Produk Darah

Adalah setiap substansi terapeutik yang dibuat dari darah manusia.

Macam-macam produk darah:

  • Darah Lengkap
  • Komponen eritrosit
  • Komponen trombosit
  • Komponen plasma
  • Komponen granulosit

Darah Lengkap (WB):

Donor darah lengkap sebanyak 450 ml mengandung:

  • Volume total dapat mencapai 510 ml (volume bervariasi menurut kebijakan setempat).
  • 450 ml darah donor.
  • 63 ml pengawet antikoagulan.
  • Hemoglobin kurang lebih 12 g/ml
  • Hematokrit 35 – 45 %
  • Tidak ada faktor koagulasi yang labil.
  • Satuan pemberian : satu donor yang juga disebut sebagai “unit” atau “pak”.

Risiko infeksi:

Menularkan mikroorganisme yang belum terdeteksi oleh pemeriksaan skrining.

Penyimpanan :

  • Antara suhu 2 – 6 0C, selama penyimpanan pada suhu tersebut terjadi perubahan komposisi yang disebabkan oleh metabolisme sel darah merah.
  • Transfusi harus dimulai dalam waktu 30 menit setelah darah dikeluarkan dari lemari es.

Kerusakan komponen darah berhubung masa simpan WB dalam suhu 2-6oC dengan larutan ACD sebagai pengawet

Masa Simpan (hr) Kerusakan Komponen Darah
Terdapat kerusakan eritrosit 1-15% akibat proses pengambilan
1 Granulosit, kehilangan daya fagositosis
3 Trombosit
4 – 6 Faktor V dan Faktor VIII
21 30% protein
26 Plasma protein
21 – 28 Limfosit

Indikasi :

  • Penggantian sel darah merah pada kehilangan darah akut dan disertai hipovolemia.
  • Pasien yang memerlukan transfusi sel darah merah ketika tidak tersedia konsentrat atau suspensi sel darah merah.

Kontraindikasi :

Risiko kelebihan muatan volume pada pasien anemia kronis dan gagal jantung insipien.

Pemberian :

  • harus Rh D dan ABO kompatibel dengan resipien
  • jangan menambahkan obat dalam unit darah
  • transfusi harus sudah selesai dalam waktu empat jam sejak transfusi dimulai

Komponen Eritrosit

Tujuan :  meningkatkan kapasitas angkut oksigen darah

  1. Konsentrat Sel Darah Merah ( PRC / Darah Dengan Plasma Kurang)
  • Sel darah merah dengan volume 150 – 200 ml, sebagian besar plasmanya telah dikeluarkan.
  • Kadar Hb + 20 g / 100 ml (tidak kurang dari 45 g per unit)
  • Satuan pemberian : satu donor
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Penyimpanan sama seperti darah lengkap
  • Indikasi :

Anemia

  • Pemberian :

Sama seperti darah lengkap, dapat ditambahkan larutan salin normal (50 – 100 ml) dengan set infus berbentuk Y.

  1. Suspensi Sel Darah Merah
  • 150 – 200 ml sel darah merah dengan sisa plasma yang minimal dan ke dalamnya ditambahkan kurang lebih 100 ml larutan salin normal, adenin, glukosa, larutan manitol (SAG-M) atau larutan nutrien sel darah merah dengan jumlah yang sama.
  • Kadar Hb + 15 g / 100 ml (tidak < 45 g per unit)
  • Satuan pemberian : satu donor
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Penyimpanan:

Sama seperti darah lengkap.

  • Indikasi

Sama seperti PRC

  • Kontra indikasi :

Tidak dianjurkan untuk transfusi tukar pada neonatus.

  • Pemberian :

Sama seperti darah lengkap, dihasilkan kecepatan aliran darah yang lebih baik jika dibandingkan dengan konsentrat sel darah merah atau dengan darah lengkap.

  1. Sel Darah Merah yang telah dihilangkan Lekositnya
  • Suspensi atau konsentrat sel darah merah, mengandung < 5 x 106 ml sel darah putih per paknya, dipersiapkan dengan cara filtrasi melewati filter yang menyingkirkan lekosit.
  • Kadar Hb dan nilai Hmt tergantung apakah produk tersebut merupakan darah lengkap, konsentrasi sel darah merah ataukah suspensi sel darah merah.
  • Deplesi leukosit secara signifikan mengurangi risiko penularan sitomegalovirus (CMV).
  • Satuan pemberian : satu donor
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Penyimpanan :

Bergantung pada metode produksi, konsultasikan pada bank darah.

Indikasi:

  • Mengurangi immunisasi sel darah putih pada pasien yang mendapatkan transfusi berkali-kali; namun untuk menghasilkan keadaan ini, semua komponen darah yang diberikan kepada pasien harus bebas leukosit.
  • Mengurangi infeksi CMV pada situasi yang khusus.
  • Pasien yang pernah mengalami dua kali reaksi febris atau lebih terhadap transfusi sel darah merah.

Pemberiannya sama seperti darah lengkap.

  1. Eritrosit Cuci (Washed Red Cells)
  • Sajian eritrosit yang sudah dicuci dengan larutan garan fisiologik 2 – 3 kali untuk menyisihkan semua konstituen darah kecuali eritrosit.
  • Dengan pencucian ini ikut tersisihkan pula 93% lekosit.
  • Usia eritrosit hanya 24 jam setelah pencucian.

Indikasi :

  • Pasien yang masih menderita febris walaupun sudah mendapat sel darah merah yang telah dihilangkan Lekositnya.
  • Penderita penyakit alergi atau anafilaksi yang terpaksa harus ditransfusi, termasuk penderita asma bronkiale, penderita dengan defisiensi Ig A, hipersensitivitas terhadap protein plasma dan Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria.

Komponen Trombosit

Tujuan : Untuk pencegahan maupun pengobatan penderita trombositopenia atau trombositopatia.

  • Trombositopenia akibat kekurangan produksi trombosit yang paling sering adalah pada anemia aplastika, malignitas primer pada darah seperti lekemia, infiltrasi pada sumsum tulang misalnya limfoma atau carsinoma dan hipoplasi sumsum tulang baik yang sementara maupun yang menetap akibat kemoterapi atau radioterapi.
  • Untuk kasus-kasus tersebut seringkali memerlukan transfusi trombosit yaitu untuk pencegahan karena bila sudah terjadi perdarahan akan mempunyai angka kematian yang tinggi.
  • Transfusi pencegahan ini untuk mempertahankan jumlah trombosit antara 15.000 – 20.000 / ml. Biasanya diperlukan 4 – 6 unit.
  • Bila terjadi komplikasi febris, sepsis atau splenomegali maka diperlukan dosis yang lebih besar 12 – 16 unit.

Petunjuk menghadapi penderita trombositopenia dengan indikasi transfusi trombosit adalah :

    • Jumlah trombosit < 5.000 / ml dengan atau tanpa perdarahan adalah indikator mutlak.
    • Jumlah trombosit <20.000 / ml dengan disertai gejala perdarahan.
    • Jumlah trombosit <50.000 / ml pada operasi besar.
    • Penderita penyakit gangguan fungsi trombosit dengan perdarahan atau waktu perdarahan > 15 menit
    • Jumlah trombosit <100.000 / ml atau waktu perdarahan >15 menit, pada penderita pasca operasi cardiopulmonary bypass.
  1. Konsentrasi Trombosit (Trombosit Pekat / Platelet Concentrate)
  • Unit donor tunggal dalam volume 50 – 60 ml plasma, mengandung paling sedikit 55 x 109 trombosit, < 1,2 x 109 darah merah, < 1,2 x 109 lekosit.
  • Satuan pemberian dapat diberikan sebagai:
  • Unit donor tunggal, dibuat dari satu donor.
  • Unit yang dikumpulkan, dibuat dari 4 – 6 orang donor agar mengandung dosis dewasa, yaitu sedikitnya 240 x 109 trombosit.
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Dapat disimpan hingga 72 jam pada suhu 20 – 24 0C (dengan pengguncangan).
  • Penyimpanan yang lama akan meningkatkan risiko profilasi bakteri dan septikemia.

Indikasi :

  • Perdarahan akibat trombositopenia maupun efek fungsi trombosit
  • Pencegahan perdarahan akibat trombositopenia, seperti pada kegagalan sumsum tulang

Kontraindikasi :

  • Tidak digunakan untuk profilaksi pada pasien bedah, kecuali jika pasien tersebut menderita defisiensi trombosit prabedah yang signifikan.
  • Bukan merupakan indikasi pada :
  • ITP, TTP, DIC yang tidak ditangani
  • Trombositopenia yang menyertai septikemia sampai sesudah terapi dimulai atau pada kasus hipersplenisme

Dosis :

Satu unit konsentrat trombosit tiap 10 kg berat badan.

