanyak 26.518 balita gizi buruk secara nasional pada tahun 2015. Kasus gizi buruk yang dimaksud ditentukan berdasarkan perhitungan berat badan menurut tinggi badan balita Zscore < -3 standardeviasi atau balita sangat kurus. Sedangkan menurut hasil Riskesdas 2013 prevalensi gizi sangat kurus pada balita sebesar 5,3%. Jika diestimasikan terhadap jumlah balita 21.436.940 anak, maka perkiraan jumlah balita gizi buruk, sangat kurus, dan berisiko diare sebanyak sekitar 1,1 juta anak.

Langkah kunci dalam pengelolaan diare adalah lima langkah menuntaskan diare atau Lintas Diare. Pertama adalah rehidrasi dengan larutan gula garam rehidrasi oral atau oralit, berupa campuran air bersih, garam dan gula. Cairan akan diserap di usus halus anak dan segera menggantikan air dan elektrolit yang hilang selama diare. Rehidrasi mungkin diperlukan dengan cairan infus intravena, jika terjadi dehidrasi berat atau syok. Kedua adalah suplemen zinc 10-20 mg selama 10 hari yang akan mengurangi durasi episode diare sebesar 25% dan pengurangan 30% volume tinja. Ketiga adalah makanan kaya gizi, karena lingkaran setan malnutrisi dan diare dapat dipatahkan dengan terus memberi makanan kaya nutrisi, termasuk ASI, selama sebuah episode diare. Keempat adalah menghindari penggunaan antibiotika pada diare, kecuali ada indikasi medis yang kuat. Dan kelima adalah edukasi kepada orangtua anak balita dan rujukan kasus diare kepada dokter, terutama diare persisten, ada darah dalam tinja, atau ada tanda dehidrasi.

Intervensi medis untuk mencegah diare, termasuk penggunaan air minum yang aman, sanitasi yang lebih baik, dan cuci tangan memakai sabun, dapat mengurangi risiko penyakit. Selain itu, perlu penghindaran atas sumber air yang terkontaminasi kotoran manusia, misalnya dari septic tank dan jamban, atau kotoran hewan yang mengandung mikroorganisme penyebabkan diare. Penyebab diare lainnya adalah karena menyebar dari orang ke orang, yang dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan. Juga menghindari makanan yang merupakan penyebab utama diare, karena disiapkan atau disimpan dalam kondisi tidak higienis. Pemberian ASI eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan bayi, berperan penting untuk pencegahan diare. Selain itu, juga pendidikan kesehatan kepada orangtua anak balita tentang bagaimana penyebaran infeksi penyebab diare dan vaksinasi rotavirus. Vaksin rotavirus tetes mulut diindikasikan untuk pencegahan diare yang disebabkan oleh Rotavirus serotipe G1 dan non-G1 (seperti G2, G3, G4, G9).

Pemberian vaksin ini yang bersamaan dengan vaksin polio tetes, tidak mempengaruhi respon imun dari antigen polio, namun menurunkan respon imun vaksin rotavirus. Oleh sebab itu, pemberian kedua jenis vaksin tersebut sebaiknya dalam jarak 2 minggu. Namun demikian, tidak akan terdapat interaksi apapun, jika vaksin rotavirus diberikan bersamaan dengan vaksin monovalen atau vaksin kombinasi lainnya, termasuk vaksin heksavalen (DTPa-HBV-IPV/Hib), vaksin difteri-tetanus-pertusis aselular (DTPa), vaksin Haemophillus influenza tipe b (Hib), vaksin polio yang dilemahkan (IPV), vaksin hepatitis B (HBV), dan vaksin pneumococcal. Dosis pemberian vaksin rotavirus yang hanya diberikan melalui mulut, satu paket terdiri dari dua dosis vaksin. Dosis pertama dapat diberikan sejak bayi berumur 6 minggu, dosis selanjutnya berjarak setidaknya 4 minggu setelah dosis pertama. Sebaiknya dosis vaksin diberikan secara lengkap sebelum bayi berusia 16 minggu, atau paling lama sudah lengkap pada saat bayi berusia 24 minggu. Dengan melakukan berbagai langkah pencegahan diare, diharapkan anak balita akan semakin terlindungi dari malnutrisi dan kematian terkait diare. Pemberian ASI eksklusif dan imunisasi rotavirus, adalah tindakan pencegahan yang sangat dianjurkan.

Jika anak anda memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala gangguan yang mengindikasikan diare,  segera konsultasi ke dokter spesialis anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

 

Artikel ini ditulis oleh:  dr. Wikan Indrarto, SpA

Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta

Ultrasonografi (USG)

Ultrasonografi merupakan salah satu alat diagnostik di radiologi yang menggunakan dasar gelombang suara freuensi tinggi 2 sampai 13 megahertz, dimana gelombang suara tersebut dapat menghasilkan suatu gambar dari organtubuh manusia yang tidak terlihat dari luar. Alat ini salah satu dari alat-alat radiologi yang tidak menggunakan sinar x, selain MRI. Alat ini dikenal masyarakat umum pada awalnya untuk melihat kondisi janin seorang ibu hamil. Pemeriksaan ibu hamil yang semula hanya dilakukan dengan perabaan dari luar dan mendengar denyut jantung janin dengan alat dari luar, telah mengalami perubahan drastic dengan alat ultrasonoraphy ini. Karena janin langsung dapat periksa kondisinya secara langsung dan dapat penghasilkan gambar Janin dari layar alat ultrasonografi ini.

