Klinik Anna (Layanan Obgin Terpadu) Layanan Baru RS Panti Rapih

Kesehatan Ibu hamil perlu dijaga dengan baik karena akan berpengaruh pada janin yang ada didalam kandungannya. Oleh karena itu, setiap ibu hamil membutuhkan program pelayanan kesehatan yang dikenal dengan antenatal care (ANC).

Antenatal care (ANC) adalah sebuah istilah kesehatan yang mengacu pada program pelayanan kesehatan ibu hamil, sehingga bisa ditangani oleh tenga medis secara lebih profesional. Tujuan dari ANC ini adalah sebagai layanan pemeriksanaan selama kehamilan dengan bantuan dokter atau bidan untuk mengoptimalkan kesehatan mental serta fisik ibu hamil. Dalam rangkaian perawatan kesehatan reproduksi, antenatal care (ANC) memberikan peranan terhadap perawatan kesehatan yang penting, termasuk promosi kesehatan, skrining dan diagnosis, serta pencegahan penyakit.

Terbukti bahwa dengan menerapkan praktik berbasis bukti (evidence based medicine) yang tepat waktu dan sesuai, ANC dapat menyelamatkan nyawa. ANC juga memberikan kesempatan untuk berkomunikasi dan mendukung wanita, keluarga dan masyarakat pada saat kritis dalam menjalani kehidupan seorang wanita.

Untuk Rumah Sakit Panti Rapih sendiri, layanan ANC dapat ditemukan di Klinik Anna. Klinik tersebut dibuka pada 22 Februari 2021, diawali dengan doa bersama dan pemotongan tumpeng yang dihadiri oleh jajaran Direksi Rumah Sakit Panti Rapih. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh drg. Vincentius Triputro Nugroho, M. Kes (Direktur Utama RS Panti Rapih) selanjutnya diserahkan kepada dr. Vincentia Merry, Sp. OG (Ketua Tim Pengembangan Klinik Anna), dr. Radijanti Anggraheni, Sp. KK (Kepala Instalasi Rawat Jalan RS Panti Rapih) dan dr. YB. Suharjo Brata Cahyono, Sp.PD-KGEH (Ketua Tim Pengembangan Rumah Sakit).

Santa Anna, menurut tradisi Katolik, adalah ibu dari Bunda Maria yang merupakan ibu dari Yesus. Di dalam buku-buku yang digunakan pada abad ke-2, Santa Anna dalam perkawinannya dengan Santo Yoakhim awalnya tidak memiliki anak, hingga akhirnya Tuhan menjawab keinginan Santa Anna dan suaminya, sehingga mendapatkan anak yang diberi nama Maria. Di gereja Katolik, Santa Anna menjadi pelindung kaum ibu. Pemilihan nama tersebut diharapkan supaya pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Panti Rapih melalui Klinik Anna dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi banyak keluarga khususnya para Ibu.

Keamanan dan  kenyamanan menjadi prioritas dalam  memberikan pelayanan, artinya intervensi pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Klinik Anna berada di Gedung Borromeus Lantai 3 Instalasi Rawat Jalan Terpadu. Gedung Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih merupakan zona hijau (area bebas batuk dan panas), seluruh pasien dan pengunjung wajib menjalani skrining awal oleh perawat skrining dan mengisi Lembar Skrining Covid-19. Demikian juga dengan seluruh staf medis dan karyawan yang bertugas, wajib melakukan pengukuran suhu sebelum dinas, dan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) disesuaikan dengan jenis layanan dan pekerjaan yang dilakukan. .