Pada orang dewasa dengan berat badan 60 – 70 kg, pemberian 4 – 6 unit donor tunggal yang mengandung sedikitnya 240 x 109 trombosit seharusnya menaikkan jumlah trombosit sebesar 20 – 40 x 109 /L.

Kenaikkan jumlah trombosit tidak begitu besar jika terdapat splenomegali, DIC, septikemia.

  1. Plasma Kaya Trombosit (Platelet Rich Plasma)

Adalah plasma yang masih mengandung trombosit. Diberikan untuk kasus-kasus trombositopenia yang juga memerlukan faktor-faktor lain yang terdapat di dalam plasma seperti faktor-faktro koagulasi dan protein plasma sendiri sebagai volume expander.

  1. Trombosit Mampat (Pooled/Packed Platelet)

Dari trombosit pekat, masih dipusingkan lagi 5000 RPM dalam 5 menit untuk memisahkan plasma sebanyak mungkin dan kemudian diencerkan lagi sehingga volume semula 30 ml menjadi 50 ml. Sajian ini diberikan khusus untuk anak-anak yang mampu menerima volume plasma yang banyak.

  1. Trombosit Cuci (Washet Platelet)

Sajian dari trombosit pekat yang dicuci dengan larutan garam fisiologik sehingga bebas dari protein plasma. Ditujukan untuk kasus-kasus yang pernah mengalami reaksi transfusi berat.

  1. Trombosit Miskin Monosit (Monocyte Poor Platelet)

Disajikan darai trombosit pekat setelah diputar lagi 750 RPM 3 menit, dan diambil suspensi trombosit yang bebas monosit. Diberikan pada kasus-kasus yang ada riwayat alloimmunisasi terhadap antigen lekosit.

  1. Trombosit beku (Frozen Platelet)
  • Berguna untuk masa-masa dimana donor trombosit sukar diperoleh.
  • Dapat juga dipakai untuk kasus-kasus yang telah refrakter terhadap pemberian trombosit.
  • Trombosit dari Donor Tunggal (Siple Donor Platelet)
  • Diperoleh dengan cara apheresis dan ditujukan untuk penderita trombositopenia yang memerlukan multi transfusi dan telah mengalami refrakter terhadap random donor. Keuntungan dari donor tunggal ini adalah disamping kemungkinan allo immunisasi dan tertular hepatitis lebih kecil.

Komponen Plasma

Plasma adalah bagian darah yang berbentuk cair dan telah tercampur dengan antikoagulan. Plasma digunakan untukkasus-kasus hipovolumia misalnya karena luka bakar, perdarahan karena koagulopati,  pada transfusi tukar dan penyakit immunitas.

Macam Sajian :

  1. Plasma Segar (Fresh Plasma)

Plasma dimana faktor pembekuan yang labil yaitu faktor V, faktor VIII, trombosit dan faktor pembekuan yang lain masih berfungsi. Dapat dipakai sebagai volume expander.

  1. Plasma Segar beku (Fresh Frozen Plasma)

Plasma segar yang dibekukan dalam waktu 6 jam setelah penyumbangan dan disimpan pada suhu – 20 0C, atau lebih baik pada < 30 0C. Dipakai untuk kasus-kasus koagulopati pada penyakit hati akut dan kronis, koagulopati pada DIC, transfusi masif dan kadang-kadang berhasil baik pada Thrombotic Thrombocytopenia Purpura.

  1. Plasma Beku (Frozen Plasma)

Plasma dibekukan setelah lebih dari 6 jam penyumbangan. Faktor-faktor pembekuan yang masih berfungsi tergantung lamanya waktu antara pengambilan dan pembekuan.

  1. Plasma Miskin Trombosit (Platelet Poor Plasma)

Plasma dimana trombosit telah dipisahkan sebelumnya. Dipergunakan pada kasus-kasus yang memang tidak memerlukan trombosit dan untuk mengurangi reaksi panas akibat antigen trombosit.

Komponen Granulosit

Konsentrat Granulosit

Konsentrat granulosit dapat dibuat dari darah lengkap yang dibuat buffy coat atau dengan separator sel (leukoferesis), dimana biaya cara pertama lebih rendah bila dibandingkan dengan cara kedua. Indikasi transfusi granulosit terbatas untuk kasus yang terpilih sekali; saat manfaat terjadi lebih besar daripada bahaya yang ditimbulkan; misal pada neutropenia persisten dan infeksi berat, fungsi neutrofil abnormal dan infeksi persisten, sepsis neonatus. Efek yang merugikan yaitu: aloimmunisasi, penularan infeksi, infiltrasi paru.

 

 

Artikel ini ditulis oleh: Sapti Pudyandari FY

Peran Procalsitonin dalam Diagnosa Sepsis

Sepsis adalah tanggap tubuh terhadap infeksi. Infeksi bisa disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh dan terbatas dibagian tubuh atau menyebar keseluruh peredaran darah.  Sepsis sering terjadi di rumah sakit, dimana sampai saat ini sepsis masih merupakan masalah di dunia medis dan sering menyebabkan kematian, karena itu perlu diketahui dan dipahami keberadaan petandanya yang bertujuan untuk menemukannya sedini mungkin. Petanda diagnosis sepsis yang ideal adalah: sangat khas dan peka, mudah penggunaanya, cepat dan murah serta berbanding lurus dengan kegawatannya. Sampai sekarang standart baku untuk diagnosis infeksi adalah kultur, tetapi ada beberapa kelemahan dari pemeriksaan kultur, yaitu dibutuhkannya waktu yang lama, sehingga diagnosis sepsis sering terlambat penentuannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, PCT (procalcitonin) telah diakui sebagai petanda sensitif dan spesifik yang membantu dokter dalam deteksi dan terapi pemantauan awal infeksi bakteri yang berat atau sepsis. Selain itu pemeriksaan ini dapat pula digunakan untuk memantau hasil pengobatan.
Procalcitonin merupakan protein fase akut yang konsentrasinya meningkat pada penderita sepsis. Procalcitonin meningkat juga pada keadaan Systemic Inflammantory Response Syndrome (SIRS) pada penderita trauma yang mengalami disfungsi organ, akan tetapi kadarnya jauh lebih rendah dari pada penderita SIRS dengan infeksi (sepsis).

Procalcitonin merupakan penanda yang memungkinkan diferensiasi secara spesifik antara infeksi bakteri dengan sebab-sebab lain dari reaksi inflamasi untuk diagnosis laboratorium.

PROCALSITONIN

Procalsitonin merupakan prohormon cakcitonin, mengandung 3 fragmen, yaitu:

  1. fragmen N terminal aminoprocalcitonin (57 asam amino)
  2. calcitonin (32asam amino) terletak pada pusat peptida
  3. calcitonin caarboxyterminal peptide-1 (CG-1) atau katacalcin (21 asam amino) pada ujung terminal karboksil.

 

Gambar 1. Struktur molekul procalcitonin

Sejak awal tahun 1990-an procalcitonin pertama kali digambarkan sebagai tanda spesifik infeksi bakteri. Kepekaan serum procalcitonin meningkat saat infeksi sistemik, khususnya ketika hal tersebut disebabkan oleh infeksi bakteri. Procalcitonin ialah prohormon calcitonin, kadarnya meningkat saat sepsis dan sudah dikenali sebagai petanda penyakit infeksi yang berat. Kadar procalcitonin dapat mencapai 1000 ng/ml saat sepsis berat dan syok sepsis. Pada keadaan fisiologis, kadar procalcitonin rendah dan bahkan tidak terdeteksi (dalam ng/ml), tetapi akan meningkat bila terjadi bakteriemia atau fungimia yang timbul sesuai dengan beratnya infeksi.

Pelepasan procalcitonin kedalam sirkulasi dengan kadar yang tinggi dalam berbagai keadaan penyakit tidak disertai dengan peningkatan kadar calcitonin secara bermakna. Waktu paruh procalcitonin adalah 25 sampai 35 jam dan secara signifikan tidak berubah pada gagal ginjal, oleh karena itu kadar dalam serum dapat digunakan untuk tujuan diagnostik pada penderita yang fungsi ginjalnya terganggu. Procalcitonin diinduksi oleh endotoksin yang dihasilkan oleh bakteri selama terjadi infeksi sistemik. Infeksi yang disebabkan oleh protozoa, infeksi non bakteri  (virus) dan penyakit autoimun tidak menginduksi procalcitonin. Kadar procalcitonin muncul cepat dalam 2 jam setelah rangsangan, mencapai puncaknya setelah 12 sampai 48 jam dan secara perlahan menurun dalam waktu 48 sampai 72 jam.