Setelah itu alat ini beranjak untuk pemeriksaan organ tubuh lainnya. Sehingga pemeriksaan dengan alat ini menjadi favorite untuk mendeteksi awal adanya kelainan dalam tubuh manusia tanpa harus terpapar sinar X dan juga cukup simple dan tidak menyakiti pasien karena hanya dengan mengoles jeli pada kulit yang berfungsi sebagai penghantar gelombang suara dan menaruh ujung alat USG (probe USG) ke kulit manusia maka dapat terlihat organ-organ tubuh yang hendak di evaluasi.

Keunggulan USG ini secara teknis adalah alatnya cukup simple, pada umumnya tidak terlalu berat, banyak model dari yang portable dapat ditenteng seperti laptop sampai yang cukup besar namun masih cukup mobile untuk di pindah dengan mudah. Sedangkan keunggulan secara medis hampir seluruh organ dapat diperiksa dengan alat USG ini. Mulai dari kondisi otak pada janin, mata, leher, jantung, paru-paru, perut, pembuluh darah bahkan otot-otot juga dapat dilakukan evaluasi. Kelemahan USG ini salah satunya adalah lapangan pandang pemeriksaan yang terbatas sehingga pemeriksaan yang ada biasanya dilakukan satu-satu per organ dan apabila terdapat kelainan yang cukup besar maka tidak akan cukup terevaluasi pada layar alat USG.

Kelemahan lain adalah udara, karena factor udara akan menghambat lajunya gelombang suara sehingga mengaburkan gambar yang dihasilkan. Selain itu juga keterbatasan kedalaman pemeriksaan, apabila lapisan kulit yang terlalu tebal atau kondisi lemak bawah kulit juga akan menghambat dalam menghasilkan gambar yang lebih jelas.Dengan perkembangan teknologi sekarang juga telah terdapat alat USG 4 dimensi, yaitu dapat menghasilkan gambar 3 dimensi dan bergerak sehingga memungkinkan melihat gerakan langsung janin selama pemeriksaan. Alat ini banyak digunakan pada evaluasi janin ibu hamil.

Peringatan Hari Kartini di RS Panti Rapih

Yogyakarta, 21 April 2021 – Hari ini merupakan hari yang istimewa bagi Indonesia karena pada tanggal ini telah lahir seorang perempuan hebat. Sosoknya dikenal melalui pemikirannya terhadap perjuangan hak perempuan. Beliau adalah Raden Ajeng Kartini, sang inspirator yang tak pernah mati bagi seluruh perempuan Indonesia. Keberanian, ide, dan gagasannya akan selalu hidup dan berkembang sepanjang zaman.

Bertepatan dengan peringatan hari lahirnya Raden Ajeng Kartini, Rumah Sakit Panti Rapih menggelar sebuah acara sederhana berupa pembukaan Panti Rapih Lounge and Coffee Shop. Ruangan tersebut berlokasi di Gedung Borromeus Lantai 2. Dilengkapi dengan sebuah piano serta beberapa kursi yang diatur sesuai standar protokol kesehatan. Beberapa dokter dan karyawan turut menyumbangkan lagu untuk menghibur para pasien dan pengunjung yang hadir saat itu.

Pelayanan di Rumah Sakit Panti Rapih juga tidak seperti hari biasanya. Pasalnya, frontliner yang bertugas saat itu terlihat unik dengan menggunakan busana tradisional. Meskipun demikian, pelayanan tidak terganggu dan berjalan seperti biasanya.

Direktur Utama Rumah Sakit panti Rapih, drg. Vincentius Triputro Nugroho, M. Kes berharap, Panti Rapih Lounge & Coffee Shop tersebut dapat memberikan kenyamanan bagi para pasien dan pengunjung. Selain menjawab kebutuhan para pengguna jasa pelayanan kesehatan di rumah sakit, lounge tersebut dapat digunakan juga bagi pasien, pengunjung ataupun karyawan untuk mengaktualisasikan kemampuan bermusik yang dapat dinikmati dan memberikan energi positif. Musik adalah salah satu sarana yang dinilai dapat membantu kesehatan otak bahkan tubuh secara keseluruhan. Musik dinilai dapat membantu meredakan stres, menambah semangat, bahkan dapat membantu meredakan nyeri.

 

               

 

Artikel ini ditulis oleh : Humas RS Panti Rapih Yogyakarta

Informasi: 0274 563333, 514014, 514845 ext 1116 / 1163 ; Email: humas@pantirapih.or.id

Computed Tomography Scan (CT Scan)

CT Scan merupakan alat radiologi yang penggunaannya berbasis sinar X sehingga untuk pemeriksaan dengan alat ini benar-benar dilakukan dengan pertimbangan medis yang penting, karena sinar X yang diperlukan relative lebih besar dibandingkan dengan foto polos biasa, walau masih dalam nilai aman yang dapat diterima tubuh.

Keunggulan alat ini secara teknis dapat menghasilkan gambaran secara menyeluruh dari organ tubuh manusia sehingga dapat melihat kelainan yang besar yang tidak tercakup pada USG. Selain itu, alat CT Scan yang dimiliki oleh RS Panti Rapih adalah tipe generasi baru 64 slice yang berarti alat tersebut dapat menghasilkan gambar yang sangat detail dari organ tubuh manusia bahkan menghasilkan gambar 3 Dimensi.

