Ortopedik & Traumatologi

RS Panti Rapih melayani penggantian sendi lutut dan pinggul, pelurusan tulang belakang, serta peyambungan tulang.

Urologi

Unit bedah urologi melayani tembak batu ginjal dengan ESWL dan penanganan batu ginjal dengan metode PCNL.

Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan yang bertujuan untuk mengoptimalkan luaran ibu dan bayi dengan pengamatan kehamilan berkelanjutan untuk mencapai “Healthy Mother and Healthy Baby”

testing testing
Namanya Huru-Hara

Suatu sore, Mei 2003, saya sedang membersihkan ruang poli kebidanan Rumah Sakit Panti Rapih (RSPR) sebagai Pekarya Rumah Tangga (PRT). Tiba-tiba datang seorang gadis belia menghampiri saya. Matanya sembab habis me-nangis dan masih tersisa air mata tergenang di sudut matanya. Wajahnya kuyu, tampak kelelahan seperti sedang menanggung beban berat. Seri kesegaran dari kemudaannya nyaris tak tersisa. "Ada apa Mbak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya saya membuka komunikasi. "Anu ... e ... apakah Ibu mau merawat anak saya?" katanya terbata- bata. "Apa? Merawat anak?" tanya saya untuk meyakinkan. Dia hanya mengangguk dan menangis. Saya pegang pundaknya, saya persilakan duduk, dan saya ambilkan segelas teh manis, agar ia lebih tenang. Setelah agak tenang, mulailah ia bercerita.

Sebut saja namanya Bunga. Ia putri seorang perwira polisi, mahasiswi semester dua sebuah PTS di Yogyakarta. Karena lepas kontrol dalam pergaulan dengan teman kuliahnya, sebut saja Bogel, maka ia hamil. Mau menyam-paikan pada orangtua tentang keadaannya, ia takut. Mau HP menggugurkan kandungannya, ia juga takut. Maka dengan sembunyi-sembunyi, ia pelihara kandungan tersebut sampai akhirnya riba saatnya melahirkan di RSPR. Masalah baru timbul, bagaimana merawat bayi itu selanjutnya? Dalam kebingungan, katanya ia sempat minta tolong kepada beberapa perawat dan bidan. Beberapa saran pun telah diberikan kepadanya. Salah satunya, "Coba Mbak Bunga ketemu sama Bu Tri, barangkali ia bisa membantu."

Saran itulah yang mempertemukan saya dengan Bunga, ibu muda yang sedang kebingungan, dengan status yang baru yang tidak dikehendaki, karena belum siap. Saya tidak tahu persis alasan mengapa ibu bidan itu menyarankan Bunga menemui saya, tapi saya juga tidak menanyakannya. Mungkin bu bidan itu memperhatikan saya sering membantu pasien dan keluarganya yang kesulitan, mulai sekadar menyapa, menunjukkan kamar kecil, memberikan air putih atau teh bagi yang membutuhkan. Bahkan beberapa kali saya memberi tumpangan untuk pasien dan keluarganya yang kemalaman, karena dokter menunda atau tidak praktik, sehingga harus datang keesokan harinya, padahal rumahnya jauh dan keuangannya terbatas.

Saya tidak tahu mengapa saya mudah iba kalau melihat orang yang kesusahan. Mungkin karena saya sendiri orang susah atau tepatnya orang susah yang merasakan pertolongan Tuhan melalui orang-orang di sekitar saya. Pertolongan Tuhan itu sungguh saya rasakan ketika tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya Januari 1979, saya diterima di RSPR. Waktu itu saya adalah ibu muda yang ditinggal pergi suami dan harus menghidupi dua anak yang masih kecil-kecil, yang pertama berumur tiga tahun, yang kedua berumur satu tahun. Istilah kerennya single parent. Bukan karena pilihan, tetapi karena terpaksa. Berawal dari bekerja di RSPR inilah berkat dan pertolongan Tuhan saya rasakan terus mengalir sampai saat ini, misalnya Sr. Yohani CB yang mengajari sekaligus menguji kemampuan saya untuk menyapu dan ngepel lantai atau senior saya, para pekarya, dengan caranya sendiri mendidik atau mlonco saya dalam bermacam-macam pekerjaan yang kadang terasa "sadis". Bagaimana tidak, wong lantai sudah dipel bersih malah diguyur air lagi sehingga saya harus ngepel ulang. Tetapi dengan macam-macam peristiwa itulah saya merasa sungguh dididik dan dapat belajar tentang kerja dan kehidupan yang sesungguhnya.