Peran Procalcitonin terhadap sepsis adalah menghambat prostaglandin dan sintesis trmboksan pada limfosit in vitro dan mengurangi hubungan stimulasi LPS terhadap produksi TNF pada kultur darah. Menurut Whicher, pemberian rekombinan human procalcitonin terhadap sepsis pada tupai menghasilkan peningkatan mortalitas yang berbanding terbalik dengan pemberian netralisasi antibodi. Kemungkinan procalcitonin mempunyai peran dalam fisiologi sepsis yang didukung oleh untaian antara procalcitonin dan sitokin seperti TNF, IL-6 dan granulocyte colony-stimulaating factor.

Kegunaan Pemeriksaan Procalcitonin

  • Mendiagnosis sepsis lebih dini atau dapat mebedakan antara infeksi dan non infeksi pada SIRS. Karena seringkali diagnosis sepsis sulit ditetapkan karena tanda-tanda awal sulit dikenali dan serupa dengan berbagai proses non infeksi. Sulitnya penegakan diagnosis menyebabkan diagnosis menjadi terlambat, pemberian antibiotika menjadi tidak efektif, angka mortalitas dan kebutuhan biaya perawatan tetap tinggi serta lama perawatan (mondok) lebih lama.
  • Pengamatan kadar Procalcitonin bermanfaat untuk menilai perlu tidaknya biakan darah dilakukan serta penetapan penggunaan antibiotik.
  • Mengetahui prognosis dari sepsis
  • mengevaluasi hasil pengobatan.
  • Pemeriksaan Procalcitonin meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas dalam mendiagnosis sepsis akibat bakteri.

 

Waktu Pemeriksaan Procalcitonin
Pemerksaan Procalcitonin direkomendasikan sesegera mungkin dilakukan untuk semua pasien dengan dugaan SIRS atau sepsis.

Indikasi Pemeriksaan Procalcitonin

  • Pasien di rumah sakit baik di UGD, ICU maupun diruangan dengan kecurigaan SIRS atau sepsis.
  • Pasien Sepsis yang diterapi antibiotik, untuk mengevaluasi hasil pengobatan dan juga mengetahui prognosis penyakit.

Informasi Teknis
Nama Pemeriksaan : Procalcitonin
Metode Pemeriksaan : Enzyme Linked
Jenis Sampel : Serum atau Plasma
Stabilitas : 48 jam pada 2-8°C atau 6 bulan pada -25 ± 6°C
Nilai Rujukan : <0,05 ng/mL

  • Pembekuan dan pencairan dari plasma atau serum yang disimpan/dibekukan difreezer pada pemeriksaan procalcitonin tidak mempengaruhi kadarnya, tetapi sesudah penyimpanan plasma selama 24 jam pada suhu ruang akan mengurangi kadarnya sampai 12,4% dan bila disimpan pada suhu 4o C akan mengurangi kadarnya sampai 6,3%.
  • Kepekatan kadar procalcitonin dari sampel darah arteri dan vena tidak ada perbedaan, paling baik menggunakan plasma EDTA. Untuk pemeriksaan procalcitonin ini sebaiknya dilakukan sebelum 4 jam setalah penngambilan sampel.
  • Pemeriksaan ini tidak dipengaruhi noleh kadar hemoglobin, bilirubin ataupun trigliserida, tetapi untuk kasus hemolisis berat tidak disarankan.

Keterangan Hasil dan Intepretasi

  • Hasil < 0,5 ng/mL menunjukan bukan sepsis, tetapi tidak menyingkirkan adanya infeksi lokal
  • Hasil 0,5-2 ng/mL harus diinterpretasi bersamaan dengan riwayat pasien
  • Pemeriksaan Procalcitonin harus diulang dalam 6-24 jam kemudian jika diperoleh hasil < 2 ng/mL
  • Hasil > 2 ng/mL menunjukkan risiko tinggi adanya sepsis
  • Hasil > 2 sampai dengan 10 menggambarkan adanya sepsis yang berat
  • Hasil > 10 kemungkinan sudah terjadi shock septic

Pada infeksi lokal, tidak ada peningkatan kadar procalcitonin, penurunan yang tajam terhadap terapi antibiotika tidak secara langsung menyatakan penghilangan infeksi, tetapi semata-mata merupakan reaksi sistemik yang terkendali

Artikel ini ditulis oleh dr Tri Djoko Endro Susilo, Sp.PK

 

Pemeriksaan Antinuclear Antibody Test (ANA Test) untuk Penyakit Autoimun

Kita secara normal mempunyai antibodi-antibodi dalam darah kita yang menolak/mengusir penyerbu-penyerbu kedalam tubuh kita, seperti mikroba-mikroba virus dan bakteri. Anti-nuklir antibodi (juga dikenal sebagai anti-nuclear factor atau ANF) adalah autoantibodi yang mempunyai kemampuan mengikat pada struktur-struktur tertentu didalam inti (nukleus) dari sel-sel lekosit. ANA yang merupakan imunoglobulin (IgM, IgG, dan IgA) bereaksi dengan inti lekosit menyebabkan terbentuknya antibodi, yaitu anti-DNA dan anti-D-nukleoprotein (anti-DNP). Anti-DNA dan anti-DNP hampir selalu dijumpai pada penderita SLE. Temuan anti-DNA akan berfluktuasi bergantung pada proses penyakit ini, yang disertai dengan remisi dan eksaserbasi. Anti-DNA 95% dapat ditemukan pada penderita nefritis lupus.

Uji ANA merupakan skrining untuk lupus eritematosus sistemik (SLE) dan penyakit kolagen lainnya. Kadar total ANA juga dapat meningkat pada penyakit skleroderma, rheumatoid arthritis, sirosis, leukemia, mononukleosis infeksiosa, dan malignansi. Untuk mendiagnosis lupus, temuan uji ANA harus dibandingkan dengan hasil uji lupus lainnya.


Masalah Klinis

Penyakit-penyakit autoimun adalah kondisi-kondisi dimana ada suatu kelainan dari sistim imun yang dikarakteristikan oleh produksi yang abnormal dari antibodi-antibodi (auto-antibodies) yang diarahkan terhadap jaringan-jaringan tubuh. Penyakit-penyakit autoimun secara khas mencirikan peradangan dari beragam jaringan-jaringan tubuh. ANAs ditemukan pada pasien-pasien dengan suatu jumlah dari penyakit-penyakit autoimun yang berbeda, seperti  systemic lupus erythematosus, Sjogren’s syndrome, rheumatoid arthritis, polymyositis, scleroderma, Hashimoto’s thyroiditis, juvenile diabetes mellitus, Addison disease, vitiligo, pernicious anemia, glomerulonephritis, dan pulmonary fibrosis.

ANAs dapat juga ditemukan pada pasien-pasien dengan kondisi-kondisi yang tidak dipertimbangkan sebagai penyakit-penyakit autoimun yang klasik, seperti infeksi-infeksi kronis dan kanker.
Banyak obat yang bisa merangsang produksi ANA, seperti prokainamid (Procan SR), antihipertensi (hidralazin), dilantin, antibiotik (penisilin, streptomisin, tetrasiklin), metildopa, anti-TB (asam p-aminosalisilat, isoniazid), diuretik (asetazolamid, tiazid), kontrasepsi oral, trimetadion, fenitoin. ANA yang dipicu oleh obat-obatan disebut sebagai drug-induced ANA.

Prosedur
Untuk mendeteksi ANA dapat menggunakan tes ANA. Tes ANA ini dapat mendeteksi auto-antibodies yang ada dalam serum darah penderita. Ada beberapa metode tes yang digunakan untuk mendeteksi dan menghitung banyaknya ANA dalam tubuh penderita, diantaranya immunoflurescence dan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Saat ini metode ELISA adalah metode yang paling sering digunakan, karena metode ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibanding immunoflurescence.

Metode ELISA melibatkan interaksi antibodi dalam serum penderita dengan antigen yang ada kemudian akan membentuk reaksi kompleks yang ditunjukkan dengan adanya perubahan warna. Hasil yang diperoleh adalah sebuah nilai Optical Density dari pengukuran fotometer. Pembacaan hasil akan dibaca sebagai positif, negative atau equivocal.

Tes ANA diakatakan negative apabila hasil yang didapat kurang dari 20 Unit, yang berarti tidak terdeteksi penyakit autoimun. Sebaliknya, tes ANA dikatakan positif apabila hasil yang didapat >60 Unit yang berarti adanya penyakit autoimun. Tes ANA yang positif tidak mendiagnosa penyakit secara spesifik, dikarenakan ada bebrapa kondisi yang membuat hasil tersebut menjadi positif, diantaranya SLE, chronic liver disease, rheumatoid arthtritis, collagen vascular disease, Sjogren syndrome, scleroderma, dan thyroid disease.