Keunggulan alat ini adalah bentuknya yang sangat besar sehingga memerlukan persiapan ruangan khusus dan juga tenaga listrik yang memadai. Apabila pasien menggunakan alat logam yang permanen dalam tubuh seperti tambalan gigi amalgam, alat penyambung tulang, sendi palsu maka akan mengamburkan gambar disekitar organ yang terpasang logam tersebut.

Artikel ini ditulis oleh Unit Radiologi RS Panti Rapih

 

RS Panti Rapih Siap Mendukung Instansi Pendidikan Dalam Menghadapi Persiapan Pembelajaran Tatap Muka

Dalam rangka menyambut baik wacana pembelajaran tatap muka oleh Pemerintah maka Rumah Sakit Panti Rapih siap mendukung Instansi Pendidikan dalam hal pelayanan kesehatan.

Pada tanggal 1 April 2021 RS Panti Rapih telah resmi bekerjasama dengan Yayasan Pangudi Luhur (SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan). Dari RS Panti Rapih diwakili oleh Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Usaha Henry Prasista Kurniawan, S.Si, Kepala Bidang Hukum dan Kesehatan B. Agung Sulistyo, SH dan dari Yayasan Pangudi Luhur (SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan) diwakili oleh Seksi Humas Elisabeth Emiliani Setyaningrum, S.Psi. RS Panti Rapih dapat memberikan pelayanan kesehatan dalam bentuk pemeriksaan kesehatan siswa (UKS) yang dilakukan dua kali dalam satu tahun yang ditangani oleh dokter umum, perawat, ahli gizi dan administrasi.  Selain itu, edukasi kesehatan yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Edukasi kesehatan dapat diperuntukkan bagi guru, siswa dan orang tua dengan tema edukasi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Kerjasama ini merupakan salah satu bentuk dukungan Rumah Sakit Panti Rapih terhadap instansi-instansi pendidikan terutama di Yogyakarta dan sekitarnya. Sangat mungkin juga RS Panti Rapih dapat menjalin kerjasama bersama mitra dari berbagai sektor. Hal ini dapat menjadi peluang untuk saling menjalin jejaring yang lebih luas.

Peran Terapi Erythropoietin (EPO) Pada Tata Laksana Anemia Penyakit Ginjal Kronik

Ginjal merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa dalam tubuh serta memiliki fungsi hormonal contohnya pengaturan tekanan darah oleh renin dan eritropoesis atau keseimbangan oksigen oleh eritropoetin (Daugirdas, 2001). Anemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronik disebabkan oleh beberapa faktor. Penyebab primernya adalah defisiensi hormon eritropoetin. Sedangkan penyebab sekundernya antara lain adalah defisiensi nutrisi (besi, asam folat, dan vitamin B12), peradangan, dan terganggunya kerja sumsum tulang. Selain itu, anemia pada pasien penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan beberapa hal yang merugikan bagi pasien antara lain meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler (K/DOQI National Kidney Foundation, 2006).

Menurut Konsensus Perkumpulan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) tahun 2011, tujuan tata laksana anemia pada penyakit ginjal kronik adalah meningkatkan hemoglobin (Hb) sehingga menurunkan kebutuhan transfusi darah, menghilangkan gejala yang ditimbulkan dari anemia, mencegah komplikasi kardiovaskuler, menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat anemia, dan meningkatkan kualitas hidup. Salah satu terapi yang dapat digunakan adalah dengan penggantian produksi endogenous erythropoietin (EPO) yang tidak mencukupi. Pasien yang mendapatkan perhatian pada terapi EPO adalah  pasien dengan hipertensi tak terkendali (sistolik ³180 mmHg, diastolik ³ 110 mmHg), hiperkoagulasi, dan beban cairan berlebih. Kontra indikasi untuk terapi EPO adalah pasien yang hipersensitif terhadap EPO.

Jika anda mengalami gangguan kesehatan, segera konsultasikan kesehatan anda ke dokter RS Panti Rapih.

 

Artikel ini ditulis oleh: Dra. A.M. Wara Kusharwanti, M.Si.,Apt, Chr. Asri Wulandadari, S.Farm.,Apt, M.Wulan Kurniasari, S.Farm.,Apt

Manfaat Kesehatan Jalan Kaki

Untuk menjaga kesehatan tubuh, jalan kaki merupakan salah satu kegiatan fisik yang disarankan, terutama di pagi hari karena pada saat tersebut udara masih segar, tidak ada polusi, tidak panas dan jalanan tidak macet. Namun sayangnya dengan berbagai alasan, sebagian besar diantara masyarakat kita masih banyak yang jarang melakukannya, misalnya saja karena susah bangun pagi, malas, dan sebagainya.

Ada sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa olahraga jalan kaki bisa memberikan banyak manfaat kesehatan selama dilakukan setidaknya 20 hingga 25 mil dalam 1 minggu, dimana mereka yang melakukannya cenderung memiliki usia yang lebih lama jika dibandingkan dengan mereka yang jarang berjalan kaki.

