Mengenal Lebih Dekat Geriatri Ginekologi Cetak
Ditulis oleh dr Danny Wiguna, SpOG   
Sabtu, 16 Februari 2019 08:58

Geriatri MenopauseDefinisi geriatri atau yang disebut juga lanjut usia menurut Departemen Kesehatan RI merupakan seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. definisi dari geriatri ginekologi merupakan ginekologis patologis yang terjadi pada wanita yang telah menopause dan berusia lebih dari sama dengan 65 tahun ke atas. populasi lanjut usia di Indonesia terus meningkat diprediksi pada tahun 2050 akan menjadi 21.4% dan meningkat menjadi 41% pada tahun 2100. Tingkat populasi lanjut usia di Indonesia pada tahun 2100 juga diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan dengan populasi lanjut usia di dunia, yaitu sebesar 41% dan 35.1%.

 

Masalah ginekologi yang paling sering ditemukan ialah keganasan (32%), prolaps uterovaginal (26%), dan infeksi urogenital (17%). Keganasan paling sering terjadi ialah kanker serviks yaitu sebesar 16%, diikuti oleh kanker ovarium sebesar 9% dan kanker endometrium sebesar 6%. Keadaan menopause pada saat lanjut usia juga turut berperan dalam terjadinya masalah ginekologis, salah satunya dikarenakan adanya perubahan pada kadar pH vagina yang terjadi akibat tingkat estrogen yang rendah.

 

Terapi penggantian hormon juga perlu dibahas dikarenakan terapi hormon ini cukup berperan dalam mengatasi masalah yang terjadi pada usia lanjut. Diharapkan kualitas hidup pada populasi lanjut usia juga dapat meningkat.

Hal-hal yang terkait pembahasan seputar geriatri ginekologi adalah sebagai berikut:

Menopause

Beberapa tahun sebelum terjadinya menopause, folikel mengalami deplesi, hingga estrogen yang terproduksi semakin rendah. Diawali dengan penurunan kadar estradiol, dari 50-300 pg/ml pada saat sebelum menopause menjadi 10-20 pg/ml setelah menopause. Diikuti dengan tidak adanya pertumbuhan pada endometrium nantinya berakhir menjadi tidak adanya menstruasi. saat telah menopause, jumlah estron lebih tinggi dibandingkan estradiol memiliki sifat yang lebih lemah dibandingkan dengan estradiol. sekitar 5-10 tahun kemudian akan benar-benar rendah hingga akhirnya dapat dikatakan sebagai “true menopause”.
Dampak yang paling sering terjadi pada saat menopause ialah adanya gejala vasomotor seperti hot flush. Sebagai adanya rasa panas yang terjadi secara tiba-tiba yang diikuti dengan keluarnya keringat, pengaruh terhadap sistem urogenital dan vagina, mengeluhkan adanya rasa
sakit saat melalukan hubungan seksual (dyspareunia) dan nyeri pada saat berkemih (dysuria). Disebabkan atrofi pada lapisan epitel vagina, kandung kemih, dan uretra yang diakibatkan oleh kadar estrogen yang rendah. Masalah lainnya penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, osteoporosis dan fraktur, perubahan fisiologis, kerontokan rambut dan berkurangnya elastisitas pada kulit, disfungsi seksual, dan penurunan kognitif.

Menipausal Transition

Gynecology Geriatric Malignancy

Keganasan memuncak di usia 60 hingga 70 tahun dimana 75% mencakup lansia, 1% dari seluruh penyakit keganasan sehingga keganasan meningkatkan mortalitas hingga 34%. Keganasan pada lansia paling banyak ditemukan ialah keganasan pada ovarium (47.93%), serviks (31.40%), dan endometrium (12.39%). Keganasan dapat dicegah dengan skrining dini.