Tes ANA dapat ,menjadi suatu pilihan yang terutama dalam mendukung diagnose penyakit SLE. Sebab menurut According to the American College of Rheumatology, lenih dari 95% penderita penyakit SLE akan memberikan hasil positif pada tes ini. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua hasil tes ANA yang positif akan menunjukkan bahwa terdapat penyakit SLE, dan yidak smeua orang yang menderita penyakit SLE memberikan hasil yang positif. Oleh karena itu, tes ini tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya diagnosis untuk penyakit SLE, tetapi dapat menjadi penunjang yang utama untuk mendeteksi adanya penyakit autoimun.

Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium

• Obat-obatan tertentu yang mempengaruhi hasil pengujian (lihat pengaruh obat)
• Proses penuaan dapat menyebabkan peningkatan kadar ANA

 

Artikel ini ditulis oleh: Rosalina Dwi Astuti

Deteksi Dini dengan Tumor Marker

Penanda Tumor adalah senyawa yang ditemukan diatas jumlah normal di dalam darah, urin, atau cairan tubuh lainnya, apabila terdapat kanker tertentu didalam tubuh. Mayoritas sebagai penanda tumor adalah berupa protein, namun pada beberapa jenis tumor yang terbaru dapat berupa gen atau senyawa lain. Ada banyak sekali penanda tumor yang saat ini digunakan oleh para dokter untuk menunjang diagnosis dan juga dapat digunakan untuk pemantauan pasien pada penderita kanker. Sebagian penanda tumor hanya spesifik ditemukan pada satu jenis kanker tertentu, namun sebagian lain dapat ditemukan pada beberapa jenis tumor.

Manfaat pemeriksaan penanda tumor adalah :

  1. Penunjang diagnosis
  2. Pemantauan terapi atau pengobatan penderita
  3. Pemantauan kekambuhan

Ada sejumlah Penanda tumor spesifik, antara lain :

ALPHA – FETOPROTEIN (AFP)
Sangat berguna untuk mengertahui responds terapi pada kanker hati ( Karsinoma Hepatoseluler ). Kadar normal AFP biasanya kurang dari 20 ng/mL. Kadar AFP akan meningkat pada 2 dan 3 pasien dengan kanker hati. Kadar AFP meningkat bersama membesarnya tumor. Pada kebanyakan pasien dengan kanker hati, kadar AFP meningkat lebih dari 500 ng/mL. AFP meningkat pula pada hepatitis akut dan kronis, tapi jarang lebih dari 100 ng/mL. AFP juga meningkatk pada kanker testis tertentu (jenis sel embryonal dan endodermal sinus) dan digunakan untuk follow – up kanker tersebut. Peningkatan kadar AFP juga pada Kanker ovarium jenis tertentu yang jarang dan kanker testis yang disebut yolk sac tumor atau mixed germ cell cancer.

BETA-2-MICROGLOBULIN (B2M).
Kadar B2M akan meningkat pada multiple myeloma, chronic lymphocytic leukimia ( CLL ) dan beberapa limfoma. Kadar normal kurang dari 2,5 ug/mL. Pasien dengan kadar B2M tinggi menunjukan prognosis jelek.

CA 15-3
Terutama untuk monitoring kanker payudara. Peningkatan kadar Ca 15-3 darah dijumpai pada kurang dari 10 % pasien dengan stadium awal dan sekitar 70 % pasien dengan stadium lanjut. Kadar biasanya turun seiring keberhasilan terapi. Kadar normal biasanya kurang dari 25 U/mL, tapi kadar sampai 100 U/mL kadang dijumpai pada wanita sehat.

Ca 125 
Merupakan penanda tumor standar untuk memonitoring selama / setelah terapi kanker epitel ovarium. Kadar normal biasanya kurang dari 30 – 35 U/mL. Lebih 90 % dengan kanker stadium lanjut memiliki kadar Ca 125 tinggi.

Ca 72-4
Suatu penanda Tumor baru yang masih dalam penelitian untuk tumor ovarium, pankreas, dan saluran cerna.

Ca 19-9
Walaupun pada awalnya dikembangkan untuk deteksi kanker colorectal, tapi ternyata lebih sensitif terhadap kanker pankreas. Kadar normal kurang dari 37 U/mL. Kadar yang tinggi pada awal diagnosis menunjukan stadium lanjut dari kanker. Calcitonin adalah hormon yang diproduksi sel tertentu (parafollicular C Cells) pada glandula tiroid yang secara normal membantu regulasi kadar kalsium darah. Kanker pada Parafollicular C Cells yang disebut medullary thyroid carcinoma ( MTC ) menyebabkan peningkatan kadar hormon calcitonin dalam darah.

Carcinoembryonic Antigen (CEA)
Penanda tumor untuk memonitoring pasien dengan kanker colorectal selama / setelah terapi, tetapi tidak bisa dipakai untuk skreening atau diagnosis. Kadar normalnya sangat bervariasi antar laboratorium, tapi kadar lebih dari 5 ng/mL dikatakan Abnormal.

Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
Juga dikenal sebagai Beta – HCG. Kadarnya meningkat pada pasien dengan beberapa jenis kanker testis dan ovarium (tumor germ cell) dan penyakit gestational trophoblastic, terutama Choriocarcinoma.

Neuron – Specific Enolase (NSE)
Seperti Chromogranin A, merupakan penanda untuk tumor neuroendocrine seperti small cell lung cancer, neuroblastoma, dan tumor karsinoid. Tidak digunakan untuk skreening tapi terutama sangat berguna bagi pasien dengan small cell lung cancer atau neuroblastomoa. Kadar abnormal NSE lebih dari 9 ug/mL.

Prostate-Specific Antigen (PSA)
Adalah penanda tumor untuk kanker prostat, satu-satunya marker untuk skreening kanker jenis umum. Suatu protein yang dibuat sel grandula prostat yang dibuat sel glandula prostat pada laki – laki yang berfungsi yang berfungsi membuat cairan semen. Kadar PSA meningkat pada kanker prostat. Pasien dengan benign prostate hyperplasia ( BPH ) kadang menunjukan peningkatan kadar PSA. Kadar PSA bukan kanker kurang dari 4 ng/mL, kadar lebih dari 10 ng/mL diindikasi kanker, sedang kadar antara 4 – 10 ng/mL merupakan daerah abu – abu (grey zone) dan biasanya dokter akan melakukan biopsi.

Pemeriksaan penanda tumor yang ada di Rumah Sakit Panti Rapih :

1. Pemeriksaan Serologi (Patologi Klinik)

Meliputi : CEA, AFP, CA125, CA199, CA153, PSA

2. Pemeriksaan Patologi Anatomi

Meliputi : Sitologi (pengecatan Giemsa dan Papanicolou), Histologi  (pengecatan Papanicolou)

 

Artikel ini ditulis oleh: Agatha Wahyu Widowati M.S.

Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi

Sampai  saat ini stigma negatif tentang epilepsi atau ayan masih melekat di masyarakat. Sebagian  besar  masyarakat  masih menganggap epilepsi adalah penyakit menular dan tak bisa disembuhkan.

“Dengan stigma itu, masyarakat cenderung menjauhi penderita  epilepsi, dengan alasan takut tertular. Stigma masyarakat bahwa epilepsi  bisa menular lewat air liur. Sehingga pada  kasus  penderita  epilepsi saat terjadi  serangan atau kejang orang  takut mendekat atau memberi pertolongan  dengan alasan takut tertular.   Stigma tersebut berdampak pada keluarga dari penderita epilepsi  yang menutup-nutupi keadaan, sehingga penderita  epilepsi tidak bisa  tertangani secara optimal . Banyak penderita  epilepsi yang dikucilkan oleh lingkungan, terhambat karir dan kehidupan berumah tangganya.

Apa itu Epilepsi ?

Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf tertua, ditemukan pada semua umur dan dapat menyebabkan hendaya serta mortalitas. Penyakit Epilepsi atau  ayan  adalah suatu gangguan fungsi listrik otak yang ditandai oleh cetusan listrik secara berlebihan pada sekelompok atau sebagian besar sel-sel otak, sehingga  bisa timbul kejang, perubahan perilaku sesaat dan berulang. Pada umumnya serangan atau bangkitan epilepsi ditandai dengan pingsan dan/ atau kejang secara berulang kali. Bangkitan lain selain kejang bisa tiba-tiba penderita bengong atau hilang kesadaran sesaat, mulut yang bergumam atau komat-kamit, sampai penderita  berteriak sendiri.  Gangguan pada pola aktivitas listrik otak saraf dapat terjadi karena beberapa hal. Baik karena kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, ataupun kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut.

