Ortopedik & Traumatologi

RS Panti Rapih melayani penggantian sendi lutut dan pinggul, pelurusan tulang belakang, serta peyambungan tulang.

Urologi

Unit bedah urologi melayani tembak batu ginjal dengan ESWL dan penanganan batu ginjal dengan metode PCNL.

Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan yang bertujuan untuk mengoptimalkan luaran ibu dan bayi dengan pengamatan kehamilan berkelanjutan untuk mencapai “Healthy Mother and Healthy Baby”

testing testing
Frater ... bolehkah aku mencintaimu?

Pasienku yang satu ini sungguh lain. Teman-temanku, tidak hanya yang masih muda sepertiku, tetapi juga yang sudah senior pun sepertinya merasakan yang sama. Bukan karena sikapnya yang usil dan aneh, tetapi karena sesuatu yang boleh aku katakan istimewa.
Orangnya masih muda, tetapi tampak kedewasaannya. Dia tidak terlalu ganteng, tetapi sikapnya yang matang menawan hatiku. Orangnya lembut, tetapi dari dalam dirinya tampak ketegasan. Orangnya tegar, tetapi tampak sekali sikap kepasrahannya. Orangnya tampak pintar, tetapi kesederhanaan dan kepercayaannya kepada kami para perawat kelihatan sekali. Yang paling menarik bagiku, dia bukan milik siapa-siapa. Karenanya bagiku siapa pun boleh merasa memilikinya, termasuk diriku. Pasien yang kumaksud itu adalah seorang frater, calon pastor.

Aku sangat senang berbincang-bincang dengannya. Rasanya hati ini damai bila dekat dengannya. Tidak ada sesuatu yang mengancam. Begitu juga yang dirasakan oleh teman-teman. Apa saja yang diperbincangkan rasanya selalu ada yang baru. Sepertinya dia selalu membuka cakrawala baru bagi pikiranku yang sempit ini. Kadang kata-kata yang keluar memang menghenyakkan hati, rasa-rasanya aku dikritik. Kalau kata-kata itu muncul, aku berpikir, jangan-jangan pasienku ini tahu yang ada di hatiku. Kalau tahu, aduh akan kusembunyikan di mana muka ini.

Biasanya aku diminta untuk menjadi pendengar atas segala keluhan pasien, tetapi kepada yang satu ini aku lebih suka bertanya. Meski dalam bertanya kubungkus dengan pertanyaan yang agak umum, namun sebenarnya aku ber-tanya untuk diriku sendiri. Meski tokoh yang kutanyakan itu orang lain, namun sebenarnya itu diriku sendiri. Mungkin sekali pasienku itu tahu bahwa sebenarnya aku meminta nasihat untuk diriku.

Di kamar jaga, pasienku itu sedikit banyak menjadi bahan omongan. Kalau menyangkut pasien lain, omongan berhubungan dengan penyakit yang dialaminya, kerewelan, atau yang sejenisnya. Akan tetapi, omongan tentang pasien yang satu ini agak berbeda.

"Senang ya ... punya pasien seperti frater itu? Tidak rewel, tidak protes. Diapa-apakan manut!" kata Puspa.

"Diapa-apakan gimana?" tanya Tina dengan sikap yang agak lucu.

Kami semua tertawa. Tak tahu apa yang mereka tertawakan. Paling-paling menertawakan apa yang ada dalam pikirannya sendiri, seperti yang aku lakukan.

"Ssst ... jangan keras-keras, nanti Suster kepala datang. Beliau bisa marah besar, apalagi tahu kalau yang kita omongkan pasien yang satu itu!" kataku memperingatkan.

"Kenapa ya, ... Suster Kepala itu sepertinya sungguh menyayanginya. Bahkan, kesanku begitu memanjakannya;" sela Tisi.

"Takut kalau kamu rampas .... Bukankah sesama kaum berjubah diharap saling melindungi!" sahut Tina sambil menuding kami.