Pekerjaan saya memang sederhana, menyapu, mengepel, menyiapkan minum, dan mencuci piring-gelas. Pernah juga saya bekerja di apotek, tentu juga pekerjaan- pekerjaan sederhana, seperti nggerus obat, membungkus obat, dan tentu saja juga pekerjaan rumah tangga seperti biasa. Pekerjaan sederhana bukan berarti ringan, karena justru pekerjaannya selalu saja ada, tak ada habisnya. Tetapi semua itu saya kerjakan dengan senang hati, karena saya sadar melalui pekerjaan inilah saya dapat menghidupi keluarga saya. Tidak hanya itu, saya juga dapat membiayai sekolah anak saya sampai menjadi sarjana dan sekarang sudah dapat mandiri.

Tentu perjalanan hidup saya tidak lepas dari berbagai kesulitan dan cobaan. Kesulitan besar saya rasakan ketika anak kedua saya harus menjalani operasi berkali-kali, karena ada persoalan dengan saluran kencing. Tak terhitung biaya yang harus saya keluarkan, hampir seluruh gaji saya habis untuk membiayai pengobatan. Tetapi dalam peristiwa itu juga saya merasakan pertolongan dan dukungan dari teman-teman yang tak ternilai harganya. Mulai sekadar sapaan penghiburan, dukungan doa, sampai donor darah dari teman-teman karyawan di RSPR. Saya sungguh merasakan kasih persaudaraan yang tidak membeda- bedakan di tempat ini. Itu semua saya rasakan dan perjuangkan di Rumah Sakit Panti Rapih dan tentu saja juga dengan dukungan suami saya yang sekarang ini. Sejak tahun 1984 saya menikah di gereja dan sampai saat ini suami tetap setia mendampingi saya.

Kembali soal Bunga dengan anaknya tadi, saya juga hanya mendengarkan keluhannya, memberikan minum dan memberikan saran yang biasa-biasa saja. "Coba dibicarakan secara terbuka dengan orangtua, kalau tetap tidak bisa, anak bisa diserahkan ke panti asuhan," saran saya. Tetapi Bunga tak bergeming. Ia takut pada orangtua- nya, tetapi juga tidak mau menyerahkan anaknya ke panti asuhan, meskipun saya janjikan untuk mempertemukan dengan suster yang dapat membantu bayi tersebut masuk ke panti asuhan. Sambil menangis, dia tetap minta saya untuk bersedia mengambil dan merawat bayi tersebut. "Wah,piye iki (Bagaimana ini?)" tanya saya. Tapi sejenak saya mendapat inspirasi, saya harus bicara dengan anggota keluarga saya. "Sudah Mbak. Sekarang kembali ke ruang perawatan dulu, nanti saya hubungi," kata saya mencoba meyakinkan.

Setelah Bunga kembali ke ruangan, cepat-cepat saya hubungi keluarga saya, menjelaskan persoalannya, dan menanyakan apa yang harus dilakukan. Anak perempuan saya, yang seusia dengan Bunga, memberi jalan keluar, "Sudahlah Bu, kita tolong dulu, nanti yang lain kita bicarakan kemudian." Akhirnya, kami sekeluarga sepakat untuk menerima anak itu. Berdasarkan kesepakatan, saya menemui Bunga dan memastikan lagi apakah dia sungguh
yakin menyerahkan anaknya kepada saya. Bunga tetap pada pendiriannya. Tapi belajar dari beberapa kasus tentang penyerahan anak yang sering menjadi" masalah, saya minta Bunga membuat surat penyerahan dengan meterai dengan disaksikan Bogel, ayah dari bayi tersebut. Resmilah bayi itu diserahkan kepada saya.