Menurut data  yang dikeluarkan International  League Against Epilepsy (ILAE) tahun 2016  jumlah penderita epilepsi di dunia mencapai 60 juta orang.

Di Negara berkembang, jumlahnya diperkirakan lebih tinggi dibandingkan di negara maju . Insiden epilepsi umumnya tinggi pada kelompok usia anak –anak  dan lanjut usia, cenderung lebih tinggi pada pria daripada wanita. Data epidemiologi epilepsi di Indonesia masih terbatas. Estimasi penderita epilepsi di Indonesia adalah 1,5 juta dengan prevalesi 0,5-0,6% dari penduduk Indonesia. Frekuensi terjadinya epilepsi menurut usia di Indonesia juga sangat terbatas. Namun pada umumnya di negara berkembang sebaran penderita epilepsi banyak pada anak dan dewasa muda dibandingkan kelompok umur lainnya.

Kapan Seseorang didiagnosis Epilepsi ?

Seseorang  dikatakan atau   diagnosis epilepsi  berdasarkan riwayat gejala klinis yang dialami oleh penderita. Hal ini diperoleh dari keterangan yang disampaikan oleh penderita sendiri, keluarga, atau orang terdekat yang menyaksikan saat penderita  epilepsi  mengalami bangkitan atau  kejang. Epilepsi didiagnosis setelah seseorang mengalami sedikitnya dua kali bangkitan atau kejang-kejang yang tidak terkait dengan kondisi medis apa pun sebelumnya .Walaupun demikian tidak semua kejang dapat dikatakan sebagai epilepsi. Diagnosis epilepsi baru dapat ditegakkan setelah dilakukan wawancara medis lengkap, pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti ct scan kepala atau MRI kepala . Pemeriksaan  EEG atau rekam otak dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan pada impuls atau aktivitas listrik / elektrik di dalam otak yang menjadi penyebab terjadinya kejang. Pemeriksaan CT scan atau MRI kepala bertujuan untuk mengetahui adanya kelainan  pada struktur otak sebagai penyebab epilepsi, ataupun penyebab sekundernya misalnya pada kasus  tumor otak, stroke, infeksi otak, paska cedera kepala.

Apa Penyebab Epilepsi?

Epilepsi bisa terjadi pada semua usia, baik wanita atau pria. Berdasarkan penyebabnya, epilepsi dapat digolongkan menjadi:

  • Epilepsi idiopatik, yaitu epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui.
  • Epilepsi simptomatik, yaitu epilepsi yang terjadi akibat suatu penyakit yang menyebabkan kerusakan pada otak.

Pada sebagian besar kasus epilepsi, tidak diketahui penyebab pastinya. Epilepsi jenis ini dikenal sebagai epilepsi idiopatik atau epilepsi primer. Pada epilepsi  jenis ini tidak ditemukan kelainan di otak yang dapat menyebabkan epilepsi.

Berbeda dengan epilepsi idiopatik, epilepsi simptomatik atau epilepsi sekunder merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan epilepsi simptomatik, di antaranya adalah cedera kepala, stroke, tumor otak, infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis.

Apa saja Faktor Pencetus Kejang ?

Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kejang pada penderita epilepsi. Di antaranya adalah tidak mengonsumsi obat anti epilepsi (OAE) secara teratur, kurang tidur, kelelahan, terlambat makan, stress mengonsumsi obat yang mengganggu kinerja obat anti-epilepsi, demam tinggi, mengonsumsi minuman beralkohol atau NAPZA, saat menstruasi pada wanita, maupun kilatan cahaya.

Pengobatan  Epilepsi

Tujuan utama pengobatan pada epilepsi adalah mengupayakan penderita epilepsi dapat hidup normal dan tercapai kualitas hidup optimal. Harapannya adalah penderita epilepsi bisa bebas kejang. Dengan pemberian obat anti anti epilepsi (OAE) dapat mencegah terjadinya kejang sehingga penderita  dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dengan mudah dan aman. Banyak penderita Penyakit yang mengalami penurunan frekuensi kejang atau bahkan tidak mengalami kejang sama sekali selama bertahun-tahun setelah menjalani pengobatan dengan obat anti epilepsi (OAE). Setiap penderita epilepsi perlu selalu diingatkan tentang pentingnya pengobatan yang disiplin dan teratur .

Masih banyak presepsi  di masyarakat  bahwa penyakit epilepsi tidak bisa disembuhkan. Padahal, penyakit epilepsi bisa diobati atau bisa terkontrol   dengan obat anti epilepsi (OAE). Keluarga penderita  epilepsi atau penderita epilepsi masih sering menanyakan apakah anak saya atau saya bisa sembuh? Dengan pengobatan tepat  dan sesuai, penyakit epilepsi dapat terkontrol dengan obat anti epilepsi  (OAE) dan bahkan sebagian bisa sembuh sempurna tanpa harus minum obat lagi. Penderita  epilepsi akan mendapatkan obat rutin berupa obat anti epilepsi (OAE) yang harus diminum setiap hari. Sehingga  sering timbul banyak  pertanyaan  sampai kapan obat harus diminum? Obat anti epilepsi (OAE) harus diminum rutin dan  bisa dihentikan dengan syarat tertentu. Penghentian obat anti epilepsi (OAE) dilakukan  secara bertahap dapat dipertimbangkan setelah 3-5 tahun bebas kejang dan hasil rekam otak atau EEG normal.

Pembedahan Otak/ Bedah epilepsi

Penelitian di pelbagai negara menunjukkan bahwa 60-80% epilepsi dapat diatasi dengan pemberian obat anti epilepsy (OAE).  Sehingga masih  ada sekitar 20-40% pennderita  epilepsi yang sulit dikendalikan dengan  obat anti epilepsi (OAE) . Penderita epilepsi yang sulit  dikendalikan dengan obat anti epilepsi  disebut sebagai epilepsi  intractable atau refrakter atau kebal terhadap obat anti epilepsi (OAE). Penderita sudah diberikan beberapa kombinasi  obat anti epilepsi lebih dari 2 macam dan dosis sudah maksimal,  tetapi kejangnya masih belum bisa terkontrol, maka terapi bedah epilepsi  dapat dijadikan pilihan  pengobatan. Tindakan pembedahan otak atau bedah epilepsi dikerjakan oleh seorang dokter spesialis bedah saraf. Sebelum pelaksanaan  tindakan pembedahan, seorang penderita epilepsi akan   dilakukan serangkaian tes untuk menilai layak atau tidaknya penderita dilakukan tindakan pembedahan. Tidak  semua penderita epilepsi  bisa dilakukan pembedahan otak atau bedah epilepsi.

Bedah Epilepsi terbukti memberi manfaat berupa bebas kejang pada 70% orang dengan epilepsi  refrakter, dan hanya 20% lainnya mengalami perbaikan dan berubahnya bentuk serangan menjadi lebih ringan. Selain itu  setelah dilakukan bedah epilepsi obat yang diminum bisa dikurangi  atau lebih minimal.

Bahaya Dari Penyakit Epilepsi

Epilepsi perlu penanganan  dengan tepat untuk menghindari terjadinya situasi yang dapat membahayakan jiwa.  Serangan atau kejang pada penderita  epilepsi dapat terjadi kapanpun dan di  manapun, di tempat-tempat yang tidak terduga sehingga  dapat membuat penderita berisiko mengalami  cedera kepala  atau patah tulang akibat terjatuh saat kejang atau tenggelam. Selain bahaya cedera, penderita epilepsi dapat mengalami komplikasi seperti kejang  yang lama  atau status epileptikus dan kematian mendadak.

Pertolongan Pertama Pada Kejang

Apa yang dapat  kita lakukan  apabila kebetulan kita berada dekat penderita  epilepsi yang sedang mengalami kejang :

  • Posisikan pasien  yang kejang di tempat aman  dan datar, jauhkan benda-benda keras yang dapat  melukai pasien
  • Minta pertolongan orang sekitar untuk menghubungi tenaga kesehatan terdekat
  • Pakaian atau  baju dilonggarkan agar memudahkan pernafasan
  • Badan  pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairan dari mulut
  • Jangan menahan  gerakan pasien saat kejang
  • Hindari posisi tubuh telungkup karena akan menghambat pasien bernapas
  • Dampingi penderita sampai kejang berhenti
  • Hindari memberikan  makan atau minum
  • Hindari menaruh sendok atau benda lain ke dalam mulut pasien

Hari Epilepsi  Sedunia

Purple Day for Epilepsy Awareness Day atau Hari Epilepsi Sedunia merupakan suatu gerakan internasional yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran mengenai penyakit epilepsi ke seluruh dunia, yang dirayakan setiap tanggal 26 Maret setiap tahunnya dengan memakai atribut berwarna ungu. Kenapa purple? Karena warna ungu adalah refleksi dari bunga lavender yang menjadi lambang internasional untuk epilepsi. Bunga lavender juga memiliki simbol kesendirian, yang mewakili para penyandang epilepsi yang seringkali merasa terisolasi karena kondisi mereka.