Berikut ini adalah Manfaat Kesehatan Jalan Kaki, diantaranya :

  • Mencegah osteoporosis

Untuk menjaga kesehatan tulang, tubuh tidak hanya membutuhkan vitamin D dan kalsium namun juga gerakan kaki yang dilakukan setidaknya 1.000 langkah dalam setiap hari dan tubuh yang terkena sinar matahari setidaknya 15 menit dalam setiap harinya. Bilamana anda rutin berjalan kaki maka tulang anda akan memiliki resiko yang kecil untuk terkena masalah osteoporosis.

  • Menguatkan otot

Ketika anda berjalan kaki, badan dan otot anda akan bergerak yang bisa memperkuat otot paha, kaki dan bokong.

  • Menurunkan Berat badan

Seseorang yang memiliki berat badan yang berlebihan selain bisa merusak penampilan tubuh juga bisa meningkatkan resiko yang tinggi untuk terkena penyakit. Untuk mencegah masalah tersebut anda bisa membiasakan diri untuk berjalan kaki setiap pagi dimana kebiasaan ini bisa membakar kalori.

  • Melancarkan sirkulasi darah

Ketika anda berjalan kaki, detak jantung anda akan berdetak lebih cepat yang akan memompa darah ke seluruh tubuh sehingga akibatnya akan membuat sirkulasi darah dalam tubuh tetap terjaga dengan baik.

  • Mengontrol gula darah

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Medical Association menyebutkan bahwa sering melakukan latihan jalan kaki setiap pagi hasilnya akan meningkatkan kemungkinan untuk menjaga kestabilan gula darah dalam tubuh.

  • Menjaga kesehatan jantung

Bila anda ingin supaya kesehatan jantung anda tetap terjaga dengan baik maka anda bisa mulai membiasakan diri untuk berjalan kaki setiap hari. Kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setiap pagi disebutkan bisa mencegah serangan jantung. Dengan demikian anda tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk menjaga kesehatan jantung karena anda bisa melakukannya dengan hanya memiliki kebiasaan berjalan kaki.

  • Menyehatkan paru-paru

Berjalan kaki dengan irama yang cepat disebutkan baik untuk kesehatan fungsi organ paru-paru, terutama ketika dilakukan di pagi hari dimana udara masih segar dan masih bebas dari asap polusi.

  • Mencegah Diabetes

Dengan terjaganya kadar gula darah dalam tubuh maka secara tidak langsung akan mencegah resiko penyakit diabetes. Menurut hasil penelitian dari National Institute of Diabetes and Gigesive and Kidney Diseases, disebutkan bahwa berjalan kaki dengan kecepatan 6 km/ jam dan dilakukan selama 50 menit saja bisa menekan resiko penyakit diabetes.

  • Menurunkan Tekanan Darah

Berjalan kaki yang dilakukan setiap pagi bisa membuat tekanan darah menjadi turun dan bisa mengurangi tingkat kepekatan darah.

Dengan demikian kebiasaan berjalan kaki bisa mencegah terjadinya penggumpalan darah yang bisa menyebabkan pembuluh darah menjadi tersumbat.

  • Menurunkan Kolesterol

Ketika anda berjalan kaki di pagi hari maka jenis kolesterol yang baik akan berfungsi sebagai penyerap jenis kolesterol yang jahat.

  • Mencegah Stroke

Dalam hasil penelitian yang terbaru disebutkan bahwa memiliki kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setidaknya 20 jam dalam 1 minggu bisa menurunkan resiko penyakit stroke sebanyak 2-3 kali. Dengan demikian wajar saja jika orang-orang pada jaman dahulu jarang ada yang memiliki penyakit stroke karena di masa tersebut sebagian besar masyarakat memiliki kebiasaan berjalan kaki ketika bepergian kemana-mana.

  • Menjaga kebugaran dan Kekebalan Tubuh

Memiliki kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setidaknya 3 kali dalam 1 minggu bisa meningkatkan kebugaran tubuh dan menjaga sistem pernapasan yang pada akhirnya bisa menjaga daya tahan tubuh terhadap penyakit.

  • Meningkatkan metabolisme tubuh

Seseorang yang terbiasa berjalan kaki setiap pagi cenderung memiliki peningkatan terhadap metabolisme meskipun dirinya tidak bergerak.

  • Membakar lemak dalam tubuh

Berjalan kaki setidaknya 20 menit dalam setiap harinya disebutkan bisa membakar setidaknya 7 pounds lemak dalam tubuh.

  • Membantu Otak melepaskan hormon endorfin

Endorfin merupakan hormon yang mengandung senyawa kimia yang bisa memicu seseorang untuk merasa bahagia. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pituitary yang letaknya berada di bagian bawah otak. Endorfin disebutkan bisa memberikan efek yang setara dengan 200 kali dari efek yang diberikan oleh morfin, yaitu menimbulkan perasaan bahagia, nyaman dan memberikan energi tambahan.

  • Meningkatkan kekuatan konsentrasi

Dengan berjalan kaki maka anda akan menjadi lebih waspada sehingga akan mengoptimalkan kekuatan otak untuk semakin berkonsentrasi.

  • Seperti Melakukan Meditasi

Berjalan kaki yang dilakukan di pagi hari bisa memberikan manfaat yang setara dengan yoga dimana angin segar yang mengenai tubuh akan mengeluarkan energi positif dan bisa menghilangkan masalah yang berhubungan dengan mental, misalnya depresi.