Apakah masalah selesai? Ternyata tidak. Ketika malam hari selesai dinas, saya dijemput suami dan anak, sekaligus menjemput bayi tersebut, terjadilah moment yang membuat drama Bunga dan bayinya harus berlanjut. Waktu Bunga menyerahkan anaknya, saya masih sempat bertanya, "Betul kamu sudah ikhlas menyerahkan anakmu untuk saya asuh?" Dengan berusaha meyakinkan dia menjawab, "Sudah Bu. Saya sudah betul-betul rela dan ikhlas!" Tetapi saya menangkap beban yang berat ketika Bunga mengatakan hal itu karena kulihat air matanya yang terus mengalir. "Ya, sudah. Sekarang, peluk dan cium anakmu sebagai tanda perpisahan!" Dipeluk dan diciumnya berkali-kali anaknya, dan cepat-cepat menyerahkan bayi itu kepada saya, seolah ingin peristiwa itu segera berlalu. Dengan cepat pula saya terima bayi itu dan saya cium Bunga, seperti saya mencium anak saya sendiri. Baru beberapa langkah saya tinggalkan Bunga, terdengar tangisnya meledak. Saya berhenti dan menoleh, saya lihat Bunga menangis di pelukan Bogel. "Mbok diajak ke rumah sekalian aja Bu, kasihan dia," bisik anak saya mengejutkan saya. "Diajak? Lha, terus mengkopije?" saya balik bertanya. "Ya sudah, diajak dulu ke rumah. Nanti kalau sudah tenang, kita bicarakan lagi," anak saya menjelaskan. "Ya sudah, kalau karep-mu begitu!" saya menyetujui usul anak saya. Dalam hati saya bersyukur dan bangga pada anak saya yang mempunyai kepedulian kepada orang yang jj) sedang menderita.

Singkat kata, mulai hari itu keluarga saya bertambah tiga orang: Bunga, Bogel, dan bayi mereka. Untuk mengikuti tata cara hidup bermasyarakat, beberapa hari kemudian saya melaporkan kehadiran tiga orang tersebut kepada pengurus RT dan RW setempat, sekaligus mengadakan kenduri kecil-kecilan. Secara resmi bayi tersebut saya angkat menjadi anak dan saya beri nama Huru-hara dengan nama panggilan Rara. Dinamakan Huru-hara, karena sejak kehadirannya keluarga saya tambah ramai. Tidak saja ramai karena tawa dan tangis bayi, tetapi juga konflik-konflik, antar keluarga saya, antara Bunga dengan Bogel, antara Bunga dengan keluarga saya, dan seterusnya. Mulai dari konflik kecil sampai konflik yang besar. Pokoknya heboh! Maka Huru-hara menjadi pilihan nama, meskipun saya tahu itu tidak lazim.

Huru-hara itu belum selesai. Entah dari mana informasi didapat, akhirnya ayahnya Bunga, seorang perwira polisi, mengetahui bahwa anaknya yang diharapkan sukses dalam studi, ternyata malah mencorengkan aib pada keluarga. Bukan gelar kesarjanaan yang diperoleh, tetapi anak di luar nikah yang didapat. Mereka marah besar kepada anaknya dan juga kepada Bogel yang dianggap telah merusak anaknya. Demikian juga orangtua Bogel, yang seorang kontraktor, datang dengan kemarahan yang sama. Menghadapi kedua orangtua yang kecewa dan marah itu, saya hanya bisa mendengarkan, kemudian menjelaskan bahwa saya hanya berusaha membantu, di samping itu saya menyarankan agar untuk sementara kedua anak itu ada di rumah saya.

Mulai saat itu kedua pasang orangtua itu sering datang ke rumah untuk menengok anaknya dan cucunya, Rara. Sampai pada suatu saat terjadilah huru-hara yang sesungguhnya. Bapak Perwira Polisi dan Bapak Kontraktor bertengkar mulut memperebutkan Rara. Masing-masing merasa paling berhak untuk mengasuh Rara. "Ini cucu saya, karena anak saya yang melahirkan, maka biarlah kami yang mengurus dan membesarkannya," Pak Perwira berteriak. "Ini cucu saya, karena anak saya sebagai laki- laki, sebagai bapaknya, yang harus bertanggung jawab dan saya sanggup membiayai anak ini sampai besar," sergah Pak Kontraktor tak kalah sengit. Perang mulut berkepanjangan tak ada yang mau mengalah untuk memperebutkan Rara. Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba saya berdiri di antara mereka dan saya katakan dengan tegas, "Bapak-bapak yang terhormat, yang paling berhak atas anak ini adalah kedua orangtuanya. Secara resmi, tertulis, mereka telah menyerahkannya kepada saya. Dan sayalah yang selama ini telah membiayai hidupnya. Saya sudah mencintai anak ini sebagaimana anak saya sendiri. Maka bapak-bapak tidak dapat mengambil anak ini begitu saja. Sekarang yang paling berhak atas anak ini adalah saya!"

