Harapan Tentang Pemberantasan HIV AIDS Cetak
Ditulis oleh dr. FX Wikan Indrarto, Sp.A   
Selasa, 28 November 2017 12:02

Harapan tentang pemberantasan HIV AIDS -terutama pada anak-  yang perlu mendapatkan dukungan kita semua

ditulis oleh : FX Wikan Indrarto*)


aids-child

Perayaan Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) pada Jumat, 1 Desember 2017 memiliki tema 'hak atas sehat' (Right to health), dengan menyoroti hak 36,7 juta orang atau semua orang yang hidup dengan HIV, untuk tetap sehat. Apa yang harus disadari?

 



Pada tahun 2015, para pemimpin global telah menandatangani Sasaran Pembangunan Berkelanjutan, dengan tujuan  untuk mencapai cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC) pada tahun 2030. Di bawah slogan "Everybody counts", 36,7 juta orang tersebut harus memperoleh akses terhadap obat yang aman, efektif, berkualitas dan terjangkau, termasuk prosedur diagnostik dan layanan perawatan kesehatan yang dibutuhkan, sekaligus  memastikan bahwa mereka dilindungi terhadap risiko beban pembiayaan. Dengan UHC, maka tidak boleh ada lagi orang yang tertinggal, layanan kesehatan harus yang berkualitas tinggi, dan layanan HIV, tuberkulosis dan hepatitis harus terintegrasi. Selain itu,  orang yang hidup dengan HIV, termasuk anak, memiliki akses terhadap perawatan yang terjangkau.

Secara global diperkirakan 3,2 juta anak hidup dengan HIV pada akhir tahun 2013. Infeksi HIV pada anak terutama disebabkan penularan dari ibu, yaitu pada periode kehamilan, selama dan setelah persalinan. Data dari Ditjen PP & PL Kemkenkes RI pada 18 Mei 2016 menunjukkan bahwa, sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Desember 2016,  HIV-AIDS tersebar di 407 (80%) kabupaten/kota di seluruh  Indonesia. HIV-AIDS pertama kali ditemukan di Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2012.

Kemenkes juga melaporkan prevalensi HIV/AIDS sudah turun menjadi 0,33% (697.142 orang) di tahun 2016. Hingga Juli tahun 2017, yang masih terus mendapatkan obat ARV (Anti Retro Viral) sebanyak 83.517 orang. Dengan intervensi yang manjur (efficacious interventions), risiko penularan HIV dari ibu-ke-bayi  (mother-to-child HIV transmission) dapat dikurangi menjadi 2%.  Namun, intervensi semacam itu masih belum dapat diakses secara luas atau tersedia di kebanyakan negara atau daerah yang terbatas sumber daya, tetapi beban HIV tinggi.  Jumlah anak di bawah 15 tahun yang menerima ARV di negara berpenghasilan rendah dan menengah meningkat dua kali lipat dari tahun 2009 sampai 2013, dari 355.000 sampai 740.000 orang.  Pada akhir tahun 2013, kurang dari seperempat (23%) anak yang hidup dengan HIV menerima ARV di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dibandingkan dengan lebih dari sepertiga (37%) dari orang dewasa pada tahun 2009.

Kementerian Kesehatan RI Tahun 2014 memberikan panduan kapan kita harus memikirkan adanya infeksi HIV pada anak, dengan cara  melakukan temuan kasus (case finding).  Masalah terbesar adalah menentukan cara diagnostik yang terbaik.  Bayi dan anak wajib menjalani tes HIV, apabila anak menderita penyakit yang berhubungan dengan HIV, seperti  TB berat atau mendapat OAT berulang, malnutrisi, atau pneumonia berulang, dan diare kronis atau berulang. Juga bayi yang  lahir dari ibu terinfeksi HIV dan sudah mendapatkan perlakuan pencegahan penularan dari ibu ke anak. Selain itu, bila  salah satu saudara kandungnya didiagnosis HIV; atau salah satu atau kedua orangtua meninggal oleh sebab yang tidak diketahui, tetapi masih mungkin karena HIV. Kasus lain adalah anak yang terpajan atau potensial terkena infeksi HIV, baik melalui jarum suntik yang terkontaminasi, menerima transfusi darah berulang ataupun  mengalami kekerasan seksual.