  • Mencegah Pikun

Seseorang yang sudah memasuki usia lanjut di atas 65 tahun memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mudah mengalami pikun. Kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setiap pagi bisa mengurangi resiko pikun sebesar 40% dan bahkan bisa menjaga fungsi otak.

  • Menjaga kualitas tidur yang baik

Penelitian yang dilakukan oleh Fred Hutchison Cancer Research Center di Seattle, menyebutkan bahwa olah raga yang dilakukan pada pagi hari seperti berjalan kaki bisa meningkatkan kemungkinan untuk tidur nyenyak pada malam hari.

Dengan demikian berjalan kaki bukan hanya suatu kegiatan interaksi serta aktivitas yang bisa mengantarkan anda ke suatu tempat tujuan, namun juga bisa membantu menjaga kesehatan.

 

Reaksi Transfusi

Reaksi transfusi adalah kejadian tidak diinginkan yang terjadi pada saat atau setelah transfusi. Reaksi transfusi untuk sebagian besar terjadi selama transfusi berlangsung atau sesaat sesudahnya, sedangkan sebagian lagi mamakan waktu lebih lama, dengan gejala-gejala yang tidak nyata dan efek terapeutik yang diharapkan tidak tercapai.

Berdasarkan waktu timbulnya gejala, reaksi transfusi dibedakan menjadi reaksi transfusi segera dan tertunda.

  • Reaksi transfusi segera adalah reaksi transfusi dengan gejala yang timbul selama transfusi sampai kira-kira 2 jam sesudahnya.
  • Reaksi transfusi tertunda apabila gejalanya timbul beberapa lama setelah transfusi selesai yaitu mulai dari beberapa hari, bulan sampai beberapa tahun berikutnya.

 

Pedoman untuk penegakan diagnosis dan penatalaksanaan reaksi transfusi yang segera.

Kategori 1 : Reaksi Ringan

  • Ditandai dengan reaksi kulit yang terbatas yaitu urtikaria atau ruam.
  • Gejalanya adalah pruritus atau gatal-gatal dengan kemungkinan penyebab hipersensitivitas (ringan).

Penatalaksanaan segera:

  • Perlambat transfusi.
  • Suntikkan antihistamin intarmuskular (misalnya klorfeniramin 0,1 mg/kg atau preparat yang ekuivalen).
  • Jika dalam waktu 30 menit tidak tampak perbaikan klinis atau bila tanda dan gejalanya memburuk, lakukan penanganan seperti kategori 2.

 

Kategori 2 : Reaksi yang cukup berat

  • Ditandai dengan flusing, urtikaria, rigor, febris, gelisah dan takikardia.
  • Gejalanya adalah kecemasan, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan sakit kepala.
  • Kemungkinan penyababnya hipersinsitivitas (sedang-berat); reaksi transfusi febris non hemolitik (antibodi terhadap sel darah putih atau trombosit, antibodi terhadap protein termasuk Ig A) ; kemungkinan kontaminasi dengan pirogen dan/atau bakteri.

Penatalaksanaan segera:

  • Hentikan transfusi, ganti set transfusi dan pertahankan jalur infus agar tetap terbuka dengan pemberian salin normal.
  • Beritahukan segera pada dokter yang merawat pasien dan bank darah.
  • Kirimkan unit darah dengan set transfusinya, urin harus diambil dan sampel darah baru (satu sampel yang dibekukan dan satu lagi diberi antikoagulan) diambil dari pembuluh darah vena yang berlawanan dengan tempat infus. Pengiriman ini bersama formulir permintaan yang sesuai dari bank darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Suntikkan antihistamin intarmuskular (misalnya klorfeniramin 0,1 mg/kg atau preparat yang ekuivalen) dan berikan preparat antipiretik oral atau rektal (misalnya parasetamol 10 mg/kg : 500 mg – 1 g pada pasien dewasa). Hindari pemakaian aspirin pada pasien yang mengalami trombositopenia.
  • Suntikan preparat kortikosteroid dan bronkodilator secara IV jika timbul gejala anafilaktis (misalnya bronkospasme, stridor).
  • Kumpulkan urin selama 24 jam berikutnya untuk bukti hemolisis dan kirimkan sampel urin tersebut ke laboratorium.
  • Jika terjadi perbaikan klinis, mulailah kembali transfusi secara perlahan-lahan dengan unit darah yang baru dan lakukan observasi yang cermat.
  • Jika tidak terjadi perbaikan dalam waktu 15 menit atau jika tanda dan gejalanya bertambah, lakukan penanganan seperti kategori 3.

 

Kategori 3 : Reaksi yang mengancam jiwa pasien

  • Ditandai dengan rigor, febris, gelisah, hipotensi (penurunan tekanan darah sistolik sebesar 20 %), takikardia (kenaikan frekwensi jantung sebesar 20%), hemoglobinuria (urin berwarna merah), perdarahan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya (DIC).
  • Gejalanya adalah kecemasan, nyeri dada, nyeri di dekat tempat transfusi, gawat pernafasan/ sesak nafas, nyeri pada pinggang/punggung, sakit kepala, dipsnea.
  • Kemungkinan penyebabnya adalah hemolisis akut intravaskular, kontaminasi bakteri dan syok septik, kelebihan muatan cairan, anafilaksis, cidera paru akut yang berkaitan dengan cidera.

