Ortopedik & Traumatologi

RS Panti Rapih melayani penggantian sendi lutut dan pinggul, pelurusan tulang belakang, serta peyambungan tulang.

Urologi

Unit bedah urologi melayani tembak batu ginjal dengan ESWL dan penanganan batu ginjal dengan metode PCNL.

Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan yang bertujuan untuk mengoptimalkan luaran ibu dan bayi dengan pengamatan kehamilan berkelanjutan untuk mencapai “Healthy Mother and Healthy Baby”

testing testing
"Jangan ambil rahimku"

Lima tahun sudah aku menjalani profesi sebagai seorang perawat. Aku suka dengan profesiku ini. Akan tetapi, hatiku kemudian terusik oleh kenyataan bahwa angka kematian ibu hamil dan ibu yang melahirkan di Indonesia begitu tinggi. Hati kecilku sepertinya mendorongku untuk menjadi seorang bidan. Kalau aku menjadi bidan, aku bisa menyumbangkan tenaga dan kemampuanku untuk menolong mereka. Namun, aku sempat ragu: apakah aku mampu?

Bukankah tugas itu sangat berat? Begitu besar tanggung jawab yang harus diemban. Karena boleh dikatakan bahwa dalam tugasnya dua nyawa sekaligus dipercayakan kepada bidan. Apakah aku bisa, apakah aku mampu, menjadi pertanyaan yang memenuhi benak dan hatiku. Namun, pelan-pelan sepertinya ada suara lain yang mengusik hatiku: mengapa aku selalu khawatir, bukankah aku punya Tuhan, punya Yesus dan Bunda Maria yang akan selalu mendampingiku?

Kenapa aku tidak pasrahkan semua ini pada-Nya? Akhir-nya, keragu-raguanku pun hilang berkat tekad yang bulat serta dukungan dari orang-orang yang dekat. Mulailah aku melanjutkan sekolah kebidanan.

Setelah lulus aku segera menjalani profesiku sebagai bidan. Saat pertama kali aku masuk dinas, di bangsal di mana aku ditugaskan, betapa kaget hatiku. Saat itu pasien yang mau melahirkan banyak. Kudengar tangisan para ibu yang mau melahirkan karena menahan kontraksi rahim. Sepertinya aku ikut merasa sakit juga. Aku tidak bisa berbuat banyak kalau pembukaan jalan lahir belum lengkap. Aku hanya bisa mengajak ibu-ibu itu untuk ambil napas panjang dan banyak berdoa agar Tuhan memberi kekuatan serta kelancaran dalam melahirkan. Meski sudah kuberi tahu untuk ambil napas panjang, setiap ada kontraksi rahim mereka berteriak. Ini sungguh membuat aku bingung. Ketika waktu mengejan tiba, kuberi tahu caranya mengejan yang benar. Kadang aku sewot juga melihat mereka tidak betul-betul mengejannya. Ketika bayinya lahir dan menangis ... rasanya seluruh beban yang kutanggung hilang. Yang ada tinggallah rasa kagum. Begitu besarnya Tuhan. Begitu lucunya si bayi, begitu bahagianya si ibu dan si ayah.

Dari hari ke hari tugas demikian kutekuni. Kusadari bahwa setiap pasien datang dengan harapan bisa melahirkan secara normal dan lancar, serta menimang bayi yang sehat. Aku dan rekan-rekanku bekerja semaksimal mungkin untuk mewujudkan harapan itu. Akan tetapi, tidak semua harapan bisa terwujud. Setiap pasien membawa kisah tersendiri. Kisah mereka ternyata adalah kisahku juga. Kalau bayi yang lahir sehat ... kegembiraan si ibu dan keluarganya juga menjadi kebahagiaanku. Tetapi, bila bayi yang lahir tidak sehat ... kesedihan mereka menjadi kesedihanku pula. Untuk membantu mereka yang mau melahirkan, sering aku semalam suntuk membantu proses kelahiran, tidak sempat tidur dan paginya sudah harus dinas lagi. Badan rasanya capai. Akan tetapi, kalau persalinan lancar, bayinya sehat, rasa capai pun segera hilang. Pengorbanan sepertinya tidak sia-sia.

