Ortopedik & Traumatologi

RS Panti Rapih melayani penggantian sendi lutut dan pinggul, pelurusan tulang belakang, serta peyambungan tulang.

Urologi

Unit bedah urologi melayani tembak batu ginjal dengan ESWL dan penanganan batu ginjal dengan metode PCNL.

Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan yang bertujuan untuk mengoptimalkan luaran ibu dan bayi dengan pengamatan kehamilan berkelanjutan untuk mencapai “Healthy Mother and Healthy Baby”

testing testing
Terima Kasih Mama

Aku baru menginjak umur dua puluh tahun saat ditugaskan melayani pasien di bangsal Puspita (Pusat Spiritualitas), bangsal khusus penyakit bedah dan penyakit dalam yang disediakan bagi para pasien yang mengalami kesulitan dana.


Pagi itu aku mendapat tugas merawat pasien di kamar dua, mulai dari memandikan pasien, membersihkan tempat tidur, mengganti verband, merawat luka, memberikan obat, dan mendokumentasikan tindakan keperawatan yang telah kulakukan.

Ada empat pasien yang dirawat di kamar dua, dua diantaranya sudah cukup kuat untuk membersihkan badan di kamar mandi, sehingga aku tinggal memandikan dua pasien lainnya. Kulangkahkan kaki menuju bed paling ujung, tempat seorang bocah jalanan yang menjadi korban tabrak lari semalam. "Selamat pagi Mas Dedek," sapaku menyemangati bocah lelaki dekil yang masih tergeletak lemas di atas bed-nya. Tubuhnya kotor dan bau. Pasir- pasir kecil bercampur darah kering masih lekat di kedua kaki mungilnya. Anak itu tak segera menjawab salamku. Ia malah membalikkan badan menghadap dinding, mem- belakangiku, seakan tak mau memandang wajahku.

"Selamat pagi, Nak," aku mengulang salamku. Ku- jamah lengan yang dikatupkan menutupi sebagian wajah dan daun telinganya. Kini aku bisa memandang wajah Dedek lebih jelas. Matanya sembab dan kedua belah pipinya basah karena air mata. Sejenak, setelah sadar ada orang yang memperhatikannya, Dedek segera menarik selimut lurik membungkus tubuhnya. Dikibaskannya tanganku yang memegang lengannya. Kurasa ia mulai terusik karena kehadiranku.

"Ya sudah, Suster memandikan bapak yang di sebelah dulu ya. Nanti kalau Mas Dedek butuh sesuatu, silakan panggil saya. Nama saya Suster Tri," kataku menenangkan hatinya. Dengan segera kuayunkan kaki menjauhi bocah itu seorang diri. Kuselesaikan dulu tugasku untuk memandikan pasien yang lain sebelum kembali mencoba memasuki benteng ketertutupan si Dedek yang belum berhasil kutembus.

Ketika aku datang mendekati Dedek untuk kedua kalinya, bocah itu tak lagi menangis, meski badannya masih menghadap ke dinding dan wajahnya pun masih tertutup selimut. "Mas Dedek, mandi sekarang ya," bujukku lagi. Bocah kecil itu tak segera menjawab tawaranku, hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Segera kusiapkan perlengkapan mandi. Akan tetapi, ketika kucari baju ganti di lemari kecil yang terletak di samping tempat tidurnya, aku tak dapat menemukan apa-apa. "Mas Dedek tidak dibawakan baju ganti, ya?" tanyaku. Anak itu hanya memberi isyarat padaku dengan menggelengkan kepalanya. Matanya tampak sedih bercampur bingung. Melihat reaksi pasienku, aku sadar bahwa pertanyaanku telah membuatnya bingung harus berbuat apa. Aku sungguh merasa iba bercampur haru. "Ya sudah, tidak apa-apa.
Nanti setelah mandi Mas Dedek pakai baju rumah sakit saja ya," kataku memberi solusi sambil terus berusaha menjaga perasaan pasienku. Mendengar itu, Dedek hanya diam, wajahnya yang tanpa ekspresi kuterjemahkan sendiri sebagai tanda persetujuannya.