 

Penatalaksanaan segera :

  • Hentikan transfusi, ganti set transfusi dan pertahankan jalur infus agar tetap terbuka dengan pemberian salin normal.
  • Berikan infus larutan salin normal (dosis inisial 20 – 30 ml/kgBB) untuk mempertahanankan tekanan darah sistolik. Jika pasien mengalami hipotensi, berikan infus tersebut selama lima menit dan tinggikan kedua tungkai pasien.
  • Pertahankan saluran nafas pasien dan berikan oksigen dengan kecepatan aliran yang tinggi lewat masker oksigen.
  • Suntikan adrenalin (dalam bentuk larutan 1 : 1000) dengan takaran 0,01 mg/kgBB secara intramuskular.
  • Suntikan preparat kortikosteroid dan bronkodilator secara IV jika timbul gejala anafilaktis (misalnya bronkospasme, stridor).
  • Berikan preparat diuretik: misalnya furosemid 1 mg / kgBB IV atau preparat yang ekuivalen.
  • Beritahukan segera pada dokter yang merawat pasien dan bank darah.
  • Kirimkan unit darah dengan set transfusinya, urin yang harus diambil dan sampel darah baru (satu sampel yang dibekukan dan satu lagi diberi antikoagulan) yang diambil dari pembuluh darah vena yang berlawanan denban tempat infus. Pengiriman ini bersama formulir permintaan yang sesuai dari bank darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Lakukan pengecekan terhadap spesimen urin yang baru untuk menemukan tanda-tanda hemoglobinuria.
  • Mulai pengumpulan urin 24 jam dan mengisi kartu keseimbangan cairan serta mencatat semua asupan serta keluaran urin.
  • Pertahankan keseimbangan cairan.
  • Perhatikan perdarahan yang terjadi pada tempat tusukan atau luka. Jika terdapat bukti klinis atau laboratorium yang menunjukkan koagulasi intravaskular disseminata (DIC), berikan preparat konsentrat trombosit (disis dewasa 12 unit) atau plasma beku segar (dosis dewasa 3 unit).
  • Lakukan pengakajian ulang, jika pasien dalam keadaan hipotermia:
    • Ulangi pemberian infus larutan salin dengan takaran 20 – 30 ml / kgBB dalam waktu 5 menit.
    • Berikan inotrope jika preparat ini tersedia.
  • Jika keluaran urinnya menurun atau pemeriksaan laboratorium membuktikan adanya gagal ginjal akut (kadar kalium, ureum dan kreatinin meningkat):
    • Pertahankan keseimbangan cairan secara akurat.
    • Ulangi suntikan furosemid.
    • Pertimbangkan pemberian dopamin jika preparat ini tersedia.
    • Mintalah bantuan dokter spesialis karena pasien mungkin memerlukan dialisis renal.
  • Jika terdapat kecurigaan bakterimia (gejala rigor/menggigil, febris, kolap tanpa adanya bukti reaksi hemolitik), mulailah menyuntikan antibiotik berspektrum luas secara IV.

Beberapa penyakit yang dapat ditularkan lewat transfusi meliputi :

  • Hepatitis B
  • Hepatitis C
  • HIV/AIDS
  • Syphilis
  • Malaria
  • CMV
  • Epstein-Barr virus
  • Filariasis
  • Toxoplasmosis
  • Infeksi bakteri lainnya

 

Artikel ini ditulis oleh: Sapti Pudyandari FY

 

Pra-Analitik Pemeriksaan Cairan Otak

PENDAHULUAN

Cairan tubuh merupakan bahan pemeriksaan yang sering diminta untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit. Cairan otak adalah salah satu dari cairan tubuh selain urin, cairan serosa, cairan sendi, cairan tubulus seminalis atau semen. Cairan otak memiliki karakteristik yang berbeda dengan cairan tubuh yang lain, sehingga diperlukan persiapan, cara pengambilan dan penanganan bahan pemeriksaan yang berbeda juga dari cairan tubuh yang lain. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang benar dan dapat dipercaya, diperlukan tahap pra – analitik yang baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada tahap pra – analitik adalah indikasi pemeriksaan, cara pengambilan, penyimpanan dan pengiriman bahan pemeriksaan. Di samping itu perlu diketahui juga hal – hal yang harus diperhatikan dan dicatat pada saat pengambilan bahan, yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan atau dapat memberi petunjuk awal terhadap hasil pemeriksaan. Diharapkan dengan pra – analitik yang baik, akan dapat memberikan hasil pemeriksaan yang benar dan dapat dipercaya.

FISIOLOGI

Otak dilindungi oleh tiga lapis membran dari luar ke dalam yaitu duramater, arachnoid dan piamater. Lapisan piamater melekat erat pada otak, sedangkan lapisan arachnoid  diliputi oleh banyak pembuluh darah otak. Cairan otak terletak dalam rongga/ruang subarachnoid yaitu antara lapisan arachnoid dan piamater. Cairan ini diproduksi oleh kapiler – kapiler pada piamater yang membentuk plexus choroideus. Cairan akan bersikulasi melingkari otak dan medula spinalis. Resorbsi dilakukan oleh villi pada membran arachnoid.