Klinik Anna merupakan layanan obgin terpadu untuk kesehatan ibu dan bayi. Fasilitas ruang tunggu yang nyaman serta mengedepankan protokol kesehatan dimasa pandemi. Tersedia TV media dan musik, hidangan (snack dan minuman). Ditangani oleh Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit Panti Rapih, serta tenaga kebidanan yang handal dan profesional. Layanan di Klinik Anna meliputi : TADALIN (tabungan dana persalinan), Paket ANC (Ante Natal Care) terpadu untuk trimester I, II dan III, serta paket persalinan normal dan sc(Operasi caesar) yang terbagi atas 2 paket yaitu paket Gold (fasilitas dan layanan kelas satu) dan Paket Platinum (fasilitas dan layanan kelas VIP).

 

Klinik Anna RS Panti Rapih
Telepon : 0274 563333, 514845, 514014 ext 1217

Informasi lebih lanjut, hubungi:
Humas RS Panti Rapih Yogyakarta
ext 1116 / 1163
Email: humas@pantirapih.or.id

Nutrisi Penting bagi Pasien Ginjal Kronis

Dewasa ini sedikit sekali informasi mengenai pengaturan makanan di Indonesia pada pasien penyakit ginjal kronis, padahal pengaturan makanan penting bagi pengelolaan kebutuhan kalori dan gizi pasien. Dengan begitu pasien tak sampai mengalami malnutrisi yang pada akhirnya bisa menekan angka kematian pasien penyakit ginjal kronis, memperlambat progresivitas penyakit ginjal dan meminimalkan toksisitas uremic.

Ginjal memiliki fungsi penting dalam proses pengeluaran zat racun tubuh melalui air seni. Proses ini akan berjalan terus  menerus selama fungsi ginjal dalam keadaan baik. Apabila terjadi penurunan fungsi maka sistem pengeluaran zat sisa dan hormonal akan terganggu. Akan tetapi, pasien tidak perlu putus ada karena masih banyak yang dapat dilakukan untuk mempertahankan fungsi ginjal yang masih ada.

Penyakit ginjal kronis adalah kondisi di mana ginjal yang mengalami kelainan struktur atau menurunnya fungsi lebih dari tiga bulan. Penurunan fungsi ini mengakibatkan kemampuan ginjal untuk menyaring darah dan mengeluarkan zat-zat sisa tubuh melalui air seni berkurang, sehingga menumpuk di dalam darah. Hal ini dapat menyebabkan berbagai gangguan seperti mual, muntah, letih, dan gangguan kesadaran hingga koma. Penyakit ginjal kronis bersifat semakin lama semakin memburuk (kronis). Pada tahap awal penurunan fungsi ginjal belum menimbulkan gejala dan fungsi ginjal dapat dipertahankan, tetapi pada tahap lebih lanjut penurunan fungsi ginjal ini bersifat menetap.

Untuk mengetahui kerusakan ginjal dapat dikertahui dengan mengukur Laju Filtrasi Glomerulous (LFG) dimana ada beberapa stadium kerusakan ginjal yang bisa dipantau.

Stadium I, kerusakan ginjal dengan LFG normal atau turun dan belum menunjukkan gejala. Di stadium ini kadar LFG adalah sekitar 90 ml per menit. Stadium II, kerusakan ginjal dengan penurunan LFG ringan yang dapat menimbulkan gejala atau tidak. Di tahap, ini kadar 60-89 ml/menit.

Stadium III, LFG menurun sedang. Tahap ini pasien mulai menunjukkan gejala-gejala seperti letih, mual, pusing, nafsu makan berkurang. Di stadium ini kadar LFG berkisar 30-59 ml/menit. Stadium IV, LFG menurun berat sehingga terjadi penurunan fungsi ginjal yang berat. Gejala tersebut makin memberat seperti pada stadium III, bahkan disertai sesak napas dan pembengkakan di seluruh tubuh. Di stadium ini, kadar LFG 15-29 ml/menit.

Stadium V atau stadium akhir merupakan tahapan di mana pasien memerlukan terapi pengganti ginjal (TPG) seperti  hemodialisis, peritoneal dialysis, atau transplantasi ginjal. Kepada pasien yang  mengalami penyakit ginjal kronis hendaknya tidak perlu putus asa. Pasalnya masih ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mempertahankan fungsi ginjal yang tersisa.