Perayaan Purple Day untuk memperingati Hari Epilepsi Sedunia, sebagai tanda menumbuhkan rasa kepedulian kita terhadap penderita epilepsi.  Perayaan Purple Day diharapkan  bisa menyadarkan masyarakat untuk tidak mengucilkan penderita epilepsi dan menghapus stigma negatif tentang epilepsi, yang selama ini beredar di masyarakat.  Selain itu kegiatan ini untuk mendorong para penyandang epilepsi dan keluarga untuk berani tampil dan mengembangkan potensi terbaik mereka.

Selamat Hari Epilepsi Sedunia!

 

 

Artikel ini ditulis oleh: dr. Michael Agus, SpS

(Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta menuju Rumah Sakit Sehat Berwawasan Lingkungan

Yogyakarta, 20 Maret 2021 – Salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia adalah kesehatan. Rumah sakit memiliki peranan yang cukup penting dalam penyelenggaraan  pelayanan kesehatan. Salah satu rumah sakit yang tetap mempertahankan ruang terbuka hijau dalam bentuk taman adalah Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.  Ruang terbuka hijau tersebut berfungsi untuk menyembuhkan atau mengandung nilai-nilai pengobatan (terapeutik) secara holistik.

Sebelum pandemi, Rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta telah secara rutin menggelar acara Healing Garden supaya para pasien dapat menikmati suasana di luar kamar perawatan. Fungsi ruang terbuka hijau tidak hanya memberikan manfaat bagi para pasien saja, namun keluarga, staf, dan pengunjung pun dapat menikmatinya.

Sesuai dengan visi dan misi yang dimiliki, Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta berusaha untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat khususnya pelayanan kesehatan. Maka, bersinergi dengan Kagama Orchids (Salah satu komunitas dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada yang memiliki perhatian kepada anggrek spesies Indonesia), Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta pada Sabtu 20 Maret 2021 menyelenggarakan sebuah mini workshop.

Workshop yang digelar tersebut berupa pemeliharaan tanaman anggrek dengan pemanfaatan limbah dapur sebagai nutrisi. Kagama Orchids sebagai narasumber ahli yang memberikan materi mengenai cara rehabilitasi dan rekonstruksi tanaman anggrek yang sudah ada di area rumah sakit, cara tanam, ikat dan peletakkan tanaman anggrek yang tepat. Serta pembuatan eco enzym dan pupuk organik cair dengan memanfaatkan air cucian beras, kulit bawang merah dan bawang putih, air kelapa, potongan buah dan sayur.

Eco Enzyme adalah hasil fermentasi antara limbah dapur seperti kulit buah atau sayuran, dengan air dan molase yang memiliki aroma asam segar. Saat proses fermentasi, Eco Enzyme menghasilkan gas O3 yang mampu menyelamatkan kerusakan bumi. Hasil akhirnya adalah cairan yang mempunyai manfaat yang berlipat ganda  seperti sebagai pembersih alami, penjernih udara dan air, pestisida alami, antiseptik alami, mencegah saluran air tersumbat, untuk membersihkan diri, membersihkan buah dan sayuran, pupuk yang ramah lingkungan, serta banyak lagi manfaat lainnya.

Workshop dibuka oleh Ibu Ir. Valentina Dwi Yuli Siswianti, M.Kes (Direktur Pelayan Kesehatan dan Infrastruktur) dan dihadiri juga oleh Sr. Yosefine Kusuma Hastuti, CB (Direktur Keperawatan). Diikuti oleh 22 orang dari dalam rumah sakit serta 15 orang dari Kagama Orchids sebagai narasumber ahli dan pendamping workshop yang dipimpin oleh Ibu Ir. Wahju Wulandari, MBA., IAI. AA.

Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, workshop dibagi dalam dua lokasi. Lokasi pertama yakni lokasi penanaman anggrek sendiri berpusat di Taman Healing Garden (Utara Gedung Lukas) serta halaman depan dan area drop off lobby lantai 2 Gedung Borromeus. Sedangkan lokasi pembuatan eco enzym dan pupuk organik cair berada di area Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

 

Informasi lebih lanjut, hubungi:
Humas RS Panti Rapih Yogyakarta
ext 1116 / 1163
Email: humas@pantirapih.or.id

Plantar Faciitis

Apakah anda pernah mengeluh nyeri di tumit setiap pagi saat bangun tidur? Jika pernah, mungkin banyak informasi yang sudah coba anda cari tahu ke dokter atau mungkin mencari tahu sendiri lewat berbagai sumber. Seringkali pendapat awam ataupun dari medis langsung mengarah ke arah penyakit asam urat, padahal masih banyak kemungkinan lain yang menimbulkan nyeri pada tumit, salah satunya kasus Plantar Fasciitis.

Insidensi penyakit Plantar Fasciitis tertinggi ditemukan pada wanita, usia 40 – 60 tahun, meski beragam varian usia juga masih dapat ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, hal ini dapat sebagai gambaran awal bahwa penyakit ini kemungkinan dapat dipengaruhi oleh faktor aktivitas yang lebih tinggi.

Definisi dan Penyebab

Plantar fasciitis sendiri merupakan penyakit yang timbul akibat proses peradangan/inflamasi yang timbul pada plantar fascia di bagian telapak kaki, dengan area yang menimbulkan nyeri berasal dari titik pelekatan dengan calcaneus (tulang tumit). Penyebab proses radangnya sendiri dapat dipengaruhi oleh banyak hal; ketegangan otot daerah betis yang mengurangi kemampuan gerak flexi sendi ankle, obesitas juga menjadi salah satu faktor resiko seringnya kasus ini timbul, kondisi kelainan anatomi Flat Foot serta aktivitas berdiri, berjalan atau berlari yang lama juga dipandang berkontribusi menimbulkan kondisi penyakit ini.

Gejala Klinis

Plantar Fasciitis memiliki gejala utama berupa rasa nyeri di area kalkaneus (tumit) penderitanya, dengan beberapa kondisi khas seperti nyeri yang dirasakan di telapak kaki saat baru bangun tidur / setelah istirahat, yang agak lama yang dapat dirasakan pada beberapa langkah pertama yang dilakukan, selain itu, sifat nyeri juga dapat semakin dirasakan setelah (bukan saat) aktivitas fisik.

Pemeriksaan Medis

  • Harus mengkaji dari aktivitas fisik yang dilakukan penderita lewat anamnesa yang lengkap, serta menangkap semua gejala yang dikeluhkan penderita terutama yang muncul di area sendi ankle (khususnya telapak kaki)
  • Profil fisik, menilai adakah faktor resiko obesitas yang dapat menjadi pemicu timbulnya plantar fasciitis
  • Profil anatomi kaki pasien, apakah ada kelainan anatomi seperti Flat Foot atau High Arch foot
  • Sifat nyeri yang ditemukan umumnya dapat memberat saat kaki didorsofleksikan dan akan mereda saat ujung kaki di arahkan ke depan (seperti gerakan menjinjit).
  • Pemeriksaan radiodiagnostik penunjang seperti rontgen dan MRI dapat digunakan, dimana pada rontgen polos, dapat digunakan untuk menilai kondisi tulang dan sendi ankle, apakah ada tanda fraktur atau tanda-tanda inflamasi, serta dapat ditemukannya heel bone. Pada MRI, kita dapat megkaji jaringan-jaringan lunak disekitar sendi ankle yang mungkin terdapat kelainan, seperti adakah tanda timbulnya arthritis pada sendi ankle yang terkena plantar fasciiis.

Pengobatan

Terapi Non Bedah

Mayoritas kasus Plantar Fasciitis yang membaik dengan beberapa jenis terapi non bedah, baik fisioterapi (latihan fisik, alat-alat orthotik) maupun terapi medikamentosa.