Deg ... sepertinya jantungku berhenti saat tudingan Tina mengarahku. Kenapa dia menudingku yang pertama? Apakah aku dia kira akan merampasnya? Aduh bisa gawat, bila dia tahu isi hatiku!

"Hmm ... eman-eman ya, orang ganteng seperti itu kok mau jadi pastor?" kata Puspa.

"Iya, ya ... !" sahut Tina semangat.

"Memangnya kalau ngganteng lalu kenapa. Bukankah lebih pas. Kalau dia khotbah 'kan bisa menjadi daya tarik. Setidak-tidaknya senyumnya saja bisa menunjukkan kedamaian. Coba bayangkan ... kalau kita dengar khotbah romo yang nggak menarik tambah lagi romonya tidak simpatik, apa yang bisa kita dapatkan?" jelasku.

"Kok suci amat kamu!" komentar spontan bersama-sama.

"Paling-paling, kalau dia suka sama kamu, kamu pasti nggak nolak. Ya 'kan?" kata Tina langsung diarahkan kepadaku.

Tak kusangka kudengar kata-kata yang begitu mengagetkan. Kata-kata itu menjadikan aku bagai patung. Rasanya serba salah. Aku jadi kikuk, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasa bahagia, malu, dan tanda tanya bercampur aduk menjadi satu. Tak tahulah seperti apa wajahku waktu itu. Bagaimana mungkin Tina tahu apa yang ada di hatiku? pikirku.

"Mau nggak? Kalau kamu nggak mau, aku mau lho!" kata Tina sambil tersenyum.

Nakal benar anak itu. Aku belum mampu menguasai diri, dia sudah menyodorkan pertanyaan yang tidak kalah seru. Kapan-kapan harus dikasih pelajaran anak ini, kataku dalam hati.

Kring ... kring ... kami dengar suara bel yang datang dari pasien. Ketika kami menyaksikan bahwa bel itu datang dari kamar frater, kami semua jadi diam. Apakah dia tahu kalau sedang kita bicarakan?

"Hayo ... siapa sana yang mau membantu frater?" tanya salah seorang kakak senior yang sejak tadi asyik dengan pekerjaannya dan hanya menjadi pendengar yang baik.
Untunglah kakak senior itu bisa memahami kami. Barangkali karena umurnya, pengalamannya, atau statusnya yang sudah sebagai seorang ibu rumah tangga beliau bisa memahami kami yang masih muda-muda ini.

Kami semua masih diam. Aku sebenarnya ingin sekali bergegas membantunya, tetapi apa kata teman-temanku nanti. Mungkin temanku pun berpikir yang sama. Buktinya di antara kami justru tidak ada yang segera pergi.

"Hayo ... siapa. Cepat dong, kasihan fraternya!" desak kakak senior. Aku terhenyak.

"Dik Tis ... ayo kita berdua," kataku spontan sambil menggandeng Tisi.

"Nah ... gitu dong, tadi ditawari malu-malu," komentar Tina.

"Alaa ... biasanya sendiri, sekarang butuh teman segala," sambung Puspa.

"Maksudnya, aku atau Dik Tisi?" tanyaku mencoba menetralkan suasana.

Kemudian, tak kugubris kata-kata mereka. Untung sekali Tisi tak keberatan kuajak ke kamar pasienku yang satu itu. Semakin dekat dengan kamarnya, hati ini semakin deg-degan. Omongan yang baru saja terjadi sungguh menggangguku. Sepertinya semua orang sudah tahu apa yang terjadi dalam hatiku.

Sesampai di kamar frater, aku menjadi agak kikuk dan tidak bebas. Saat kulihat senyumnya ... aduh, hati ini rasanya jadi tidak karuan. Rasa kikuk dan rasa yang lain bercampur jadi satu. Entah bagaimana, untunglah pasienku itu bisa mencairkan rasa kikuk yang menyelimuti diriku ini.