Beberapa di antaranya adalah pengobatan rutin agar mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut serta memelihara fungsi ginjal yang tersisa. Pemeriksaan laboratorium minimal satu bulan sekali dapat memantau tingkat kemajuan atau kemunduran fungsi ginjal dan organ lainnya.

Selain itu, bisa juga dengan mematuhi diet yang dianjurkan. Pasien dengan penurunan  fungsi ginjal harus  mematuhi anjuran diet sesuai dengan stadiumnya.

Pasien yang belum mendapatkan terapi pengganti ginjal khususnya hemodialisis harus menjalani diet rendah protein untuk mempertahankan fungsi ginjal yang tersisa agar tidak makin memburuk. Kebutuhan protein yang boleh dikonsumsi adalah 0,6-0,75 gram per berat badan per hari, sedangkan untuk kalori diberikan 35 kilokalori per berat badan per hari.

Selain pembatasan asupan protein, pasien penyakit ginjal kronis juga harus memperhatikan asupan lain dan cairan tubuh, yakni natrium, kalium, dan kalsium. Tah hanya itu, cairan juga harus dibatasi agar tidak terjadi penumpukan cairan di dalam tubuh. Jumlah cairan yang boleh dikonsumsi selama 24 jam adalah 500 ml.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Putri Risqi Septy Amelia (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Nyeri Pascaherpes

“Dokter, kulit saya sudah bersih tidak ada herpes lagi, tapi mengapa rasanya masih sakit?”. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang kerap diutarakan oleh pasien yang pernah mengalami herpes zoster di kulit. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana cara menanganinya? Artikel ini akan membahas secara khusus tentang nyeri pasca herpes atau dikenal pula dengan istiah pastherpetic neuralgia (PHN).

Virus Varicellazoster merupakan salah satu jenis virus yang sering menginfeksi manusia. Pasien yang terinfeksi virus Varicella zoster untuk pertaa kalinya akan mengalami penyakit varicela atau biasa disebut ‘cacar air’ oleh orang awam.

Penyakit tersebut ditandai dengan adanya benjolan di kulit yang berisi carian, tersebar diseluruh tubuh, disertai oleh keluhan lain seperti demam dan lemas. Penyakit ‘cacar air’ ini bisa muncul pada anak. Dengan penanganan yang tepat, penyakit ‘cacar air’ akan membaik dalam waktu kurang lebih 7 hari. Meski demikian, virus Varicella zoster sebagai penyebab dari penyakit tersebut tidak mati, melainkan ‘bersembunyi’ di dalam selaput saraf sensoris (serabut saraf penerima rangsang) penderitanya.

Pada saat kekebalan tubuh penderita menurun, virus Varicella zoster yang “bersembunyi” tersebut akan kembali menginfeksi tubuh untuk kedua kalinya dan menimbulkan penyakit yang disebut dengan herpes zoster atau biasa disebut sebagai “dompo” oleh masyarakat Jawa. Rentang waktu dari serangan infeksi pertama dengan serangan infeksi kedua ini sangat bervariasi, dapat mencapai belasan hingga puluhan tahun. Wujud kelainan kulit pada penyakit herpes zoster mirip dengan penyakit “cacar air” yaitu adanya benjolan di kulit yang berisi cairan.

Perbedaannya adalah pada herpes zoster benjolan tersebut bergerombol di area tertentu tergantung dari lokasi serabut saraf yang terinfeksi, sedangkan pada “cacar air” benjolan tersebut tersebar di seluruh tubuh. Daerah yang sering mengalami herpes zoster adalah daerah dada dan pinggang.