Pelvic Organ Prolapse

Merupakan relaksasi dari bagian mana saja di area bawah pelvis termasuk cystocele, urethrocele, rectocele, uterine prolapse, dan eversi dari vagina atau anus. Penanganan dilakukan hanya jika pasien mengalami ketidaknyamanan serta limitasi fungsi hidup seperti inkontensia urin maupun fecal, terdapat ulserasi.
Pelvic organ Prolapse memiliki banyak factor risiko yang multifactorial. Factor risiko itu ialah:

  1. Genetik
  2. Usia
  3. Ras
  4. Menopause
  5. Obesitas
  6. Peningkatan tekanan intraabdomen

Penyangga organ panggul merupakan interaksi yang kompleks antara otot-otot dasar panggul, jaringan ikat dasar panggul, dan dinding vagina. Faktor risiko yang telah disebutkan diduga terlibat dalam terjadinya kerusakan struktur penyangga tersebut sehingga terjadi kegagalan dalam menyangga uterus dan organ-organ panggul lainnya. Operasi dilakukan hanya jika pasien dapat menangani masalah elektif dikemudian hari tanpa adanya faktor risiko serta mempertahankan kualitas hidupnya.

Infeksi pada Urogenital

Merupakan infeksi bakteri yang paling sering ditemukan pada populasi lanjut usia. Infeksi pada urogenital yang dimaksud ialah seperti infeksi pada saluran kemih dan bakterial vaginosis. Dikarenakan adanya peningkatan pada kadar pH vagina menjadi alkali (>4.5) yang disebabkan oleh rendahnya tingkat estrogen pada keadaan menopause menyebabkan vagina menjadi lingkungan yang nyaman untuk Lactobacilli dan lebih rentan terhadap infeksi urogenital dan patogen yang berasal dari feses.
Vagina, vulva, uretra, dan bagian trigonum dari kandung kemih berasal dari sinus urogenital, merupakan jaringan yang sensitif terhadap estrogen, dapat berimplikasi pada keempat bagian tersebut yang ditandai dengan munculnya gejala dermatologi, vaginal discharge yang berkurang, dyspareunia, gangguan berkemih, dan infeksi saluran kemih. Gejala atrofi urogenital ditandai seperti adanya rasa kering pada vagina, gatal, rasa terbakar dan berkurangnya discharge dari vagina, adanya dyspareunia, frekuensi saat buang air kecil, urgensi, dysuria, dan infeksi saluran kemih yang rekuren.
Untuk mengurangi infeksi pada saluran kemih yang harus dievaluasi pemeriksaan terhadap fungsi usus dan kandung kemih, riwayat medikasi, observasi perilaku buang air kecil, identifikasi adanya inkontinensia antesenden, pengobatan terhadap adanya impaksi feses, pemeriksaan pelvis, urinalisis, dan estimasi volume residu setelah buang air kecil.

Hormone Replacement Therapy

Terapi yang digunakan untuk mengurangi gejala post menopause dengan cara pemberian estrogen dan progestogen sintesis untuk menggantikan kedua hormon yang telah berkurang ketika mengalami menopause.
Berbagai bentuk terapi antara lain secara lokal dan sistemik. Terapi lokal diberikan dalam bentuk krim, pesarium, dan cincin sedangkan terapi hormone sistemik diberikan dalam bentuk obat secara oral, transdermal patch, gel, dan implant. Indikasi terapi penggantian hormon selain untuk mengurangi gejala post menopause, digunakan untuk mengatasi premature menopause, ovarian failure, dan risiko osteoporosis. Sedangkan, kontraindikasi dibagi menjadi dua, yaitu kontraindikasi relatif dan absolut.

Kontraindikasi relative

Dementia
Penyakit kantung empedu
Hipertrigliseridemia
Riwayat penyakit jaundice kolestatis
Hipotiroid
Retensi cairan dan disfungsi jantung atau ginjal
Hipokalsemia berat
Riwayat endometriosis
Hepatik hemangioma

Kontraindikasi absolut

Perdarahan abnormal dari kemaluan yang tidak diketahui penyebabnya
Riwayat / suspek / terdiagnosis kanker payudara
Suspek atau terdiagnosis adanya estrogen-dependent neoplasia
Riwayat atau sedang mengalami penyakit tromboemboli pada vena
Riwayat atau sedang mengalami penyakit tromboemboli pada arteri (Contoh: stroke atau infark miokard)
Disfungsi liver

Tabel : Kontraindikasi Relatif dan Absolut terhadap Penggunaan Terapi Hormon Estrogen

Sebelum dilakukannya terapi hormon, petugas kesehatan sebaiknya melakukan anamnesis mengenai riwayat penyakit pasien dan riwayat medikasi terlebih dahulu, pemeriksaan lainnya seperti mammogram, pemeriksaan pelvis, pap smear atau pengukuran ketebalan endometrium.

Pemutakhiran terakhir pada Sabtu, 16 Februari 2019 10:04