Fungsi cairan otak tersebut untuk membawa nutrisi bagi jaringan saraf, mengangkut sisa metabolisme dan sebagai pertahanan terhadap trauma bagi otak dan medula spinalis. Pada orang normal jumlah cairan otak 90 – 150 ml, pada anak 60 – 100 ml, dan neonatus 10 – 60 ml. Pada keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan resorbsi, jumlah cairan otak akan meningkat.

PRA – ANALITIK

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada tahap pra – analitik yaitu persiapan penderita, pengambilan bahan pemeriksaan berupa cairan otak, serta penanganan setelah bahan diambil termasuk penyimpanan dan pengiriman ke laboratorium.

1. Persiapan Penderita

Dalam pengambilan cairan otak, penjelasan harus diberikan dengan jelas dan baik, karena tindakan pungsi cairan otak merupakan tindakan yang invasif dan lebih beresiko jika dibandingkan dengan tindakan pengambilan darah. Selain itu, dokter yang merawat hendaknya juga memberitahukan kepada penderita dan keluarganya kapan tindakan akan dilakukan, karena bahan pemeriksaan yang sudah diambil harus segera dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa.

2. Pengambilan Bahan

Sebelum dilakukan pengambilan bahan pemeriksaan, disiapkan dahulu formulir permintaan pemeriksaan, wadah/tabung penampung yang berlabel identitas penderita serta semprit/tabung dan jarum yang sesuai. Pada formulir diisi lengkap : identitas pasien (nama, nomor register, nomor rekam medis, ruangan), keterangan klinik/diagnosis, jenis cairan tubuh, dan pemeriksaan yang diminta.

Wadah/tabung penampung untuk cairan otak adalah 3 buah tabung yang diberi nomor urut sesuai dengan urutan yang digunakan. Tabung untuk pemeriksaan mikrobiologi harus steril. Antikoagulan yang digunakan untuk pemeriksaan cairan tubuh adalah K3EDTA cair atau sodium heparin.

Cairan otak diambil dengan cara pungsi. Daerah yang akan dipungsi dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian dilakukan pungsi menggunakan semprit/tabung dan jarum yang sesuai. Cairan otak diambil dengan pungsi lumbal pada L3 – L4 atau L4 – L5.

3. Penanganan Bahan

Untuk cairan otak setelah diambil dan ditampung dalam tabung yang telah disiapkan, pada masing – masing tabung dicantumkan tanggal dan jam saat pengambilan cairan. Hal ini sangat penting karena analisis cairan otak harus dilakukan segera setelah bahan diambil. Keterlambatan dalam pengiriman bahan pemeriksaan ke laboratorium akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Sebagai contoh, kadar glukosa akan menurun secara signifikan setelah 1 jam pengambilan, serta kadar protein akan meningkat akibat destruksi sel. Oleh sebab itu cairan otak sebaiknya dikirim ke laboratorium segera setelah dilakukan pengambilan.

Apabila cairan tidak dapat segera diperiksa, harus disimpan pada suhu 40C.

 

 

Artikel ini ditulis oleh: Laksmita Wahyu Kurniawati

Pemeriksaan Kultur Darah dengan Alat Otomatis

Kultur mikrobiologi, adalah suatu metoda memperbanyak mikroba pada media kultur dengan pembiakan di laboratorium yang terkendali. Microbial cultures atau kultur mikrobiologi digunakan untuk menentukan jenis dari organisme tersebut, keberlimpahannya, atau keduanya. Ini adalah metode diagnostik utama dari mikrobiologi dan digunakan sebagai alat untuk menentukan penyebab dari penyakit infeksi dengan membiarkannya berkembangbiak di medium tertentu. Sebagai contoh, kultur tenggorokan mengambil contoh dengan menyapu bagian ujung dalam tenggorokan dengan cotton bud yang panjang dan membiakkannya pada cawan petri dengan agar, sehingga dapat diketahui mikroba yang berbahaya, misalnya Streptococcus pyogenes, yang menyebabkan penyakit strep throat. Selanjutnya, terma kultur lebih umum digunakan secara tak resmi untuk “pengembangbiakan secara selektif (selectively growing)” mikroba tertentu di laboratorium.

Untuk melakukan pemeriksaan kultur darah, dokter akan mengambil sampel darah dan mengirimkannya ke laboratorium untuk dilakukan pengujian. Dimana hasilnya baru dapat diketahui dalam beberapa hari. Jika seorang sakit parah, dokter mungkin akan memulai perawatan sebelum mendapatkan hasil lengkap kultur darah, pengobatan dilakukan berdasarkan penyebab infeksi.

yang paling mungkin atau kalau dirumah sakit memakai pedoman pola kuman. Kemudian setelah hasil kultur keluar pengobatannya dapat diubah disesuaikan dengan hasil pemeriksaan kultur dan sensitivitas.

Secara ideal untuk pemeriksaan kultur darah dibutuhkan dua atau lebih sampel darah yang diambil pada interval waktu tertentu dari tempat pengambilan yang terpisah (biasanya vena lengan yang berbeda). Hal ini dilakukan supaya pemeriksaan masih dapat mendeteksi mikroorganisme yang mungkin ada dalam jumlah yang sedikit dan atau dilepaskan ke dalam aliran darah secara intermiten, juga membantu memastikan bahwa mikroorganisme yang terdeteksi adalah yang menyebabkan infeksi dan bukan hanya sebagai kontaminan.