Penderita herpes zoster juga akan mengalami rasa nyeri pada bagian tubuh yang terserang. Sebagian pasien mendeskripsikan nyeri yang dirasakan sebagai rasa perih, seperti tertusuk-tusuk, atau sensasi panas. Nyeri akan muncul terus menerus dalam jangka waktu yang lama (3 bulan atau lebih) meski permukaan kulit sudah sembuh. Kondisi inilah yang disebut sebagai PHN. Dengan kata lain, PHN merupakan komplikasi dari herpes zoster.

Nyeri pada PHN termasuk nyeri dengan intensitas sedang hingga berat sehingga sangat menganggu aktivitas, dapat menimbulkan gangguan tidur, dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Beberapa pasien bahkan dapat mengalami depresi aktivitas PHN. Penyakit herpes zoster dan PHN dialami oleh orang dewasa. Semakin tua usia seseorang dan semakin rendah daya kekebalan tubuh seseorang, maka risiko untuk mengalami herpes zoster dan PHN akan semakin meningkat.

Derajat keparahan PHN dapat diturunkan dengan pengobatan yang adekuat serta sedini mungkin saat pasien masih mengalami herpes zoster. Pemberian obat antivirus seperti asiklovir, tamsiklovir dan valasiklovir adalah obat pilihan dalam menangani herpes zoster. Pada pasien yang telah mengalami PHN, tujuan utama dari pengobatan adalah untuk menurunkan derajat keparahan nyeri sehingga kualitas hidup menjadi lebih baik. Peanganan yang diberikan dapat berupa kombinasi dari beberapa obat seperti obat anti depresan, obat anti kejang, obat antiperadangan, dan obat anti nyeri lainnya.

Penyakit herpes zoster biasa ditangani oleh dokter spesialis kulit, sedangkan PHN biasa ditangani oleh dokter spesialis saraf. Apabila Anda mengalami kondisi seperti tersebut di atas, segeralah berkonsultasi dan mencari pengobatan dari dokter yang tepat. Penanganan herpes zoster sedini mungkin dan penanganan PHN yang tepat akan menurunkan derajat keparahan nyeri dan memperbaiki hidup penderita.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Rosa De Lima (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Wakil Walikota Kota Jogja Heroe Poerwadi Memantau Proses Vaksin Covid19 di RS Panti Rapih

Wakil Walikota Kota Jogja Heroe Poerwadi berkunjung ke Rumah Sakit Panti Rapih pada Selasa, 9 Februari 2021 dalam rangka memantau Proses Vaksin Covid19 bagi tenaga kesehatan di Yogyakarta. Dalam kunjungan tersebut, Bapak Heroe menyampaikan bahwa proses vaksin berjalan dengan baik dan lancar. Disampaikan pula harapan beliau supaya pandemi virus covid19 bisa segera berlalu dan menghimbau bahwa masyarakat khususnya Kota Yogyakarta untuk selalu patuh dalam protokol kesehatan dimanapun berada. Hal ini sejalan dengan Direktur Utama RS Panti Rapih drg. Vincentius Triputro Nugroho, MKes yang menyampaikan bahwa proses vaksin lancar dan tidak terjadi kendala, serta vaksin ini aman untuk usia diatas 60 tahun. Disebutkan pula bahwa untuk tenaga kesehatan yang berusia diatas 60 tahun untuk melakukan 2 kali vaksin dengan rentang waktu 28 hari dari hari pertama vaksin, dan bagi masyarakat untuk selalu patuh protokol kesehatan dan menegakkan 5M. Secara umum vaksin di RS Panti Rapih berjalan dengan lancar dan aman terkendali.

Wakil Walikota Jogja Berkunjung ke RS Panti Rapih

Mengenal Penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson (PP) merupakan penyakit yang timbul akibat adanya gangguan pada salah satu pusat di otak yang mengatur pergerakan tubuh atau pusat motorik. Pusat motorik tersebut bernama substansia nigra pars compacta dan disertai kekurangan salah satu senyawa kimia yaitu dopamin.