Aku pun mulai memandikannya, membasuh kulit tubuhnya yang lengket karena keringat dan debu, menye-garkannya dengan sabun mandi lalu menyekanya dengan air hangat. Kubersihkan pula luka-lukanya yang tersamar di balik lelehan darah kering dan butir-butir pasir yang menempel di atasnya dengan air hangat. Sesekali anak itu meringis menahan perih. Untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit, kuajak dia berbincang ringan. Namun, kurasa aku harus sedikit tebal muka saat itu, sebab setiap jurus yang kukeluarkan dari perbendaharaan kata-kataku untuk menarik perhatian Dedek, tak sedikit- pun ia tanggapi. Bahkan tak sedetikpun ia mau menatap wajahku. Syukurlah aku tahu sedikit tentang latar belakang Dedek untuk membantuku memahami kondisi batinnya. Tantangan itu justru mendorong aku untuk terus berupaya agar Dedek merasa disapa, diperhatikan, dan dimanusiakan.

Badan Dedek terlihat lebih segar setelah dibersihkan. Segera kusiapkan sarapan untuknya. Pagi itu Dedek hanya mau makan empat suap. Setelah selesai makan, aku mulai membersihkan luka-lukanya dari segala kotoran yang masih melekat pada jaringan kulit yang rusak. Pelan-pelan kulepaskan plester dan gaas yang melekat di kulit tubuhnya. Aku tahu tindakan keperawatan ini tentu menyakitinya, tetapi tanpa hal itu luka-luka Dedek tak akan cepat sembuh. Sesekali kuguyur luka-lukanya dengan cairan I isotonis untuk mengurangi rasa sakit pada waktu plester
dan verband kuangkat. Sambil melakukan itu semua, aku bersenandung kecil untuk mengurangi ketegangan situasi. "Kalau sakit bilang ya, Mas," kataku yang kulanjutkan dengan tiupan lembut pada luka Dedek. Perawatan ini berlangsung cukup lama dan melelahkan karena luka di tubuh Dedek cukup banyak, padahal komunikasi yang kubangun tidak mendapat respons yang baik.

Tak terasa sudah tiga hari aku merawat Dedek. Selama tiga hari itu pula tak pernah kujumpai anggota keluarga Dedek yang datang menjenguk atau menemaninya di rumah sakit. Karena keprihatinan itulah, aku memberinya ekstra perhatian dan sapaan supaya ia tidak merasa semakin terkucil dan kesepian. Pagi itu, aku mulai mendapat respons positif dari pasien spesialku ini. Dedek mulai membuka diri dan mau bercerita tentang dirinya.

Selama ini Dedek tinggal sebatangkara, ia hidup di jalanan, berpindah dari satu bangjo (lampu abang ijo ungkapan bahasa Jawa untuk menyebut lampu lalu lintas) ke bangjo lainnya untuk mengamen. Uang hasil mengamen itu ia gunakan untuk membeli makanan. Jika malam tiba, Dedek hanya bisa membaringkan tubuhnya yang penat setelah mengamen di depan emperan toko. Kedua orangtua Dedek sudah lama berpisah, adiknya yang masih kecil dirawat olah pamannya yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu, sedang ia sendiri memilih menjadi seorang pengamen dan hidup menggelandang sebagai anak jalanan.

Syukurlah, hari demi hari, jalinan komunikasi kami semakin akrab. Dengan senang hati, setiap hari aku me-mandikannya, merawat luka-lukanya, menyuapinya dan menemaninya latihan berjalan menggunakan walker. Entah mengapa setiap hari aku selalu ingin merawatnya.
Ada kebahagiaan tersendiri dalam hatiku ketika aku boleh melihat senyum di bibirnya. Aku sempat merasa heran pada diriku sendiri. Semula akulah yang berusaha keras untuk menarik perhatiannya, tetapi sekarang justru dialah yang telah menarik perhatianku. Hidup prihatin yang dijalani Dedek menyentuh hatiku sedemikian rupa sampai- sampai aku rela menyempatkan waktu di luar waktu dinasku untuk sekadar menjenguk dan menyapa Dedek.

Semakin hari kehadiran Dedek tak hanya berarti bagiku, tetapi juga bagi teman perawat yang mulai akrab dengannya. Sesekali kami mengajaknya ngobrol sambil membawakan keripik ketela atau penganan kecil kesuka-annya. Para perawat bangsal Puspita yang semakin terbiasa dengan kehadiran Dedek pun sudah semakin terbiasa dengan rutinitas harian yang harus dia lalui, yakni merasakan sakit saat kami membersihkan dan merawat luka-lukanya.