Omongan Tina, yang sepertinya telah membaca isi hatiku, membuat sikapku terhadap pasienku itu berubah. Sesuatu yang semula terasa samar-samar di hatiku kini terasa lebih jelas. Meski kucoba kutepiskan, kualihkan, dan kututup-tutupi rasa itu sepertinya semakin menempel. Setiap membantu dia, sepertinya muncul rasa keibuanku yang paling dalam. Ingin kubantu dia sebaik mungkin, bahkan ingin kumanjakan dia sehingga bahagia. Bahkan, aku harus berjuang menahan rasa gemas yang kadang menguasai hatiku. Akan tetapi sisi lain, kurasakan juga bahwa rasa-rasanya aku semakin tak berdaya menghadapi dia. Sepertinya ada sesuatu yang menarik dan membawaku untuk lebih suka duduk di sampingnya, mendengarkan cerita-ceritanya yang kadang lucu dan aneh. Sesuatu yang aneh yang ada di dalam hatiku pun makin melonjak-lonjak bergelora. Dari sisi mana pun, ia selalu terlihat mempesona.

Yang semakin aneh kurasakan, rasanya hidup ini menjadi tidak lengkap bila belum melihat dia sehari saja. Bahkan ketika aku lewat, aku pun mencoba untuk meliriknya. Ada- ada saja pikiran untuk mencari alasan bagaimana bisa ketemu dia. Habis, setiap bersama dia, rasanya hati ini bahagia sekali. Setiap kata dan tingkahnya, begitu mengesan di hati. Apakah ini yang namanya aku tertarik? Aku jatuh cinta?

Saat-saat di asrama, suasana hati yang aku alami ini membawaku sering melamun. Kehadiran wajahnya menggodaku untuk melamunkan lebih jauh.

"Tidak ... tidak. Itu tidak boleh terjadi," kata-kata yang keluar dari mulutku dan sekaligus mengagetkan diriku. Segera kuamati sekelilingku, jangan-jangan ada yang dengar ocehanku itu. Kembali pikiranku menerawang jauh. Kembali saat-saat bersamanya hadir dalam benakku. Aku heran, mengapa perjumpaanku dengan dia dalam waktu yang begitu singkat telah mengubah hidupku? Mengapa di hatiku ini muncul sesuatu yang lain? Mengapa justru orang semacam dia yang mengisi hatiku? Kenapa tidak dulu-dulu dan dengan orang lain saja? Aku harus membuangnya jauh-jauh. Ini tak boleh terjadi. Sesuatu yang bagiku merupakan dosa besar, tak pantas itu terjadi.

Kutekan dan kutekan gejolak yang ada di hati ini. Akan tetapi, semakin kutekan dan kucoba untuk membuangnya, rasa-rasanya justru semakin kuat. Aduh ... gimana ini! Sepertinya aku berada di titik yang mengambang. Kucoba lagi bertanya dalam hati, apakah aku mencintainya? Rasa-rasanya iya ... tetapi harus kuyakini bahwa itu tidak boleh terjadi. Apakah aku ingin memilikinya? Rasa-rasanya iya ... tetapi aku harus membuang keinginan itu sejauh mungkin. Aneh dan sekaligus memusingkan.

Sering aku merasa lucu dengan diriku sendiri. Kenapa aku sibuk dengan hatiku, padahal mungkin dia sama sekali tidak menaruh perhatian kepadaku. Sikapnya yang kurasakan begitu penuh perhatian kepadaku, mungkin adalah sikap yang wajar, biasa-biasa saja, sebagaimana ia bersikap dengan orang lain. Hanya aku sajalah yang merasa lain. Akan tetapi aku juga ragu, mengapa dalam waktu yang begitu singkat, aku bisa akrab dan dekat. Apakah ini yang namanya jodoh? Selain itu, kurasakan juga sikapnya yang aku yakini kalau dia mengistimewakan aku. Aku tidak akan pernah melupakan saat aku duduk di samping pembaringannya. Dia bercerita begitu banyak tentang perjalanan hidupnya, mulai dari saat awal masuk seminari, saat ibunya tidak menyetujuinya dan bagaimana meyakinkan hingga ibunya mendukung, saat tidak kerasan, dan saat ragu akan panggilannya. Dan ketika aku akan meninggalkan kamarnya, tiba-tiba dia memberiku rosario. Digenggamnya kedua tanganku yang memegang rosario itu. Kehangatan tangannya menyelimuti seluruh tubuhku. Panas dalam sepertinya menggerayangi tubuhku. Saat itu rasanya aku melambung tinggi. Saat yang begitu indah dan membahagiakan yang tak pernah akan kulupakan.