Tiga tujuan utama kultur darah yaitu :

  • Mengetahui penyebab dari infeksi
  • Mengidentifikasi agen penyebab
  • Menentukan pemberian terapi antibiotik

Kenapa dilakukan kultur darah?

Selama perjalanan penyakit, beberapa bakteri dan jamur penyebab infeksi dapat menyerang aliran darah dan menyebar ke bagian lain dari tubuh, jauh dari lokasi infeksi aslinya. Tujuan kultur darah adalah untuk mengungkapkan sejumlah infeksi atau adanya masalah, seperti endokarditis, masalah berat dan berpotensi mengancam nyawa yang terjadi ketika bakteri dalam aliran darah ke katup jantung.

Kultur darah mungkin juga mendeteksi organisme penyebab infeksi lain seperti osteomyelitis, infeksi tulang sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus, dan selulitis, suatu infeksi kulit yang melibatkan jaringan tepat di bawah permukaan kulit.

Bagaimana proses mengambil kultur darah?

Idealnya kulit harus dibersihkan dengan sabun dan dibilas dengan air steril yang diikuti pemberian cairan yodium berbasis solusi. Kemudian dicuci dengan larutan alkohol 70% dan dikeringkan sekitar 30 detik. Setiap usaha untuk menggunakan teknik aseptik harus dilakukan, misalnya Betadine dan / atau alkohol semprot dan sarung tangan. Beberapa studi menunjukkan tingkat kontaminasi mungkin tergantung pada jenis larutan antiseptik digunakan.

Sterilisasi kulit harus dilakukan dengan hati-hati karena penting untuk mencegah kontaminasi dari darah yang sedang ditarik. Dengan begini dapt membunuh bakteri yang mungkin berada di permukaan kulit sehingga mereka tidak muncul dalam kultur darah dan mengganggu identifikasi kuman penyebab infeksi.

Kadang-kadang terlihat seperti banyak darah diambil untuk dilakukan kultur, tetapi penting bahwa darah cukup untuk mendapatkan hasil yang akurat. Darah yang diambil mungkin kurang lebih 5 mL  pada bayi dan sekitar 5-10 mL pada anak-anak yang lebih tua. Jumlah darah yang diambil sangat kecil dibandingkan dengan jumlah darah dalam tubuh, dan itu akan diperbaharui dalam waktu 24-48 jam. Setelah kultur darah yang diambil, harus diberi label dan dikirim ke laboratorium tanpa penundaan. Kultur dasar diinkubasi selama 14 hari dan blind culture dilakukan setelah 3, 7 dan 14 hari atau segera setelah ada tandatanda pertumbuhan (misalnya kekeruhan, hemolisis, koloni di lereng agar dalam wadah. Cara pemeriksaan kultur darah dengan mencari hasil positif, dilakukan minimal dua kali sehari saat menggunakan sistem manual.

Sistem otomatis yang dipakai di laboratorium rumah sakit Panti Rapih adalah BacT/Alert Blood Culture System di mana pertumbuhan positif melepaskan CO2 yang dideteksi oleh sensor yang memberitahu staf laboratorium (wadah ditempatkan dalam lemari khusus dan terkait dengan barcode pasien). Jika dideteksi adanya pertumbuhan, wadah dilakukan subkultur dan stain Gram. Dari sini, sensitivitas yang relevan dapat ditentukan. Dalam beberapa kasus organisme dapat diidentifikasi dalam hitungan jam untuk mendeteksi hasil yang positif dengan menggunakan tes pewarnaan Gram dan tes lebih lanjut.

Pemeriksaan lebih lanjut yang mungkin dilakukan langsung pada biakan darah untuk mempercepat identifikasi seperti pengelompokan streptokokus, tes koagulasi, tes antigen untuk pneumococcus dan meningococcus, dll. Metode modern seperti di laboratorium dilakukan secara otomatic dengan alat Vitek telah membantu dalam mempercepat identifikasi organisme dan dapat dilakukan langsung dari wadah kaldu. Biasanya, jika harus ada pertumbuhan, umumnya hanya ada satu organisme, namun sangat jarang, mungkin ada lebih dari satu organisme dan laboratorium akan melakukan tes kepekaan dan tes lanjutan untuk semuanya.

Fitur dan Keuntungan dengan Alat Otomatic

  • Pengerjaannya sangat mudah digunakan, sehingga menghemat waktu, membantu mencegah kesalahan, sehingga bisa mengurangi lama rawat inap
  • Sistem ini menggunakan botol langsung, sehingga mengurangi kontaminasi pada pekerjanya atau menjaga keselamatan pada pekerja
  • Bisa dilakukan kontrol kualitas
  • Bisa mengeliminasi antibiotik yang sudah diberikan oleh dokter yang merawatnya sebelum dilakukan pemeriksaan mikrobiologi, sehingga angka kepositipannya lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan manual. Untuk neutralisasi antimikrobial disini digunakan Adsorbent Polymetric  Beads (APB)
  • Bisa mendeteksi beberpa mikroba secara langsung, misalnya bakteri dan jamur  bisa langsung diperiksa bersama-sama
  • Bisa sekalian memeriksa kuman salmonella typhi langsung bersamaan dengan kuman lain

Sampel yang digunakan:

  • Darah
  • Cairan tubuh yang steril

 

Artikel ditulis oleh: Ririn Maretawati