Parkinson lebih sering dialami oleh laki-laki dan berusia lanjut atau di atas 60 tahun. Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam kejadian Parkinson. Penyakit ini mulai banyak dikenal setelah salah satu petinju professional terkenal mengalami penyakit ini, yaitu Muhammad Ali. Faktor risiko utama Muhammad Ali mengalami PP adalah adanya riwayat benturan kepala berulang.

Riwayat paparan terhadap pestisida dan herbisida jangka panjang juga meningkatkan risiko PP. Selain itu, faktor genetik juga memiliki peranan penting dalam kejadian PP khususnya apabila PP muncul pada usia dini. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan PP akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami PP di kemudian hari.

Penyakit parkinson memiliki tanda dan gejala yang khas. Oleh karena bagian otak yang terganggu adalah bagian motorik, maka sebagian besar tanda dan gejala PP melibatkan otot dan tampak pada anggota gerak. Tremor adalah gejala yang paling sering dikeluhkan pertama kali oleh pasien. Tremor tersebut biasa muncul pada satu tangan terlebih dahulu dan tampak jelas saat pasien sedang diam (resting tremor). Tremor juga dapat muncul pada wajah dan tungkai.

Gejala PP yang lain meliputi; kekakuan tubuh, gerakan tubuh semakin melambat dan gangguan keseimbangan tubuh. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan pasien kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Cara berjalan pasien akan tampak tidak normal. Saat berjalan, tangan pasien tampak tidak mengayun dengan leluasa, tidak dapat mengangkat kaki tinggi dan langkah kaki menjadi pendek-pendek sehingga menimbulkan kesan berjalan seperti diseret atau seperti robot.

Ekspresi wajah pasien juga menurun atau tidak banyak berekspresi sehingga memberikan kesan seperti wajah topeng. Kondisi ini disebut sebagai hipomimia. Ketika pasien diminta untuk menulis, tulisan pasien menjadi semakin kecil. Hal ini disebut sebagai mikrografia.

Saat berbicara, volume suara pasien semakin lama semakin mengecil yang disebut sebagai hipofonia dan terdengar monoton (nada suara terdengar sama). Pasien juga mudah kehilangan keseimbangan dan mengalami penurunan reflex sehingga mudah terjatuh.

Pada kondisi lain, pasien dengan PP dapat mengalami gangguan mental seperti depresi, demensia, gangguan berkemih seperti retensi urine, gangguan pencernaan seperti konstipasi, gangguan fungsi seksual (disfungsi ereksi), dan gangguan tidur atau insomnia.

Pada kondisi tertentu pasien juga dapat mengalami gangguan pada sistem indera berupa penurunan fungsi penciuman yang disebut sebagai hiposmia, rasa kesemutan dan penurunan fungsi penglihatan.

Gejala dari PP muncul secara perlahan dan semakin lama semakin memberat seiring waktu. Oleh karena itu, pasien biasanya tidak menyadari kapan awal mulanya timbul gejala PP dan datang dalam kondisi yang sudah lanjut. Penegakan diagnosis PP adalah secara klinis, yaitu dengan melakukan pengkajian riwayat penyakit pada pasien dan dengan pemeriksaan fisik.

PP tidak dapat disembuhkan. Tujuan utama dari penanganan PP adalah untuk mengendalikan tanda dan gejala PP agar tidak semakin memberat. Obat yang biasa diberikan pada pasien PP adalah obat yang mengandung levodopa, agonis dopamin,  monoamine oxidase B inhibitor, contohnya selegilin dan rasagilin, serta obat antikolinergik (triheksifenidil).