Pada suatu hari saat aku berdinas malam, ada seorang pasien (Bu Han) yang akan melahirkan anak pertama. Umur Bu Han sudah di atas 30 tahun. Aku senang pada waktu Bu Han masuk ke kamar bersalin. Di sela-sela menahan sakitnya, ia masih bisa tersenyum. Tampak sekali harapannya untuk melahirkan secara normal. Proses pembukaan jalan lahir sampai anak lahir berjalan lancar. Anaknya lahir laki-laki. Ibu Han dan suaminya sangat bahagia. Apalagi, bayinya laki-laki seperti yang mereka harapkan. Akan tetapi, setelah bayi dan ari-ari lahir, Bu Han mengalami pendarahan yang cukup banyak. Berbagai upaya segera dilakukan. Pemberian obat-obatan untuk menghentikan pendarahan, menjahit luka yang robek, memasang infus dengan tetesan cepat, tetapi darah terus mengalir cepat. Ibu Han menjadi kekurangan darah banyak sekali. Tekanan darahnya menjadi drop dan kondisinya menjadi sangat lemah ke arah syok. Berbagai upaya untuk menghentikan pendaharannya terus dilakukan. Karena HB- nya tinggal sedikit, langsung dilakukan transfusi darah. Berkantung-kantung darah telah ditransfusikan, tetapi pendarahan belum juga berhenti. Karena kontraksi rahimnya lembek, Bu Han harus sering dimassage. Kalau kondisinya begini terus, jiwa Bu Han bisa terancam. Akhirnya, dokter memutuskan untuk dilakukan operasi hysterectomie (operasi untuk mengangkat/mengambil rahim) saat itu juga.

Aku tahu kemungkinan itu bisa terjadi. Akan tetapi, saat aku mendengar keputusan dokter aku sempat terhenyak juga. Sebagai seorang wanita aku merasakan betapa akan sedihnya Ibu Han, karena rahim bagi seorang wanita adalah juga jati dirinya. Di situ seorang wanita merasakan dirinya sebagai wanita yang mendapat anugerah untuk mengandung. Apalagi, Bu Han sendiri tampaknya masih menginginkan anak lagi. Aku sebagai bidan yang bertugas saat itu menawarkan kepada dokter, bagaimana kalau tidak hysterectomie, mengingat Ibu Han baru punya anak satu. Usul seperti ini perlu disampaikan untuk memberikan masukan kritis agar cara yang ditempuh dalam pengobatan bukan cara yang "paling jauh" (mengambil rahim). Kalau masih ada cara pengobatan lain, kiranya cara itu dulu yang perlu ditempuh. Kemudian dokter bertanya kepada pasien dan suaminya, apakah bersedia diambil rahimnya, agar pendarahan berhenti. Ibu Han dan suaminya menolak untuk operasi apabila masih ada cara lain. "Jangan ambil rahim saya, Dok," begitu kata Ibu Han berulang-ulang dengan suara tersendat-sendat.

Tampaknya dokter kecewa. Akan tetapi, ia menghormati keputusan pasien. Akhirnya, dokter memutuskan untuk tetap memassage pasien agar rahim berkontraksi, sehingga diharapkan darah tidak banyak keluar. Aku begitu senang dengan keputusan bahwa Ibu Han tidak jadi dioperasi. Sebagai konsekuensinya aku harus memassage rahim Ibu Han terus-menerus. Di samping itu, juga harus mengompresnya dengan es. Aku pun harus memasukkan obat-obatan sesuai dengan jadwalnya dan memasang infus lagi untuk transfusi darah. Aku melakukan itu semalam suntuk. Memassage, mengompres, memasukkan obat, mengontrol tekanan darah, mengawasi pendarahannya, dan mengawasi keadaan secara umum. Tanganku sampai dingin dan capai sekali. Sambil melakukan semua itu, aku berdoa. Aku pun meminta kepada Ibu Han dan suaminya untuk berdoa. Sesekali kuminta adik perawat yang sama-sama jaga malam menggantiku memassage. Suaminya pun kulibatkan dengan mengajarinya terlebih dahulu.

Malam itu sungguh menjadi malam yang sangat melelah-kan. Apalagi yang jaga pada waktu itu hanya aku dan dua adik perawat. Padahal, tugasnya tidak hanya melayani Ibu Han. Aku dan dua temanku masih harus mengawasi ibu-ibu lain Save yang baru saya melahirkan. Beberapa dari mereka belum bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Yang satu memencet bel meminta bantuan untuk buang air kecil, yang lain minta diganti pembalutnya. Ada yang mengeluh kesakitan pada jahitannya dan minta obat. Ada yang bingung karena payudaranya membengkak dan minta dikompres atau di-massage. Selain itu, kami masih harus merawat bayi-bayi yang jumlahnya tidak sedikit. Bayi-bayi itu entah mengapa secara bergantian menangis. Ada yang ngompol, ada yang lapar, ada yang minta ditimang-timang, atau "minta" diantar kepada ibunya untuk disusui. "Ya Tuhan, semoga Engkau memberi kesabaran dan kesehatan kepadaku dan kedua temanku agar kami kuat melayani mereka."