Beberapa pilihan terapi non bedah yang disarankan adalah :

  1. Mengistirahatkan kaki yang sedang sakit, dalam hal ini, yang dimaksud adalah mengurangi/menghentikan aktivitas yang dapat memperberat kondisi nyeri yang timbul, seperti aktivitas olahraga (lari, lompat, aerobik, dll)
  2. Kompress dingin pada kaki yang sakit selama 20 menit 3 sampai dengan 4 kali dalam sehari.
  3. Obat-obatan Anti Inflamasi Non Steroid dapat membantu mengatasi nyeri yang timbul dari Plantar Fasciitis. Tetapi perlu diperhatikan untuk kasus penggunaan jangka panjang dari jenis obat-obatan ini
  4. Obat injeksi steroid juga dapat menjadi pilihan untuk mengatasi reaksi radang yang timbul, suntikan diberikan langsung ke area nyeri (fascia plantaris), sebagai catatan, penggunaan obat injeksi steorid juga harus dikontrol  karena dalam jangka panjang dapat membuat fascia mudah robek yang mana dapat menimbulkan kondisi Flat Foot atau nyeri kronis.
  5. Latihan peregangan / stretching dari otot betis dan kaki akan membantu meringankan dan bahkan mengatasi nyeri yang timbul dari Plantar Fasciitis, hanya perlu dilakukan dengan rutin dengan gerakan sebagai berikut :

a. Otot betis : dilakukan dengan posisi berdiri dan menghadap ke dinding, bertumpu pada kedua tangan, dengan meluruskan salah satu lutut ke belakang dengan lutut lainnya dalam posisi sedikit fleksi (lakukan bergantian), untuk mendapatkan efek peregangan yang maksimal, gerakan panggul ke arah depan, sehingga efek regangan di betis dan juga di plantar fascia dirasakan.

b. Plantar Fascia : dilakukan pada posisi duduk, silangkan salah satu kaki yang akan dilakukan peregangan sampai bertumpu pada lutut kaki sebelahnya, lalu dilakukan gerakan memijat pada permukaan telapak kaki di area jari jempol kaki dengan tangan, dimana plantar fascia akan dirasakan seperti selaput yang tegang, beri penekanan 10 detik, ulangi masing-masing kaki 20 menit. Disarankan dilakukan pada pagi hari sebelum mulai berjalan.

  1. Sepatu khusus / insole Orthotik juga menjadi pilihan terapi, dimana kontur alas sepatu yang dibuat menyangga dengan baik telapak kaki, akan mengurangi tekanan pada plantar fascia.
  2. Splints / external fixasi pada kaki juga dapat digunakan mengurangi keluhan terutama dipakai saat beristirahat / tidur, dimana kaki cenderung akan berada pada posisi relaks, sedikit ekstensi, yang mana akan menimbulkan nyeri tumit pada pagi hari, dengan adanya splint akan memfixasi pada posisi plantar fascia yang meregang, dan digunakan sampai nyeri sudah tidak dirasakan.
  3. Extraxorporeal Shockwave Therapy (ESWT) adalah metode menggunakan gelombang akustik energi tinggi dengan alat khusus yang dapat menstimulasi penyembuhan jaringan plantar fascia yang sedang meradang. Metode ini belum menjadi pilihan utama karena durasi terapi dan efek yang ditimbulkan masih sangat bervariasi, meski demikian , ESWT dapat menjadi pilihan sebelum pilihan terapi bedah dilakukan.

Terapi Surgical / Pembedahan

Pembedahan menjadi pilihan jika kasus Plantar Fasciitis tidak dapat dikontrol dengan baik melalui terapi jenis non surgical.

Beberapa prosedur pembedahan yang menjadi pilihan terapi untuk kasus Plantar Fasciitis adalah :

a. Release Partial Plantar Fascia

Teknik pembedahan dengan target mengurangi / membebaskan tekanan di area nyeri dari plantar fascia dengan memotong partial dari ligamentum plantar fascia sehingga nyeri peradangan baik karena penekanan pada plantar fascia maupun oleh Bone Spur dapat dihilangkan (Bone Spur dapat ikut diangkat pada prosedur ini).

b. Rescession Gastrocnemius /pemanjangan otot gastrocnemius

Seperti kita ketahui di atas, bahwa otot betis/Gastrocnemius yang tegang juga akan berdampak pada ketegangan Plantar Fascia, maka  prosedur ini menjadi pilihan untuk kasus-kasus dimana pasien sulit melakukan prosedur peregangan otot betis (terbentuk dari gastrocnemius dan soleus). Teknik pembedahan dilakukan dengan pemanjangan satu dari dua otot yang membentuk otot betis (i.e gastrocnemius) melalui prosedur insisi terbuka ataupun insisi yang lebih kecil secara endoskopis. Tendon otot yang di potong akan sembuh dengan posisi yang telah diatur lebih panjang dari sebelumnya.

 

Artikel ini ditulis oleh: dr. John Hartono
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Gangguan Sensory Integrasi (SI) pada Anak

Apakah anak anda susah untuk fokus saat diajak bicara, terlalu aktif (banyak gerak), cuek dengan lingkungan sekitar, sulit mengikuti pelajaran disekolah. Jika pernah, kemungkinan anak anda mengalami gangguan Sensory Integrasi. Apa itu gangguan Sensory Integrasi ?

Sensory Integrasi merupakan suatu proses neurologi dalam mengatur dan menterjemahkan input sensorik, untuk dapat memberikan respon yang sesuai dengan input tersebut. Dikarenakan adanya gangguan dalam fungsi otak yang menghambat kemampuan mengatur dan menterjemahkan informasi sensori motor. Mungkin menjadi penyebab dari adanya masalah seperti kesulitan bicara, kesulitan konsentrasi, kekacauan sosial emosional, gangguan perilaku, gangguan koordinasi, dan masalah lainnya. Ada beberapa gangguan Sensory Integrasi yang terlihat disekitar kita, diantaranya :

  • Gangguan vestibular (keseimbangan)
  • Gangguan tactil (raba)
  • Gangguan propioseptif (sendi)
  • Gangguan visual (penglihatan)
  • Gangguan auditory (pendengaran)
  • Gangguan olfactory (penciuman)
  • Gangguan gustatory (rasa)

Bila proses Sensory Integrasi ini berfungsi dengan baik, maka otak dapat berkembang dengan baik, sehingga pada usia sekolah anak mampu :

  1. Memberikan reaksi yang baik terhadap berbagai informasi sensorik yang biasa diterima oleh anak
  2. Menunjukkan tingkat perkembangan sensori motor , kognitif, emosi, dan sosialisasi yang sesuai dengan umurnya
  3. Menghadapi berbagai tuntutan akademis yang selalu bertambah sejalan dengan bertambahnya usia anak

Dilain pihak, anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan Sensory Integrasi, biasanya menunjukan berbagai masalah dalam belajar dan atau perilaku. Anak-anak ini mungkin memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala dibawah ini :

  • Hambatan prestasi sekolah
  • Kurang percaya diri
  • Masalah emosi sosial
  • Tampak terlalu aktif atau pendiam
  • Perhatiannnya mudah teralih
  • Kurang dapat mengontrol diri
  • Terlalu peka atau kurang peka terhadap sentuhan, gerakkan, suara, dsb
  • Gerakkannya tampak kikuk (tidak luwes) tampak serampangan
  • Hambatan pada perkembangan ketrampilan motorik, bicara, dan pengertian bahasa
  • Kadang-kadang tidak peduli dengan orang disekitarnya

Ada beberapa kondisi anak dengan gangguan Sensory Integrasi seperti :

  1. Autism Spectrum Disorder (ASD)
  2. Down Syndrome (DS)
  3. Attention Deficit / Hyperactivity Disorder (ADD / ADHD)
  4. Asperger’s Syndrome (AS)
  5. Retardasi Mental (RM)
  6. Learning Disability (LD)
  7. Speech Delay (SD)
  8. Cerebral Palsy (CP)
  9. Developmental Delay (DD) dll

Jika anak anda memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala gangguan perkembangan Sensory Integrasi diatas,  segera konsultasi ke dokter anak atau bisa langsung datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi:
Instalasi Rehabilitasi Medik
Telepon : (0274) 563333 ext 1116
Pendaftaran : (0274) 514004, 514006, 521409 (24 jam)

Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Selamat Hari Perawat Nasional 2021

Terimakasih perawat yang tanpa kenal lelah sudah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara tulus, iklhas dan profesional. Mari kita bersama-sama melawan pandemi COVID-19. Tetap jaga kesehatan dalam menjalankan tugas mulia perutusan ini.


Selamat Hari Perawat Nasional 2021.
Perawat Tangguh. Indonesia Bebas COVID-19. Masyarakat Sehat

Layanan Rehabilitasi Medik RS Panti Rapih

Pelayanan Rehabilitasi Medik adalah pelayanan kesehatan yang mengupayakan peningkatan kemampuan fungsional pasien sesuai dengan potensi yang dimiliki untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup.