Penanganan lain yang dapat diberikan kepada pasien PP melalui operasi dengan deep brain stimulation. Penanganan ini diberikan kepada pasien dengan PP yang tidak menunjukkan respons yang baik terhadap obat.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Pelayanan Geriatri RS Panti Rapih

Keberadaan lanjut usia (lansia) memegang peranan penting bagi pembangunan Indonesia. Hal ini mengingat bahwa salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup maka menyebabkan jumlah penduduk lansia semakin besar. Penduduk lansia sebagai modal pemerintah untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta menuntaskan target dan sasaran Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015. Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia mengemukakan bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah penduduk lansia tahun 2013 sebesar 13,56% dari keseluruhan penduduk (BPS, 2013). Pemerintah mencatat Yogyakarta merupakan kota yang memiliki jumlah penduduk lanjut usia (lansia) tertinggi di Indonesia. Dari total penduduk di kota pelajar tersebut, diperkirakan, lansia mencapai 13,4 persen pada 2015, meningkat 14,7 persen (2020), dan 19,5 persen (2030).Besarnya jumlah penduduk lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta perlu menjadi perhatian tersendiri, mengingat di satu sisi semakin meningkatnya penduduk lansia berarti kualitas hidup semakin baik seiring semakin baiknya akses untuk mendapatkan fasilitas kesehatan sehingga usia harapan hidup meningkat.

Berbagai upaya harus dipersiapkan oleh lansia sendiri maupun keluarganya agar ke depan lansia tetap sehat, aktif, mandiri, dan produktif. Kesiapan lansia untuk tetap peduli pada masa depan dapat dilihat dari 5 (lima) dimensi, yaitu dimensi fisik, psikologis, mental spiritual, sosial kemasyarakatan, dan pengembangan potensi. Keluarga memiliki peranan penting dalam membina kesiapan lansia untuk tetap peduli masa depan, harapannya agar terwujud kualitas keluarga yang sejahtera lahir dan batin. Rumah Sakit Panti Rapih sebagai rumah sakit yang terus berinovasi juga merasa perlu adanya pelayanan kesehatan terpadu yang secara khusus berorientasi kepada pasien-pasien lanjut usia. Menurut survey di RS 7,9% pasien Rumah Sakit Panti Rapih adalah pasien lansia.

Peningkatan populasi lansia ini juga berimbas pada pembentukan kebijakan Permenkes nomor 79 tahun 2014 untuk menyelanggarakan pelayanan geriatri terpadu di Rumah Sakit dengan pendekatan multidisiplin yang bekerja secara interdisiplin yang bertujuan :

  1. Meningkatkan kualitas hidup, kualitas pelayanan dan keselamatan pasien lanjut usia di Rumah Sakit Panti Rapih.
  2. Rumah Sakit memiliki regulasi pelayanan untuk lanjut usia secara terpadu sesuai dengan tingkat pelayanan lanjut usia tingkat sempurna
  3. Rumah Sakit Panti Rapih mampu menyediakan layanan lanjut usia terpadu dengan pendekatan multi disiplin yang bekerja sama secara interdisiplin.
  4. Rumah Sakit Panti Rapih memberikan pelayanan secara bersahabat dengan lanjut usia di rawat jalan, rawat inap dan di masyarakat.
  5. Melaksanakan system monitoring dan evaluasi pelaksanaan pelayanan kepada lanjut usia secara terpadu.

Anggota tim inti dalam pelaksanaannya akan didukung oleh anggota terkait yang terdiri atas ahli berbagai bidang terait seperti Penyakit dalam, neurologi,gigi mulut, THT, kulit, orthopedi, bedah umum, bedah vaskuler, mata, obstetri dan gynekologi, urologi.

Pelayanan rawat jalan mengedepankan layanan one stop service, sehingga pasien usia lanjut akan mendapatkan pelayanan pada satu atap yang nyaman. Pelayanan rawat jalan ini akan ditunjang dengan beberapa pelayanan penunjang seperti radiologi, farmasi, dan laboratorium.

Produk layanan unggulan di RS Panti Rapih adalah Rawat jalan/poliklinik geriatri yang meliputi klinik assesment geriatri, klinik penyakit dalam geriatri, klinik rehabilitasi medik geriatri.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Pelayanan Geriatri Golden Care lantai 1 Gedung Lukas RS Panti Rapih Yogyakarta.