Malam yang rasanya berjalan begitu pelan baru kusadari telah berganti pagi saat kudengar kicauan burung dan sinar matahari kemerahan mengintip lewat sela-sela jendela. Aku masih tetap melakukan massage pada rahim Ibu Han. Darah yang ditambahkan masih menetes lewat slang infus. Rasa syukurku mulai menjalari diriku saat kulihat secara berangsur-angsur darah yang keluar dari rahim Ibu Han berkurang. Wajah Ibu Han yang tadi malam pucat bak kapas, kini mulai kelihatan memerah dan mulai tampak segar, meskipun agak sembab karena banyaknya cairan yang masuk ke tubuh Ibu Han.

"Ibu Han, selamat ya! Darah yang keluar tinggal sedikit. Ibu telah melewati masa yang sangat kritis."

"Terima kasih, Suster. Tanpa bantuan Suster, saya tidak mungkin seperti ini," katanya penuh haru.

Suami Ibu Han pun berkali-kali mengucapkan terima kasih. Aku menjadi agak sedikit kikuk. "Pak Han dan Bu Han, berterima kasihlah kepada Tuhan karena Tuhanlah yang telah menyembuhkan dan menyelamatkan rahim Ibu. Kami ini hanya sekadar membantu saja," hanya itu yang bisa muncul dari mulutku.

Setelah datang teman-teman yang menggantikan tugasku, aku dan dua teman jaga malam pulang ke asrama. Aku merasa begitu capai. Akan tetapi, ada rasa bahagia yang dalam me-nyelimuti hatiku. Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan. Ia telah melakukan mukjizat dengan menyelamatkan rahim Ibu Han. Rahim di mana seorang anak manusia mendapatkan kasih sayang yang tiada tara. Ia telah memakai aku untuk membantu menyelamatkan rahim yang begitu mulia itu.

Diambil dari buku: Sayur Lodeh Kehidupan: Teman dalam Harapan



Editor: Sindhunata
Penerbit: Kanisius
Cetakan: 1999

 

 

Informasi Dokter

TELAH BERGABUNG
DI RS PANTI RAPIH

dr. Kalista Yuniar, SpKK

Dokter Spesialis Kulit & Kelamin

Jadwal Praktek

Selasa pukul 07.00 - 08.00

Kamis pukul 07.00 - 08.00

Jumat pukul 07.00 - 08.00

Ruang 512 Lantai 5
Instalasi Rawat Jalan

dr. Johanes Britto Suharjo Brata Cahyono, Sp.PD-KGEH

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jadwal Praktek

Senin pukul 09.00 - 11.00

Rabu pukul 10.00 - 12.00

Jumat pukul 09.00 - 11.00

Ruang 519 Lantai 5
Instalasi Rawat Jalan

Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp.A

Dokter Spesialis Penyakit Anak

Jadwal Praktek

Rabu pukul 12.00 - 14.00

Ruang 315 Lantai 3
Instalasi Rawat Jalan

dr. Vita Yanti Anggraeni, Sp.PD., Sp.JP

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jadwal Praktek

Kamis pukul 16.00 - 17.30

Sabtu pukul 13.00 - 15.00

Ruang 514 Lantai 5
Instalasi Rawat Jalan

Iklan

Pendaftaran Online

Iklan

Informasi Kamar

Iklan

Polling

Menurut Anda bagaimanakah pelayanan di RS Panti Rapih?
 

Katering Gizi

Iklan
Iklan
Iklan

Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Yogyakarta, Rumah Sakit Jogja, Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Unggulan Indonesia, Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Panti Rapih, Sahabat Untuk Hidup Sehat, Bedah Urologi terbaik Indonesia, Bedah Urologi Terbaik Jawa, Bedah Urologi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bedah Tulang Ortopedi terbaik Indonesia, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Jawa, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Murah, Rumah Sakit dengan Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Yogyakarta Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Keluarga, Rumah Sakit Tipe A, Rumah Sakit Terakreditasi A, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat Indonesia, Rumah Sakit Unggulan Yogyakarta, Onder de Bogen

www.pantirapih.or.id