Hari Ginjal Sedunia 2018 Cetak
Ditulis oleh dr. FX Wikan Indrarto, Sp.A   
Selasa, 06 Maret 2018 10:06

Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) yang dirayakan setiap tanggal 8 Maret, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya ginjal kita, terhadap keseluruhan kesehatan kita, dan untuk mengurangi frekuensi dan dampak penyakit ginjal dan masalah kesehatan yang terkait di seluruh dunia. Apa yang perlu diketahui?

 

Tema tahun 2017 adalah Penyakit ginjal dan obesitas, sedangkan tahun 2018 adalah Ginjal dan Kesehatan Wanita: Libatkan, Bernilai, dan Berdayakan. Penyakit ginjal kronis  atau Chronic Kidney Disease (CKD) adalah masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia dengan hasil akhir yang buruk, yaitu gagal ginjal dan kematian dini. CKD mengenai sekitar 195 juta wanita di seluruh dunia, dan saat ini merupakan penyebab utama kematian ke-8 pada wanita, hampir mendekati 600.000 kematian setiap tahun.

 

CKD lebih cenderung terjadi pada wanita, dengan prevalensi rata-rata 14% pada wanita dan 12% pada pria. Namun, jumlah wanita yang menjalani cuci darah atau dialisis lebih rendah dari pria. Setidaknya ada tiga alasan utama, yaitu perkembangan CKD lebih lambat pada wanita dibandingkan pria, hambatan psiko-sosial ekonomi seperti kesadaran penyakit yang lebih rendah menyebabkan keterlambatan dialisis pada wanita, dan akses perawatan yang tidak merata.

Beberapa penyakit ginjal, seperti nefropati lupus atau infeksi ginjal (pielonefritis akut atau kronis) biasanya mengenai wanita. Nefritis lupus adalah penyakit ginjal yang disebabkan oleh penyakit autoimun, yang merupakan gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel dan organ sendiri. Pyelonephritis adalah infeksi yang berpotensi parah yang melibatkan satu atau kedua ginjal. Infeksi ginjal, seperti kebanyakan infeksi saluran kemih, lebih sering terjadi pada wanita dan risikonya meningkat pada saat kehamilan. Untuk memastikan hasil klinis yang baik,  kebanyakan penyakit ginjal memerlukan diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu.

CKD juga dianggap sebagai faktor risiko untuk hasil kehamilan yang merugikan dan mengurangi kesuburan. Wanita yang memiliki CKD berisiko tinggi mengalami hasil buruk bagi ibu dan bayi. Kehamilan pada wanita dengan CKD stadium lanjut paling sulit diatasi, dengan tingginya kejadian hipertensi dan kelahiran bayi prematur. CKD mungkin telah mengurangi kesuburan namun konsepsi mungkin saja dapat terjadi, bahkan meskipun jarang. Dengan dialisis, hasil kehamilan mungkin dapat membaik dengan perawatan dialisis intensif, yaitu hampir setiap hari, sehingga memerlukan program dialisis khusus untuk wanita usia subur dan hamil.

Komplikasi terkait kehamilan terbukti meningkatkan risiko penyakit ginjal. Misalnya pre-eklampsia, yaitu sindrom di mana terjadi cacat implantasi plasenta, akan mempengaruhi ginjal normal yang memicu terjadinya hipertensi dan proteinuria. Pre-eklamsia ini merupakan salah satu dari 3 penyebab utama kematian maternal. Preeklamsia, aborsi septik (infeksi plasenta) dan perdarahan post partum (perdarahan utama setelah melahirkan) adalah penyebab utama terjadinya cedera ginjal akut atau acute kidney injury  (AKI) pada wanita muda, dan mungkin akan berlanjut menjadi CKD pada ibu yang selamat.

Beban komplikasi penyakit ginjal sangat tinggi pada ibu di negara berkembang, karena akses yang tidak mencukupi untuk mendapatkan perawatan pranatal yang universal dan tepat waktu. Selain itu, juga penanganan medis yang tidak tepat pada ibu hamil dengan preeklampsia, dan kurangnya ketersediaan fasilitas dialisis untuk AKI berat. Untuk itu, diperlukan kesadaran yang lebih tinggi, diagnosis yang tepat waktu, dan penanganan CKD yang bermutu pada kehamilan. Pada gilirannya, kehamilan mungkin juga merupakan kesempatan yang berharga untuk diagnosis dini CKD, yang memungkinkan perencanaan intervensi terapeutik.

Katastropik (‘catastropic’) berarti bencana atau malapetaka, karena pengelolaan penyakit tersebut berbiaya tinggi dan secara medis dapat terjadi komplikasi yang membahayakan jiwa pasien. Terdapat 8 (delapan) penyakit katastropik pada era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) antara lain jantung, gagal ginjal, kanker organ, stroke, sirosis hepatis, thalasemia, kanker darah atau leukemia, dan hemofilia. Jumlah biaya layanan kesehatan penyakit katastropik di Indonesia dari total biaya pada tahun 2016 mencapai 24,81%. Berdasarkan data klaim JKN sampai dengan bulan bayar Januari 2017, penyakit jantung paling banyak membutuhkan biaya pengobatan, yaitu Rp. 6,9 T dan sangat membebani anggaran JKN. Kemudian disusul penyakit kanker Rp. 1,8 T, stroke Rp. 1,5 T, ginjal Rp. 1,5 T, dan diabetes Rp. 1,2 T. Namun demikian, tidak tersedia data apakah pembiayaan sebesar itu telah memberikan luaran medis yang sepadan.

Momentum Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) dan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) Kamis, 8 Maret 2018 yang diperingati pada hari yang sama, mengingatkan kita akan pentingnya kesehatan perempuan dan khususnya kesehatan ginjal mereka. Selain itu, Hari Ginjal Sedunia ke 13 tahun 2018 ini, menganjurkan akses yang terjangkau dan merata kepada edukasi atau pendidikan kesehatan, layanan kesehatan, dan pencegahan penyakit ginjal, khususnya bagi semua wanita dan anak perempuan di seluruh dunia. Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 8 Februari 2018

dr. DR. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM,

WA: 081227280161

Pemutakhiran terakhir pada Kamis, 15 November 2018 12:06