"Mbak ... kok akhir-akhir ini suka melamun. Apa ada masalah?" tanya Tisi yang tiba-tiba muncul di sampingku. Karuan saja aku kaget dan dibuat bingung oleh pertanyaannya. Untunglah Tisi yang tanya, karena bagiku Tisi sudah seperti saudari sendiri.

"Mikirin siapa sih Mbak? Mikirin dia 'kan?" tanyanya lembut.

"Nggak tahulah Dik, tiba-tiba aku merasa asing dengan diriku sendiri," jawabku sekenanya.

"Nah ... itu namanya jatuh cinta!" kata Tisi sambil senyum mengejek.

"Ngawur kamu ... siapa sih yang mau sama aku?" kataku menyangkal.

"Mbak itu gimana ... jatuh cinta itu tidak ada hubungannya dengan apakah ada orang yang mau sama Mbak? Jatuh cinta ya jatuh cinta. Kalau tanya siapa yang mau sama Mbak, ya ... tentu banyak. Pura-pura lupa ya, kalau Mbak itu cantik. Kalau aku sendiri, tak pernah lupa tuh, aku 'kan tambah ayu! Lihat nich!" kata Tisi sambil bergaya. Aku heran orang seanteng dia bisa ngomong seperti itu.

"Maksudmu gimana, serius nich, aku lagi bingung," kataku serius.

Melihat aku serius, Tisi pun lalu serius. Ia lalu mengisahkan pengalamannya sendiri.
"Mbak, aku pun pernah jatuh cinta dengan seseorang. Sampai saat ini, aku masih mencintainya. Aku kenal dia karena dia teman akrab pamanku dan kebetulan waktu itu aku ikut paman. Orangnya sangat baik, sangat ramah, sangat supel. Ia suka membantu. Ia juga sangat pintar. Apa pun yang kutanya, dia bisa menjawab. Yang sangat mengesan, meski masih muda sekali, jauh di bawah umur pamanku, tetapi dia tampak begitu dewasa. Kata teman-temanku orangnya cakep. Pokoknya bagiku dia itu segalanya. Sepertinya tidak ada orang yang sebaik dia. Aku pun makin yakin kalau dia itu sungguh baik, karena pamanku sering memujinya.

Ketika pamanku liburan bersama dengannya, aku diajak. Sungguh bahagia aku. Hari itu aku mendapatkan perhatiannya secara istimewa. Sepertinya dia bisa membaca apa yang aku inginkan. Dia memanjakanku untuk membahagiakan aku. Aku pun terdorong untuk bersikap manja, dan dia membiarkan aku manja. Hanya saja pamanku yang sering memelototi aku, tapi aku cuekin.

Saat aku duduk di sampingnya, sambil minum es soda gembira, hatiku melambung jauh ke angkasa. Kudengar kata-katanya yang lembut, 'Dik ... kamu hati-hati lho kalau cari pacar, nggak usah tergesa-gesa. Pasti banyak yang naksir kamu. Sudah orangnya lembut, ayu lagi. Tuh ... matamu yang berbinar-binar. Tuh ... pipimu yang bagus. Rambutmu yang panjang, dan masih banyak lagi.'

Hari itu sungguh menjadi hari pertama yang terindah dalam hidupku. Inginnya aku mengulangi dan mengulangi. Akan tetapi, keinginan itu jarang terwujud. Bagaimana bisa terwujud? Tidak setiap hari aku bisa bertemu dengannya. Paling cepat setengah bulan, itu pun kalau dia datang. Keadaan ini membuatku tersiksa dengan rinduku.