Untuk memastikan diagnosis HIV pada anak dengan usia < 18 bulan, dibutuhkan uji virologi HIV  yang dapat memeriksa virus atau komponennya.  Anak dengan hasil uji virologi HIV positif pada usia berapapun, artinya terkena infeksi HIV. Bila ada anak berumur < 18 bulan dan dipikirkan terinfeksi HIV, tetapi perangkat laboratorium untuk PCR HIV tidak tersedia, dokter diharapkan mampu menegakkan  diagnosis presumtif atau dugaan.

Dugaan infeksi HIV harus ditentukan apabila ada 1 kriteria berikut:  PCP (Pneumocystis Carinii Pneumonia), meningitis kriptokokus, kandidiasis esophagus, toksoplasmosis, atau malnutrisi berat yang tidak membaik dengan pengobatan standar.  Selain itu, bila ditemukan minimal ada 2 gejala berikut : oral thrush, pneumonia berat, sepsis berat, penyakit atau kematian ibu yang berkaitan dengan HIV, atau CD4+ T Lymphocyte  <20%.

Oral thrush adalah lapisan putih kekuningan di atas mukosa lidah (pseudomembran) atau bercak merah di lidah, langit-langit mulut atau tepi mulut, yang disertai rasa nyeri, dan tidak bereaksi dengan pengobatan zalf anti jamur. Pneumonia adalah batuk atau sesak napas pada anak dengan adanya tarikan dinding dada, suara napas tambahan (stridor),  penurunan kesadaran, tidak dapat minum atau menyusu, muntah, dan adanya kejang selama episode sakit sekarang, meskipun dapat membaik dengan pengobatan antibiotik. Sepsis adalah demam atau hipotermia pada bayi muda, dengan tanda yang berat seperti bernapas cepat, tarikan dinding dada, ubun-ubun besar menonjol, letargi, gerakan berkurang, tidak mau minum atau menyusu, dan kejang.

Pemeriksaan uji HIV cepat (rapid test) pada anak dengan hasil reaktif, harus dilanjutkan dengan 2 tes serologi yang lain.  Bila hasil pemeriksaan tes serologi lanjutan tetap reaktif, anak harus segera mendapat obat ARV. Sedangkan diagnosis infeksi HIV pada anak > 18 bulan sudah dapat menggunakan cara yang sama dengan uji HIV pada orang dewasa.  Perhatian khusus harus diberikan untuk anak yang masih mendapat ASI pada saat tes dilakukan,  karena uji HIV baru dapat diinterpretasi dengan baik, apabila ASI sudah dihentikan selama > 6 minggu. Pada anak umur > 18 bulan, ASI bukan lagi sumber nutrisi utama. Oleh karena itu, cukup aman bila ibu diminta untuk menghentikan ASI sebelum dilakukan diagnosis HIV.

Momentum Hari AIDS Sedunia Jumat, 1 Desember 2017 juga mengingatkan tentang slogan kampanye global  *'Stop AIDS. Keep the Promise'.* Slogan yang digunakan sepanjang tahun itu untuk meminta  pertanggungjawaban pemerintah atas komitmennya terkait HIV dan AIDS, juga pada anak  di semua negara, termasuk Indonesia.

 


Sekian
Semoga bermanfaat.

Terimakasih.

Yogyakarta, 28 November 2017
*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di RS Siloam dan RS Panti Rapih  Yogyakarta, Alumnus S3 UGM,

WA: 081227280161

e-mail :  This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Pemutakhiran terakhir pada Selasa, 28 November 2017 12:15