Suasana menjadi hening, tidak ada yang membantah. Kemudian saya lanjutkan, "Tetapi, saya tidak mau menguasai anak ini. Saya hanya sekadar menolong! Kalau bapak-bapak menginginkan Rara, ada syaratnya, Bunga dan Bogel harus dinikahkan terlebih dahulu. Dengan demikian, bapak-bapak tidak perlu memperebutkan cucu, karena secara otomatis Rara adalah cucu bapak-bapak." Gumam dan hembusan napas lega terdengar dari kedua belah pihak. Suasana menjadi cair dan cerah, secerah sinar matahari yang menghalau kabut pagi.

Beberapa minggu kemudian, setelah melalui pembicaraan yang intensif dan penuh persaudaraan, di sebuah kota di Jawa Tengah bagian selatan dilangsungkan pernikahan meriah antara Bunga dan Bogel. Kami sekeluarga juga diundang dan difasilitasi untuk hadir dalam pesta tersebut. Tetapi, karena, terus terang, berat untuk me-lepaskan Rara, saya hanya mengantarnya dan cepat-cepat pulang. Saya melihat Rara sangat bahagia di tengah keluarga besarnya. Demikian juga calon mempelai tampak bahagia menjelang hari pernikahannya. Meskipun ada rasa kehilangan, saya merasa lebih bahagia melihat kebahagiaan mereka. Saya merasa yakin, tempat yang paling tepat bagi Rara adalah di antara kedua orangtuanya dan tentu saja di antara kedua kakek dan nenek yang menyayanginya.

Tak terasa pertiwa itu sudah lewat enam tahun yang lalu. Sampai sekarang saya masih menjalin komunikasi dengan mereka. Kabar terakhir, Bunga dan Bogel telah menyelesaikan studinya, bahkan sudah bekerja dan mandiri. Rara tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu. Ia
tetap dipanggil Rara. Saya tidak tahu di dalam akta kelahiran ditulis siapa namanya dan saya tidak ingin menanyakannya. Tetapi, seandainya saya dimintai pendapat, saya mengusulkan namanya adalah "Damai Sejahtera" dan tetap dapat dipanggil Rara.

 


Ditulis oleh: M.V. Tri Nurhayati
Sumber: Ibu Estri Utami

Disarikan dari buku "Hidup adalah Sang Fajar - Kisah Para Pelayan Kesehatan"
Editor: dr. Andry Hartono
Terbitan: RS Panti Rapih
Cetakan: Kanisius 2009

 

Informasi Dokter

TELAH BERGABUNG
DI RS PANTI RAPIH

dr. Kalista Yuniar, SpKK

Dokter Spesialis Kulit & Kelamin

Jadwal Praktek

Selasa pukul 07.00 - 08.00

Kamis pukul 07.00 - 08.00

Jumat pukul 07.00 - 08.00

Ruang 512 Lantai 5
Instalasi Rawat Jalan

dr. Johanes Britto Suharjo Brata Cahyono, Sp.PD-KGEH

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jadwal Praktek

Senin pukul 09.00 - 11.00

Rabu pukul 10.00 - 12.00

Jumat pukul 09.00 - 11.00

Ruang 519 Lantai 5
Instalasi Rawat Jalan

Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp.A

Dokter Spesialis Penyakit Anak

Jadwal Praktek

Rabu pukul 12.00 - 14.00

Ruang 315 Lantai 3
Instalasi Rawat Jalan

dr. Vita Yanti Anggraeni, Sp.PD., Sp.JP

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jadwal Praktek

Kamis pukul 16.00 - 17.30

Sabtu pukul 13.00 - 15.00

Ruang 514 Lantai 5
Instalasi Rawat Jalan

Iklan

Pendaftaran Online

Iklan

Informasi Kamar

Iklan

Polling

Menurut Anda bagaimanakah pelayanan di RS Panti Rapih?
 

Katering Gizi

Iklan
Iklan
Iklan

Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Yogyakarta, Rumah Sakit Jogja, Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Unggulan Indonesia, Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Panti Rapih, Sahabat Untuk Hidup Sehat, Bedah Urologi terbaik Indonesia, Bedah Urologi Terbaik Jawa, Bedah Urologi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bedah Tulang Ortopedi terbaik Indonesia, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Jawa, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Murah, Rumah Sakit dengan Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Yogyakarta Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Keluarga, Rumah Sakit Tipe A, Rumah Sakit Terakreditasi A, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat Indonesia, Rumah Sakit Unggulan Yogyakarta, Onder de Bogen

www.pantirapih.or.id