Suatu hari Minggu dia datang ke rumah pamanku. Saking rindunya, aku menjadi jengkel. Aku tak mau menemuinya. Ketika kudengar dia menanyakan tentang aku, aku begitu bahagia, sepertinya ada suatu kemenangan. Akan tetapi, tak kuduga dia pun segera pamit. Aduh ... aku kecewa sekali. Rasanya ingin nangis. Kusalahkan diriku dan semua yang ada di sekitarku. Hari itu aku menjadi uring-uringan.

Sore hari, aku dikejutkan dengan apa yang kulihat. Dia datang lagi. Aduh bahagianya. Hatiku melonjak-lonjak kegirangan, terlebih ketika dia mengajakku untuk jajan bakso, langsung saja aku menyetujuinya. Rasanya lucu sekaligus malu bila kuingat tingkah lakuku saat itu. Di perjalanan aku banyak diam, rasanya ingin kutumpahkan segala rinduku. Akan tetapi, bagaimana itu bisa aku lakukan? Kembali kunikmati bakso dan es soda gembira. Saat dia tak memperhatikan aku, kutatap wajahnya dalam-dalam. Hatiku tergoncang saat tiba-tiba dia menatapku. Sorot matanya yang tajam namun tenang, membuat hatiku tak karuan. Kembali kurasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang semakin dalam.

Di sela-sela minum, aku mendapatkan kesempatan untuk menyingkap isi hatinya. Kutanya, seandainya ingin punya istri, istri macam apa yang dia dambakan. Dia tertawa terpingkal-pingkal. Katanya pertanyaanku aneh dan lucu. Akan tetapi, dia pun tetap menjawab. Dia tidak mengidealkan yang ini atau yang itu, pokoknya seadanya. Dia merasa senang, seandainya punya istri, istrinya adalah seorang perawat atau guru. Katanya perawat atau guru adalah orang yang punya hati dan punya perhatian besar pada orang lain. Kata-kata itu sungguh mempengaruhi hidupku. Karena itulah aku ingin menjadi seorang perawat.

Sayang, beberapa waktu kemudian dia sepertinya menghilang begitu saja. Kabarnya dia melanjutkan studi. Aku heran, untuk apa studi, karena toh sudah bekerja. Hatiku marah, mengapa dia tidak memberi tahu aku. Mengapa tidak pamit. Apakah aku ini tidak ada artinya di matanya? Jengkel, kecewa, marah, rindu, dan lain-lain menjadi satu.

Suatu hari, aku lihat dia ke rumah sakit bersama seseorang, barangkali temannya. Kupanggil dia, tetapi sama sekali tidak ada reaksi. Bahkan, sepertinya dia tergesa-gesa. Kembali rasa jengkel, marah, kecewa, rindu, dan lainya menjadi satu. Mengapa dia bersikap seperti itu? Apakah dia marah kepadaku? Apakah karena dia tahu, aku didekati oleh seorang laki-laki? Aku harus menjelaskannya. Untung sekali kudapatkan alamatnya, segera kukirim surat.

Tak lama kemudian aku mendapatkan jawaban surat yang ku tunggu-tunggu. Aku semakin bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Sepertinya dia tidak mau tahu tentang aku. Kupikir dia akan marah atau memintaku untuk menjauhi laki-laki itu. Eh ... tahunya dia malah mendukungku untuk bersahabat dengan laki-laki itu dan menasihatiku untuk tetap hati-hati. Aku tak tahu mengapa dia bersikap seperti itu. Tidakkah dia mencintaiku? Tidak tahukah kalau aku mencintainya?