Pada hari keempat belas, Dedek sudah diizinkan pulang. Yayasan Sosial Sugijopranoto (YSS) yang dikelola oleh para imam dan frater Jesuit berkenan memberikan tumpangan bagi Dedek yang sebatangkara itu. Aku meng-antar Dedek dengan menggunakan kursi roda sampai di depan pintu gerbang depan rumah sakit tempat mobil YSS menjemputnya. Sesaat setelah kuhentikan kursi rodanya, Dedek meraih tanganku dan menggenggamnya erat- erat. Setelah itu, ia mencium tanganku dan menempelkan punggung telapak tanganku di pipinya sambil berkata lirih, "Terima kasih, Mama." Mendengar bisikan itu sontak hatiku bergetar karena haru, kulihat air mata mulai membasahi kedua pipi Dedek.

Aku sadar, sekian tahun lamanya Dedek merindukan sentuhan seorang ibu di dalam hidupnya. Hati keibuanku ikut menangis merasakan kepedihan dan kerinduan hati bocah lelaki kecil itu. Kuelus kepalanya sambil kubisikkan di telinganya, "Dedek, kamu harus menjadi orang yang baik ya." Tak lama setelah itu, mobil penjemput dari YSS tiba. Dedek segera dibantu masuk ke dalam mobil yang akan membawanya menuju tempat tinggalnya yang baru.

Aku masih berdiri termenung di depan pintu gerbang memandangi mobil yang membawa "anakku" Dedek sampai mobil itu menghilang di kejauhan. Dalam hati aku bersyukur karena di tempat ini aku boleh berbagi perhatian dan kasih yang ternyata mampu menumbuhkan harapan dan semangat bagi orang lain yang kulayani.

Ditulis oleh: M.V. Tri Nurhayati


Disarikan dari buku "Hidup adalah Sang Fajar - Kisah Para Pelayan Kesehatan"
Editor: dr. Andry Hartono
Terbitan: RS Panti Rapih
Cetakan: Kanisius 2009

 

Informasi Dokter

TELAH BERGABUNG
DI RS PANTI RAPIH

dr. Kalista Yuniar, SpKK

Dokter Spesialis Kulit & Kelamin

Jadwal Praktek

Selasa pukul 07.00 - 08.00

Kamis pukul 07.00 - 08.00

Jumat pukul 07.00 - 08.00

Ruang 512 Lantai 5
Instalasi Rawat Jalan

dr. Johanes Britto Suharjo Brata Cahyono, Sp.PD-KGEH

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jadwal Praktek

Senin pukul 09.00 - 11.00

Rabu pukul 10.00 - 12.00

Jumat pukul 09.00 - 11.00

Ruang 519 Lantai 5
Instalasi Rawat Jalan

Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp.A

Dokter Spesialis Penyakit Anak

Jadwal Praktek

Rabu pukul 12.00 - 14.00

Ruang 315 Lantai 3
Instalasi Rawat Jalan

dr. Vita Yanti Anggraeni, Sp.PD., Sp.JP

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jadwal Praktek

Kamis pukul 16.00 - 17.30

Sabtu pukul 13.00 - 15.00

Ruang 514 Lantai 5
Instalasi Rawat Jalan

Iklan

Pendaftaran Online

Iklan

Informasi Kamar

Iklan

Polling

Menurut Anda bagaimanakah pelayanan di RS Panti Rapih?
 

Katering Gizi

Iklan
Iklan
Iklan

Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Yogyakarta, Rumah Sakit Jogja, Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Unggulan Indonesia, Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Yogyakarta, Peringkat Rumah Sakit Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Panti Rapih, Sahabat Untuk Hidup Sehat, Bedah Urologi terbaik Indonesia, Bedah Urologi Terbaik Jawa, Bedah Urologi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bedah Tulang Ortopedi terbaik Indonesia, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Jawa, Bedah Tulang Ortopedi Terbaik Yogyakarta dan Jawa Tengah, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Yogyakarta, Rumah Sakit Klinik Ibu dan Anak Terbaik Indonesia, Rumah Sakit Murah, Rumah Sakit dengan Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Yogyakarta Pelayanan Terbaik, Rumah Sakit Keluarga, Rumah Sakit Tipe A, Rumah Sakit Terakreditasi A, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat, Rumah Sakit Unggulan Masyarakat Indonesia, Rumah Sakit Unggulan Yogyakarta, Onder de Bogen

www.pantirapih.or.id