Rehabilitasi medik RS Panti Rapih memberikan pelayanan :

  1. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik
  2. Fisioterapi
  3. Terapi Okupasi
  4. Terapi Wicara
  5. Memiliki dokter spesialis rehabilitasi medik, tenaga fisioterapis, terapis okupasi dan terapis wicara

Pelayanan Fisioterapi

Adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis) pelatihan fungsi, komunikasi.

Jenis layanan tindakan fisioterapi yang ada di RS Panti Rapih meliputi:

  1. Diathermy ( SWD/MWD)
  2. Ultrasound Terapi
  3. Traksi Cervical/Lumbal
  4. Stimulasi Faradik/Galvanik
  5. Interferential Terapi
  6. Infra Red Radiation/Sollux
  7. Manual Therapy
  8. Nebulizer
  9. CPM (Continuous Passive Movement)
  10. Tilting table
  11. TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation)
  12. Exercise Therapy : Latihan pasif, penguluran otot, ROM, Latihan aktif, Latihan jalan (NWB, PWB, FWB)
  13. Cold Therapy
  14. Chest Therapy
  • Postural drainage
  • Breathing exercise

 

Mulai tgl 1 Desember 2017 fisioterapi RS Panti Rapih ada layanan baru berupa pemasangan kinesio tape/taping.

Apa itu kinesio tape /taping?

Kinesio taping adalah sebuah modalitas terapi yang berdasarkan pada pendekatan penyembuhan secara alami dengan bantuan pemberian plester elastis. Kinesio taping dirancang untuk memfasilitasi proses penyembuhan alami tubuh dengan menyangga dan menstabilkan otot dan sendi tanpa membatasi gerak sendi.

Mekanisme kerja kinesio taping yaitu efek mengangkat kulit sehingga membebaskan daerah subcutan dari penekanan dan dapat mengurangi pembengkakan atau inflamasi, meningkatkan sirkulasi sehingga aliran darah kaya oksigen meningkat, terjadi regenerasi area yang diterapi,perlengketan berkurang, mengurangi sakit dengan mengambil tekanan dari reseptor rasa sakit ( mengurangi iritasi nociceptor), terjadi peningkatan fleksibilitas kolagen yang secara mekanis menyebabkan gerakan menjadi lebih leluasa.

Indikasi kinesio taping adalah :

  1. Stimulasi otot yang hipotonus
  2. Inhibisi otot yang hipertonus
  3. Melindungi otot agar tidak terjadi cedera
  4. Melindungi sendi
  5. Mengurangi inflamasi
  6. Mengurangi oedema
  7. Mempengaruhi peningkatan luas gerak sendi
  8. Meningkatkan sensori propioseptif
  9. Koreksi postur

Kontraindikasi kinesio taping adalah :

Trauma akut dengan tanpa disertai diagnosa yang jelas, seperti :

  1. Demam
  2. Keluhan –keluhan dengan pola yang abnormal/tidak jelas
  3. Luka terbuka

 

Pelayanan Okupasi Terapi

Banyak dari kita belum begitu mengenal profesi yang satu ini.

Sebenarnya apa itu okupasi terapi? Apakah sama dengan fisioterapi?

Mari kita ketahui lebih lanjut apa itu okupasi terapi.

Okupasi terapi adalah bentuk pelayanan kesehatan kepada pasien/klien dengan kelainan fisik dan atau mental yang mempunyai gangguan pada kinerja okupasional, dengan menggunakan aktifitas bermakna (okupasi) untuk mengoptimalkan kemandirian individu pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktifitas dan pemanfaatan waktu luang (PERMENKES no 23 th 2013).

Dalam memberikan pelayanan kepada individu, terapi okupasi memperhatikan aset (kemampuan) dan limitasi (kelemahan/keterbatasan yang dimiliki klien, dengan memberikan manajemen aktifitas yang purposeful (bertujuan) dan meaningful (bermakna). Dengan demikian klien diharapkan dapat mencapai kemandirian dlam aktifitas produktifitas (pekerjaan), kemampuan perawatan diri (self care), dan kemampuan penggunaan waktu luang (leisure) sehingga dapat berkembang secara optimal.

Siapa saja yang memerlukan Okupasi terapi?

Okupasi terapi bisa menangani

  1. Pediatri/anak-anak , antara lain :
  • Anak dengan gangguan perilaku
  • Autis
  • Down Syndrom
  • ADD/ADHD (gangguan konsentrasi/hyperaktif)
  • Asperger,s syndrom
  • Kesulitan belajar
  • Keterlambatan perkembangan (developmental delayed)
  • Cerebral palsy dan keterlambatan lainnya

2. Geriatri (orangtua) dan dewasa

  • Osteoarthritis (OA)
  • Pasca Craniotomy
  • Frozen shoulder (kaku sendi bahu)
  • Pasca stroke
  • Kelemahan fungsi tangan
  • Gangguan keseimbangan
  • Gangguan koordinasi gerak
  • Post amputasi
  • Multiple sclerosis, dll

3. Neurologi (saraf)

  • Stroke
  • Bell,s palsy
  • Parkinson
  • Unilateral neglect (hanya memperhatikan satu sisi tubuh), dll

4. Orthopedi

Gangguan-gangguan yang disebabkan pasca patah tulang pada anggota gerak tubuh

5. Psikososial

Ditujukan untuk individu yang mengalami gangguan jiwa, misalnya ketakutan berhadapan dengan banyak                    orang, depresi, dll

 

Pelayanan Terapi Wicara

Kebanyakan dari kita mengetahui terapi wicara sebatas melatih pasien yang mempunyai gangguan bicara. Padahal peran terapi wicara dalam menangani pasien bisa lebih dari sekedar melatih pasien untuk bicara.

Lalu timbul pertanyaan, sebenarnya apa itu terapi wicara?

Terapi wicara adalah suatu ilmu/kiat yang mempelajari perilaku komunikasi normal/abnormal yang dipergunakan untuk memberikan terapi pada penderita gangguan komunikasi, yaitu kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara,irama/kelancaran, dan gangguan menelan sehingga penderita mampu berinteraksi dengan lingkungan secara wajar.

Gangguan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran terjadi karena adanya penyakit, gangguan fisik, psikis ataupun sosial.

Kelainan ini dapat timbul pada masa prenatal (sebelum kelahiran), natal (pada saat proses kelahiran), maupun post natal (setelah masa kelahiran).

Selain itu penyebab bisa dari herediter (keturunan), congenital (sejak lahir), maupun acquired (perolehan).

Kasus-kasus apa saja yang bisa ditangani oleh terapi wicara?

a. Disaudia

Gangguan bicara/articulasi yang berhubungan dengan adanya kesulitan/gangguan feedback auditory, dapat terjadi karena gangguan pendengaran.

b. Dislogia

Kelainan berkomunikasi yang disertai kerusakan mental intelektual. Rendahnya kecerdasan menyebabkan kesulitan dalam mengamati serta mengolah dalam pembentukan konsep dan pengertian bahasa.

c. Disartria

Kelainan bicara akibat gangguan koordinasi otot-otot organ bicara sehubungan adanya kerusakan/gangguan sistem saraf pusat maupun perifer.

d. Disglosia

Kelainan bicara akibat adanya kelainan bentuk dan atau struktur organ bicara, khususnya organ articulator.

e. Dislalia

Gangguan Artikulasi yang disebabkan ketaknormalan di luar organ wicara dan bukan dikarenakan kerusakan sistem sistem saraf pusat maupun perifer dan psikologis tapi merupakan gangguan fungsi artikulasi.

f. Disfagia

Gangguan kemampuan menelan. Dapat terjadi pada fase oral (saat makanan baru masuk mulut langsung tersedak atau sangat sulit untuk menelan), fase faringeal (saat makanan mau ditelan langsung  tersedak),   fase esofageal (saat makanan sudah ditelan namun tiba-tiba makanan dimuntahkan kembali).

Layanan terapi wicara meliputi :

  1. Stimulasi alat elktromedis untuk kasus gangguan menelan dan gangguan oral
  2. Hitop metabol
  3. Vocastim
  4. Massage oral untuk  kasus gangguan menelan dan gangguan oral
  5. Latihan artikulasi pada kasus gangguan bicara
  6. Pengenalan konsep bahasa pada kasus gangguan bahasa

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi:
Instalasi Rehabilitasi Medik
Telepon : (0274) 563333 ext 1116
Pendaftaran : (0274) 514004, 514006, 521409 (24 jam)

Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.