Waktu terus berlalu. Hari demi hari aku hanya ditemani oleh rasa cinta dan rasa rindu yang sepertinya tak bertepi. Begitu pun di sini, saat menekuni pendidikan perawat. Aku baru menjadi sungguh terbuka mataku, setelah dibaptis. Ternyata yang kucintai adalah seorang frater. Sebutan frater dari dulu memang sudah aku dengar, tetapi aku tidak tahu hidup macam apa itu. Kupikir sebutan itu seperti titel, tahu- tahu dia mempunyai cara hidup yang khusus. Kacau seluruh hidupku. Aku merasa bodoh sekali dan merasa sia-sia, kenapa sekian lama kubiarkan hatiku berselimutkan rindu. Mengapa dalam hatiku ada keyakinan bahwa dia pasti datang dan kembali kepadaku. Aku merasa terhempas. Di sisi lain aku pun merasa berdosa, mengapa aku begitu mencintai, begitu berharap, begitu ingin memiliki? Kenapa aku tidak paham sejak dulu-dulu?

Anehnya, ketika aku dibaptis, dia mengirimi hadiah kepadaku berupa rosario. Aku heran, bagaimana dia bisa tahu? Aku menangis bahagia dan sekaligus kehilangan saat menerima hadiah itu. Aku tak yakin dengan kata-kata yang tertulis dalam surat itu, katanya dia menganggapku sebagai adik yang disayanginya. Hatiku ingin protes, rasanya tak cukup bila aku hanya dianggap adiknya. Aku ingin lebih dari itu. Akan tetapi, ... mana mungkin itu terjadi.

Hari demi hari berlalu dalam kehampaan ... meski kata orang aku telah menjalani hidup baru. Aku berjuang untuk menyadari dan meyakini bahwa aku tidak mungkin memiliki dia. Ternyata itu tidak mudah. Sering aku pun tidak tahu harus berbuat apa. Meski aku makin yakin bahwa aku tak mungkin memilikinya, namun mengapa aku bahagia dengan cintaku itu? Setidak-tidaknya kucoba memiliki kekayaan yang ada dalam pribadinya: kesabaran, kelembutan, keramahan, dan sikap penuh perhatian."

Tisi menutup kisahnya sambil memperlihatkan rosario pemberian "kakaknya". Aku terhenyak dan terharu. Tak kusangka, Tisi ternyata sungguh sahabatku sejati. Ia mengalami apa yang kualami. Aku dan Tisi sama-sama mencintai orang yang menempuh jalan hidup yang khusus. Tisi mau menjadi perawat karena cintanya. Kini aku mengalami cinta dalam tugasku sebagai perawat. Aku ingin mengatasi cintaku ini sebagaimana Tisi berjuang mengatasi cintanya. Doakan aku, doakan Tisi sahabat sejatiku. Kudoakan dia yang kucintai dan dia yang dicintai Tisi.

Diambil dari buku: Sayur Lodeh Kehidupan: Teman dalam Harapan

Editor: Sindhunata
Penerbit: Kanisius
Cetakan: 1999

 

Informasi Dokter

TELAH BERGABUNG
DI RS PANTI RAPIH

dr. YF. Galuh Retno Anggraeni, Sp.JP

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Jadwal Praktek

Senin pukul 08:00 - 10:00

Rabu pukul 08:00 - 10:00

Kamis pukul 17:00 - 19:00

Jumat pukul 17:00 - 19:00

Ruang 316 - Lantai 3 Rawat Jalan


dr. Gunadi, Ph.D, Sp.BA

Spesialis Bedah Anak

Jadwal Praktek

Kamis pukul 15:00 - 16:00

Sabtu pukul 10:00 - 11:00

Ruang 217 - Lantai 2 Rawat Jalan


Iklan

Polling

Menurut Anda bagaimanakah pelayanan di RS Panti Rapih?
 
Iklan

Katering Gizi

Iklan

Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Yogyakarta, Rumah Sakit Jogja, Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Unggulan Indonesia, Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Panti Rapih, Sahabat Untuk Hidup Sehat, Bedah Urologi terbaik Indonesia, Bedah Urologi Terbaik Jawa, Bedah Urologi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bedah Tulang Ortopedi terbaik Indonesia, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Jawa, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Murah, Rumah Sakit dengan Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Yogyakarta Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Keluarga, Rumah Sakit Tipe A, Rumah Sakit Terakreditasi A, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat Indonesia, Rumah Sakit Unggulan Yogyakarta, Onder de Bogen

www.sapajogja.com